
Hafsa terbangun lebih dulu tidurnya nyenyak namun kesakitan dibagian inti paha mungkin Elang terlalu bersemangat.
Saat Hafsa ingin bangun sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dengan lembut.
"Kau mau kemana?" Elang bertanya dengan suara khas bangun tidur, matanya masih sayup-sayup.
"Aku ingin mandi, ini sudah siang." jawab Hafsa. Sebenarnya masih tidak percaya dengan perlakuan Elang pada dirinya selama ini namun Elang belum pernah mengatakan cinta.
"Nanti saja mandinya denganku, aku masih ingin memelukmu." ujar Elang lalu langsung menarik Hafsa dalam pelukannya.
"Aaa.." Hafsa reflek menjerit karena memeluknya seperti bantal guling.
"Kak Elang bolehkah aku hari minta jalan-jalan." pinta Hafsa sebenarnya untuk menghindari dari sesuatu yang bangun dibawah sana.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Elang, matanya langsung terbuka mendengar kata jalan-jalan.
Dan Hafsa berhasil fokus Elang jadi pada dirinya.
"Aku ingin main salju." Hafsa asal saja berucap.
"Main salju, kau yakin." tanya Elang mengernyit.
"Iya aku yakin, dulu waktu kecil aku ingin sekali bermain salju tapi karena di negara ku tidak ada salju mangkanya aku tunggu besar supaya bisa pergi dengan suamiku." tuturnya bagian impian sejak kecilnya.
"Em... apakah ini termasuk impianmu?" tebak Elang.
"Benar, memang ini termasuk impianku." jawab Hafsa tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengabulkannya." kata Elang cepat membuat Hafsa tambah tersenyum lebar.
"Benarkah, kapan?"
"Sekarang." jawab Elang singkat.
"Sekarang, berarti kita harus pulang dulu." kata Hafsa panik.
"Untuk apa pulang." Elang yang merasa bingung.
"Ya... ambil bajuku dan pamit pada ibu." kata Hafsa dengan polosnya.
Elang mencubit hidung standar Hafsa dengan gemas, "Kau fikir aku siapa? pulang hanya untuk mengambil baju-baju jelekmu itu."
Hafsa mengelus hidungnya yang dicubit, "Enak saja jelek itu bagus menurutku." tidak terima bajunya dibilang jelek karena itu pemberian dari mertuanya.
"Setelah kau kembali kerumah besar bajumu itu akan digantikan dengan yang baru."
"Eh untuk apa itu juga masih bagus tidak usah yah."
"Berarti kita tidak perlu jalan-jalan bermain salju."
Hah pintar sekali Elang.
"Eh kok gitu."
__ADS_1
"Ya karena kau begitu."
"Baiklah terserah padamu." dan akhirnya Hafsa pasrah dengan kemauan suaminya.
"Pintar." sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Oh iya." Hafsa teringat sesuatu.
"Ada apa? hmm."
"Em.. boleh tidak aku mengajak teman." dengan wajah memelas penuh permohonan.
"berapa banyak."
"Hanya satu, Melati dan kau juga bawalah sekretaris mu supaya kita berpasangan gimana? cocokkan."
"Rey tidak akan mau."
"Dia pasti mau, kan kau yang perintah ya ya ya supaya seru tidak seru kalau jalan jauh hanya berdua." Hafsa terus merayu Elang dengan memainkan perut sixpack nya.
"Baiklah aku akan menurutimu namun kau harus menuruti satu ini dulu." sambil menunjukkan senjata ampuhnya.
Hah.. alamak padahal Hafsa sedari tadi berusaha mengalihkan karena dia lelah namun kenapa ujungnya jadi kena juga.
"Tapi aku gerah."
"Ya sudah kita disini saja tidak perlu main salju." rajuk Elang pura-pura.
"Jangan dong, tapi ibu bagaimana?" berusaha mengalihkan lagi.
"Untuk apa menunduk." Elang malah mengangkat wajahnya.
"Kau mau apa?"
"Kau ingin bermain salju tidak."
"Mau." dengan antusias.
"Ayo kita lakukan ritual mandi bersama." kata Elang langsung membopong tubuh Hafsa.
*****
Tok tok tok.
ceklek suara pintu terbuka
"Siapa? aku masih ngantuk aku sudah diberi libur selama seminggu jadi hari ini aku mau istirahat jangan ganggu yah."
Melati berucap dengan mata yang masih sayup-sayup tak melihat lawan bicaranya dengan rambut yang berantakan dan wajah yang kusut.
"Jadi begini tampilan anak seorang gadis yang baru bangun tidur." Rey membalas sambil tersenyum tipis entah karena penampilannya atau karena celotehnya atau mungkin dua-duanya.
Mata Melati langsung terbelalak mendengar suara Rey, dia langsung merapikan rambut wajahnya.
__ADS_1
"Eh tuan, ada apa pagi-pagi ke kamar seorang gadis ingin membangunkan ku kah." Melati malah mulai menggoda.
"Kau ingin berlibur bersama sahabatmu Hafsa." kata Rey langsung pada intinya mendapat perintah dari Elang beberapa menit yang lalu.
"Hah.. mau mau." dengan riang dan semangatnya Melati mengiyakan.
"Kapan?" Melati bertanya.
"Sekarang kau bersiaplah pesawat sudah menunggu." ujar Rey lalu melangkah.
Melati yang loding berusaha mencerna.
"Tunggu tuan, sekarang yang benar." masih tidak percaya karena tak ada angin tak ada hujan malah dapat kejutan tak terduga.
"Ya sekarang aku tunggu didepan tidak perlu membawa apapun cukup bawa dirimu saja." kata Rey lagi lalu langsung pergi meninggalkan Melati yang masih bengong.
"Eh apaan sih aku ini! bukannya mandi." lalu Melati masuk ke kamarnya untuk bersiap.
Tadi pagi setelah Rey bangun ada pesan masuk dari Elang untuk memesan tiket pesawat ke negara j untuk 4 orang hari ini juga.
Rey bertanya untuk siapa saja. Dan Elang menjawab untuk Elang istrinya dirinya juga Melati.
Rey sampai terkejut untuk apa Melati dibawa-bawa dan ternyata permintaan dari Hafsa ingin mengajaknya, dia senang sih Melati ikut tapi setelah ini ibunya pasti akan lebih geger lagi dari pada tadi malam.
"Tuan aku sudah siap." ucap Melati pada Rey yang membelakangi.
Rey berbalik melihat tampilan Melati yang seperti ABG dengan rambut gelombangnya yang dikuncir dua diatas dengan baju kodok sepatu sneaker dan tas selempang kecil.
Rey menggelengkan kepalanya merasa seperti pedofil karena mengencani anak dibawah umur padahal hanya selisih 12 tahun.
"Aku seperti membawa adikku." ceplos Rey pelan tak melihat Melati.
"Kenapa tuan Rey?" Melati bertanya karena tak mendengar Rey bicara apa.
"Kau seperti remaja saja."
"Aku memang masih remaja tuan umurku baru 18 tahun masih muda kan manis lagi jadi tuan beruntung mendapatkanku." kata Melati sambil memainkan ujung rambutnya.
Rey gemas mencubit pipi Melati membuat Melati mengaduh.
"Aw.. sakit." keluh Melati mengelus pipinya.
"Jangan selalu berkhayal."
"Aku tidak mengkhayal itu kenyataan." ucap Melati kesal.
"Sudah cepat masuk tuan dan nona sudah menunggu." kata Rey kemudian membuka pintu mobil.
Melati ingin masuk bagian penumpang namun Rey cepat bersuara.
"Aku bukan supir mu. Duduk didepan." kata Rey dengan datar.
Melati menutup kembali pintu mobil dengan memajukan bibirnya dia berjalan dan masuk mobil duduk di samping Rey yang hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Rey pun melajukan mobilnya untuk menemui majikannya yang sudah menunggu di bandara karena Hafsa ingin pergi bersama.
Tadinya Elang ingin mereka pergi duluan karena Elang hanya ingin berdua saja namun karena Elang tak kuasa dengan wajah memelas istrinya jadi dia mengabulkan keinginan istrinya demi untuk melihat istrinya bahagia.