Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 112


__ADS_3

Hafsa dan Elang keluar dari ruangannya, Hafsa melihat ke ruangan Rey sudah tidak ada siapapun.


"Kak Elang kemana mereka? kok tidak ada.!" Hafsa bertanya sambil menunjuk ke arah ruangan Rey yang kaca jendela nya dapat terlihat dari luar.


Elang hanya berdehem, "Mereka pasti sudah duluan."


"Duluan, sangat tidak setia kawan." ujar Hafsa cemberut sambil menyilangkan tangan di dada.


"Bukan mereka tidak setia kawan, mungkin kita yang terlalu lama sayang." kata Elang menarik bibir Hafsa yang cemberut.


"Aww.. sakit." Hafsa memukul lengan Elang yang menarik bibirnya.


"Sudah, dari pada kau cemberut lebih baik kita makan siang. Ayo!." lalu Elang menarik pinggang Hafsa untuk segera keluar.


Hafsa dan Elang berjalan menuju restoran dekat perusahaan mereka, karena Elang sedang tidak mau jauh-jauh untuk mencari makan.


Saat masuk pandangan mata Hafsa tertuju pada sudut meja dekat jendela, ya mereka Rey dan Melati yang sedang nikmat melahap makanannya.


"Kak Elang itu mereka!." tunjuk Hafsa pada mereka berdua.


Elang hanya melihat tanpa menjawab, kemudian Hafsa langsung berjalan ke arah mereka diikuti Elang di belakangnya.


"Hai kalian, asyik-asyiknya makan berdua dan meninggalkan kami." ucap Hafsa menepuk bahu Melati.


"Eh... kalian, habisnya kalian lama karena aku lapar jadi nya duluan deh." balas Melati tersenyum kuda.


Tanpa di persilahkan Hafsa dan Elang duduk di samping jenisnya karena Rey dan Melati duduk berhadapan.


"Kau makan apa Melati?, sepertinya enak." cetus Hafsa melihat makanan Melati.


"Aku makan ayam penyet, kau mau coba." ujar Melati menyodorkan ayam dari tangannya.


"Mau mau." Hafsa pun menerima suapan dari Melati. Sungguh tak ada rasa canggung di antara mereka berdua.


"Hem... enak. Kak Elang aku mau makan ini saja." kata Hafsa menatap Elang.


"Baiklah, Rey pesankan untukku dan istriku sama seperti kalian." ujar Rey memerintah Rey.


"Baik tuan!." Rey hanya menurut, dasar bos padahal cuma pesan saja dia juga bisa.


"Kenapa pesanan mu sama denganku?." tanya Hafsa.


"Karena kau bilang enak jadi aku pun ingin mencobanya." jawab Elang.


Hafsa tidak menjawab hanya hem saja.


Kemudian Rey pun memesan kembali pesanan yang sama.

__ADS_1


Tak lama menunggu hanya 5 menit makanan itu sudah tersaji.


"Wah...!" tanpa berkata lagi Hafsa langsung memakannya di ikuti Elang yang tersenyum melihatnya.


Disaat mereka selesai makan, datanglah empat mahasiswi ke dalam restoran itu, mereka berjalan sambil tertawa bersama.


Hafsa dan Melati memperhatikan mereka, timbul dalam hati mereka sifat iri karena ingin merasakan nya juga.


"Mel, sepertinya seru yah kuliah itu." ucap Hafsa matanya terus menatap ke empat mahasiswi itu.


"Iya sa, rasanya menyenangkan dan iri sekali melihat mereka." jawab Melati yang juga terus memperhatikan mereka.


Elang dan Rey menyadari apa yang di inginkan kedua sahabat itu, mereka pun saling berpandangan seakan mengerti isi hati masing-masing.


"Kau ingin kuliah istriku?." tanya Elang pada Hafsa.


"Eh! memang boleh, aku kan sedang hamil." kata Hafsa dengan wajah bingung.


Elang hanya tersenyum sedang Rey diam saja. Melati pun sama seperti Hafsa memasang wajah penasaran akan jawaban Elang.


"Boleh, kenapa tidak boleh?."


Hafsa tersenyum lebar, "Kalau begitu aku ingin kuliah, tapi... aku tidak mau sendiri."


"Tentu saja kau tidak akan sendiri, Melati akan ikut kuliah bersamamu." jawaban Elang tentu saja membuat Hafsa tambah senang.


"Iya..." balas Melati dengan tersenyum juga tapi detik berikutnya wajahnya menjadi muram.


"Kau kenapa? kok mukamu seperti itu." tanya Hafsa melihat perubahan pada wajah Melati.


Rey dan Elang pun menjadi ikut penasaran.


"Aku ingin sih kuliah, tapi... aku tidak punya uang biaya kuliah kan pasti mahal dan uang gaji ku bekerja aku berikan pada orang tua ku di kampung." tutur Melati dengan jujur bukan bermaksud ingin mencari perhatian.


Rey menghela nafas pelan sambil tersenyum mendengar jawaban dari calon istrinya.


"Melati, apa kau lupa akan menikah dengan seorang miliarder, sudah pasti kekasih mu ini yang akan menanggung semuanya." ucap Elang sambil menunjuk Rey dengan dagunya.


"Ah betul sekali Melati, kenapa kau pusing-pusing sebentar lagi juga kan dia akan menjadi suamimu." tambah Hafsa membenarkan.


"Oh iya juga yah!, aku hampir lupa kalo aku punya calon suami kaya. Kak Rey kau akan membiayai kuliah ku kan" Melati terkekeh sendiri lalu menatap Rey dengan tersenyum manis.


"Aku bukan hanya membiayai kuliah mu saja tapi hidupmu juga." jawab Rey menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Menurutnya sangat lucu bagi Rey karena kenapa harus bertanya lagi padahal dirinya ada.


"Betul itu kak Rey. Ah! kau ini Melati bagaimana sih." kata Hafsa mencibir Melati dan Melati hanya tersenyum kuda.

__ADS_1


*****


Di siang hari yang panas, Nina sedang berjalan sendiri di pinggir jalan, dia sedang mengoceh tentang Rahma dan Sesil yang tak kunjung mengabarinya.


"Sialan mereka ini sudah lama sekali, tapi sampai saat ini mereka belum juga mengabari ku. Apa mereka membohongiku yah?." ucap Nina menebak sendiri.


"Lebih baik aku menghampiri mereka." ucapnya kemudian.


Tak lama setelah itu, Nina sudah ada di depan gerbang rumah besar Elang, dia mengetuk pintu pagar yang paling kecil.


"Permisi...!" ucap Nina berteriak keras supaya yang menjaga di sana mendengar.


"Iya nona ada apa?." jawab satpam dengan cepat lalu membuka pintu pagar.


"Ada yang bisa saya bantu?." tanya nya kembali pada Nina.


"Eh... maaf disini pekerja yang bernama Rahma dan Sesil apakah masih ada?." tanya Nina langsung pada intinya.


Satpam itu mengernyit kemudian wajahnya tampak terlihat marah.


"Mereka sudah di penjara." jawabnya ketus.


"Di- dipenjara. Dipenjara kenapa?." tanya Nina terbata, pikirannya sudah bisa menebak bahwa mereka ketauan.


"Karena mereka berdua adalah penipu, untungnya tuan kami cerdas jadi tuan dan nyonya tidak tertipu." ulas Satpam membanggakan tuannya.


"Eh... kalau begitu terimakasih." lebih baik dirinya pergi saja namun satpam mencegahnya.


"Tunggu nona!." Nina pun berhenti dengan wajah terkejut.


"Iya ada apa?." jawab Nina dengan senyum paksa.


"Untuk apa nona mencari mereka?, apa nona mengenal mereka." tanya Satpam dengan menyelidik.


"Ah.. a-ku, kebetulan mereka punya hutang padaku dan aku di beri tahu kalau mereka bekerja di sini jadi aku kesini untuk menagih." Nina berhasil mencari alasan yang terlintas di otaknya.


"Oh begitu, kasihan sekali dirimu sayangnya mereka sudah tidak ada." ucap satpam itu iba tanpa curiga.


"Ya sudah tidak apa-apa. Terimakasih informasinya aku permisi." kata Nina dan satpam hanya mengangguk.


Setelah agak jauh, Nina bersungut kesal.


"Untung mereka yang di penjara aku aman." ucap nya sambil mengelus dada.


"Ah.. sepertinya untuk mendapatkan tuan Elang susah sekali, apa aku menyerah saja yah dari pada aku bernasib sama seperti mereka nantinya." Nina menghela nafas pelan, impiannya untuk mendapatkan Elang tidak akan pernah bisa diraihnya.


Dia pun melenggang pergi dengan putus asa.

__ADS_1


__ADS_2