
Hafsa dan Melati sedang berada diluar, Melati ditugaskan untuk membeli bahan makanan yang sudah habis, karena Hafsa merasa bosan jadilah dia ikut Melati.
Mereka sudah selesai berbelanja dan belanjaannya sudah di bawa ke mobil oleh sopir kini mereka ingin menyantap jajanan disekitar mall itu.
Kini Hafsa dan Melati sedang menyantap ice cream sambil duduk santai berdua.
"Wah senang sekali bisa belanja hari ini". ucap Hafsa tersenyum sumringah sambil menikmati ice cream nya.
"Iya aku juga senang." balas Melati dengan senyum sumringah pula
"Tapi ada yang lebih membuatku senang." sela Hafsa membuat Melati bereaksi.
"Wah apa itu?" tanya Melati penasaran.
"Sebentar lagi Elang bisa melihat." ucap Hafsa antusias.
"Wah yang benar sa". Melati bahkan tak percaya.
"Benar, sebentar lagi dia akan dioperasi. Dan kau tau aku tanya siapa orang yang pertama kali ingin dia lihat saat sudah bisa melihat dia jawab..." Hafsa menghentikan ucapannya supaya Melati menjawabnya.
"Ah.. aku tau pasti kau kan yang ingin dia lihat." tebak Melati yang ternyata benar.
Hafsa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Wah... aku sudah yakin nih tuan muda pasti sudah jatuh cinta padamu." ucap Melati langsung menebak.
Namun wajah Hafsa seketika berubah murung.
"Lah, kok mukanya di tekuk tadi senang-senang." Melati bingung melihat ekpresi wajah Hafsa yang berubah.
"Habisnya kau membahas soal cinta, aku tidak tau dia sudah jatuh cinta padaku atau belum karena dia tidak pernah mengucapkan kata cinta padaku" ucap Hafsa cemberut sambil mengaduk-aduk ice cream nya.
Melati menghela nafas, "Hey, memangnya cinta itu harus selalu diucapkan kan tidak melalui sikap juga bisa kan." terang Melati seperti berpengalaman saja padahal dirinya pun baru ini merasa jatuh cinta pada seorang pria dialah Rey sekretaris tuan muda.
"Tapi kan aku ingin juga mendengar kata cinta darinya pasti aku akan mabuk kepayang deh." Hafsa tersenyum sendiri dengan ucapannya.
"Kau tenang saja aku yakin kok tuan muda pasti akan bilang Hafsa, aku mencintaimu." ucap Melati meniru gaya bicara Elang.
"Hey, tuan muda memang seperti itu dingin sekali aku sampai takut jika melihat matanya padahal dia tidak melihatku yah auranya itu loh kuat banget." ungkap Melati tentang Elang.
"Iya sih awalnya memang begitu, tapi setelah mengenalnya aku jadi selalu rindu." Hafsa tersenyum memikirkan Elang sambil kedua tangannya menangkup pipinya.
"Wah.. sepertinya kau juga sudah jatuh cinta dengannya." Melati menggoda Hafsa sambil menyenggol lengannya.
"Ah Melati kau jangan menggodaku aku itu hanya kagum." malu-malu Hafsa menjawab.
"Beneran kagum, tapi kok mau sih dijebol katanya tidak ada kontak fisik." terang Melati semakin menggoda.
__ADS_1
Hafsa terkejut dari mana Melati tau jika dirinya sudah dijebol padahal kan dia belum cerita soal itu atau jangan-jangan Melati mengintip.
"Hey, dari mana kau tau soal itu kau ngintip yah!" tuduh Hafsa langsung.
Melati memutar bola mata malas mendengar tuduhan Hafsa.
"Hah Hafsa memangnya aku tidak ada kerjaan sampai harus mengintipmu."
"Itu kenapa kau tau."
"Dari cara jalanmu lah." rupanya Melati memperhatikan cara berjalannya Hafsa, teliti juga ya dia.
"Hah kau memperhatikanku, ah aku jadi malu." Hafsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Untuk apa malu, kan sama suami. Tapi ngomong-ngomong gimana rasanya?" dengan polosnya Melati malah bertanya hal yang intim membuat Hafsa tambah malu.
"Kau ini malah bertanya hal seperti itu lagi, itu privasi tau." jawab Hafsa malu.
"Ihh malu yah." Melati meledek Hafsa yang semakin malu.
"Sudah ah, aku mau ketoilet dulu." Hafsa beranjak.
"Ehh tunggu aku ikut." Melati ikut beranjak mengikuti Hafsa
__ADS_1