
Nina sebenarnya tidak pergi dia sengaja mencari pekerjaan disekitar Rahma dan Sesil agar dapat mencuri dengar pembicaraan mereka, karena Nina penasaran apakah Hafsa yang dimaksud adalah gadis yang sama.
"Kamu apa sih Sesil larang-larang mamah terus?" Rahma menyentak Sesil karena Sesil terus saja menyuruhnya tenang.
"Mah minum dulu mah!" Sesil menyodorkan air putih es itu kepada ibunya.
Tanpa menjawab Rahma langsung menegak air putih itu sampai habis.
Setelah habis emosi Rahma mulai tenang dan kini dia berucap lagi.
"Dimana si Hafsa itu bekerja? berani sekali dia membohongiku." kata Rahma.
"Iya mah berani bener, awas saja kalau ketemu aku tidak mau pura-pura menyedihkan kayak kemarin." ucap Sesil merasa harga dirinya diinjak-injak.
Rahma menatap Sesil, "Hey, jika kita bertemu dengan dia lagi kita tetap harus ramah dan baik padanya jika tidak rencana kita bisa gagal." kata Rahma yang langsung menepis ucapan Sesil, Sesil yang mendengarnya hanya mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Tapi masalahnya sekarang dimana gadis sialan itu sekarang." Rahma mengepalkan tangannya sambil matanya menatap lurus kedepan.
"Aku tau dimana keberadaan orang yang sedang kau cari itu." tiba-tiba saja Nina datang dan langsung berucap pada intinya.
Rahma menoleh menatap Nina dengan pandangan menyelidik.
"Siapa kau? sudah tidak sopan sekarang tambah tidak sopan dengan menguping pembicaraan kami." ujar Rahma karena sejak mereka datang Nina sangat tidak sopan melayani mereka.
Entah bagaimana bisa bos rumah makan itu menerima orang seperti Nina yang tidak punya etika dan keramah tamahan pada pengunjung.
"Perkenalkan namaku Nina, aku sengaja mencuri dengar pembicaraan kalian hanya ingin memastikan orang yang kalian bicarakan sama tidak denganku". jelas Nina kini tanpa dipersilahkan dia duduk dengan santai bersama mereka.
"Biarkan saja, aku sudah cape!" jawab Nina enteng tanpa dosa.
Rahma dan Sesil saling berpandangan merasa aneh karena Nina yang malas-malasan tidak ditegur sama sekali.
__ADS_1
"Hey, apa kau pemilik rumah makan ini?" tanya Rahma karena penasaran juga dengan sikap Nina yang santai itu padahal pelayan yang lain kerepotan.
"Tempat ini milik pamanku, sudah kenapa kau bawel sekali?" sentak Nina dengan suara tinggi sehingga membuat pengunjung yang disekitarnya menengok kearah mereka.
Disentak seperti itu Rahma jadi diam.
"Aku mengenal orang yang bernama Hafsa, aku dan dia pernah bekerja bekerja disatu rumah mewah, tapi aku dipecat gara-gara dia dan tidak bisa menggoda tuan muda lagi." Nina bercerita dengan mengepalkan tangan dan ada kilatan marah dalam matanya.
Rahma dan Sesil berpandangan lalu menyeringai.
Kemudian Sesil membuka ponselnya dan mecari foto Hafsa yang terselip disana hanya untuk memastikan.
"Apa seperti ini wajah Hafsa yang kau maksud?" Sesil menyodorkan ponselnya pada Nina agar Nina melihat.
Nina mengamati dan dia tersenyum sinis, " Ya kau benar ini orang yang aku maksud."
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian mereka berpandangan dan tertawa bersama, entah apa yang lucu mungkin mereka sedang berfikiran hal yang sama.
"Kenapa kalian tertawa? apa ada yang lucu?" tiba-tiba Nina berucap datar membuat mereka menghentikan tawanya dan merasa kikuk didepan Nina.