
Elang cemas sambil menyentuh perutnya, "Hah, perutku buncit."
Saat di pegang ternyata buncit sedikit tapi tetap saja itu membuatnya cemas.
"Ini gara-gara kau, aku di suruh makan sisa mu." kata Elang menuding Hafsa.
"Kenapa kau menyalahkanku? kau juga yang mau kan." balas Hafsa sewot.
"Hah.. aku harus berolahraga malam ini." kata Elang kemudian.
"Malam-malam olahraga, kayak tidak ada besok saja." ujar Hafsa tidak mengerti jenis olahraga yang dimaksud Elang.
Elang tersenyum miring, "Aku tidak ingin besok, aku ingin malam ini dan itu juga di lakukan bersamamu."
"Aku tidak mau untuk apa aku olahraga malam lebih baik tidur." Hafsa masih belum menyadari.
"Olahraga ini selain menyehatkan juga sangat nikmat dan membuat ketagihan apalagi dengan suaranya." Elang berbisik dengan suara paraunya.
Hafsa melongo baru menyadari ternyata olahraga yang di maksud adalah olahraga intim.
"Eh.. Kak Elang boleh tidak olahraganya besok saja aku lagi... lagi apa yah?" Hafsa malah seperti orang bodoh membuat Elang gemas.
"Kau tidak perlu beralasan lagi, kau tau kau juga berbohong padaku."
"Ah aku bohong apa?" Hafsa cemas sambil menggigit kuku jarinya.
Elang kemudian mengambil sesuatu di saku jaketnya dan memperlihatkan pada Hafsa.
Hafsa tentu saja terkejut, ternyata hasil USG yang ada ditangan Elang, bagaimana bisa ada di Elang? kapan mengambilnya? pikirnya begitu.
__ADS_1
"Kenapa hasil USG ini ada pada dirimu?" tanya Hafsa sambil merebut foto itu.
"Aku Elang sangat mudah hanya untuk mengambil foto itu." lalu Elang mendekatkan wajahnya pada Hafsa yang gugup karena ketauan berbohong.
"Kau ingin menyembunyikan ini dariku." lanjut Elang dengan wajah dinginnya.
"A-ku tidak bermaksud bejrbohong apalagi menyembunyikan." ucap Hafsa terbata.
"Lalu apa maksudnya ini?" tanya Elang lagi sambil menyandarkan tubuhnya.
"Aku.. aku.. hanya ingin memastikan dulu baru memberi tahumu."
"Oh jadi sekarang bagaimana hasilnya?" meski Elang sudah tau namun dia tetap ingin tau dari mulut istrinya.
"A- aku hamil."
Elang sudah tidak dapat menahannya, karena sebenarnya Elang sudah tau jika Hafsa hamil dan Elang juga tau jika istrinya tadi pergi ke rumah sakit, dia diberi tau Galang pengawal baru Hafsa, Galang juga yang mengambil hasil USG itu.
Tapi dia akan melihat dulu bagaimana Hafsa akan memberi tahunya, dia juga menuruti keinginan Hafsa yang ingin jajanan di luar karena mungkin saja dia sedang ngidam.
Dan sekarang lah mereka berdua sedang duduk sambil bersitatap muka mengisyaratkan tanda cinta yang tulus yang mungkin akan diutarakan.
Detik berikutnya Elang langsung merengkuh Hafsa memeluknya dengan pelukan hangat di malam hari, mengabaikan tatapan para mata yang memandangi mereka dengan tatapan ada yang sinis karena tidak tau malu berpelukan di tengah keramaian, ada juga yang baper karena dianggap romantis.
"Kak Elang, apa yang kau lakukan? banyak mata yang melihat kearah kita." ucap Hafsa malu karena dipandangi orang-orang.
"Tidak usah pedulikan orang lain, aku ingin memelukmu lebih lama." jawab Elang tak peduli, dia malah makin memeluk Hafsa erat.
"Terimakasih, kau telah memberiku kejutan yang sangat berharga aku berjanji akan menjaga dan membesarkannya." kata Elang lalu melepas pelukannya.
__ADS_1
Hafsa menjadi murung, membuat Elang merasa heran.
"Kau kenapa? apa kau tidak senang mengandung anakku?" tanya Elang melihat Hafsa yang murung.
"Aku senang, tapi tepat malam ini adalah malam terakhir kita bersama karena kontrak pernikahan kita sudah satu tahun itu berarti kita akan berpisah dan kau akan mengambil anakku." terang Hafsa lirih begitu sedih bila itu terjadi.
Elang terkekeh mendengar penuturan dari istrinya, ternyata itu yang di khawatirkan oleh istrinya.
"Sayang, jadi kau mengkhawatirkan itu." kata Elang terus tertawa.
"Iya, kenapa kau malah tertawa? kau kira aku becanda." kata Hafsa merasa Elang sangat egois karena menertawakannya.
Lalu Elang mengeluarkan sesuatu di balik saku jaketnya, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat yang di gulung lalu membukanya dan memberikannya pada Hafsa.
"Apa ini?" Hafsa menerimanya.
"Kau baca dulu." perintah Elang tersenyum.
Hafsa kemudian membacanya, "Ini surat kontrak pernikahan."
"Yap, betul sekali." Lalu Elang mengambilnya dan tiba-tiba saja dirobek olehnya sampai menjadi serpihan kecil dan hal itu tak luput dari wajah Hafsa yang begitu terkejut.
"Kenapa kau merobeknya?" tanya Hafsa heran.
"Itu artinya kontrak perjanjian itu batal dan kau akan tetap menjadi istriku selamanya dan kita akan membesarkan anak ini bersama-sama." jelas Elang sambil menunjuk perut Hafsa.
Hafsa sampai tak bisa berkata-kata dengan kenyataan yang dia dengar dari mulut Elang sendiri.
"Eh... maksudmu."
__ADS_1
Elang menyentil dahi Hafsa pelan membuat Hafsa mengaduh dan menyentuh dahinya.