Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 123


__ADS_3

Elang kembali menemui Hafsa yang kini sudah pulang ke rumah dia sedang di tenangkan oleh ibu Sinta.


"Sayang, tenang lah ibu justru khawatir padamu dan kandungan mu." ucap Sinta dia juga kaget mendengar menantunya di sakiti oleh anak yang bekerja di perusahaan Elang.


"Ibu khawatir kau tidak akan di ijinkan untuk kuliah lagi." lanjut Sinta mengingat perangai anaknya.


"Apa kak Elang akan sungguh melakukan itu Bu?." tanya Hafsa tak percaya.


"Bisa jadi jika kau tidak mematuhinya." kata Sinta sedikit memberi peringatan.


"Sayang... aku pulang." suara Elang yang datang tergesa-gesa karena dirinya masih khawatir dengan keadaan istrinya.


"Kak Elang." Hafsa ingin berlari mendatangi Elang namun Elang menahannya.


"Stop, berhenti di situ. Biar aku yang mengejar mu." kata Elang membuat Sinta tersenyum.


Saat sudah dekat Elang pun langsung memeluk Hafsa dengan erat tidak lupa juga mencium wajahnya di depan ibunya.


"Kak ada ibu." seru Hafsa malu karena di sekitar nya masih ada ibu nya.


"Bu, apa kau ingin menjadi penonton?."


Hah Hafsa melongo mendengar kata-kata yang tidak sopan Elang pada ibunya.


"Baiklah ibu pergi, sayang jangan lupa jaga kesehatan mu yah!." Sinta mengusap rambut Hafsa dengan lembut sebelum pergi.


"Iya Bu terimakasih."


Setelah kepergian ibu nya Elang kembali menatap lembut Hafsa.


"Sayang ayo duduk, aku ingin melihat lukamu." kata Elang menyuruh nya duduk.


"Luka ku tidak seberapa kak, hanya sakit sedikit." jawab Hafsa tidak ingin memperpanjang masalah.


"Kau jangan berbohong padaku sayang aku tidak suka." kata Elang lembut namun penuh penekanan.


"Hem.. memangnya aku harus bohong apa padamu, kan tadi aku sudah di obati bayiku juga baik-baik saja." terang Hafsa menghela nafas.


"Aku tidak habis pikir kenapa mereka tega sekali berbuat seperti itu hanya karena seorang pria." cerita Hafsa.


"Seorang pria, maksudmu?."


"Iya, aku di tuduh mendekati pria incaran nya padahal aku saja baru masuk."


"Hem... memangnya siapa pria itu?."


"Katanya namanya Angga teman Raka dan dia adiknya sekretaris Rey ternyata." ungkap Hafsa antusias.


"Jadi kau satu kelas dengan Raka."


"Iya, ini suatu kebetulan yang tak di duga dan kau tau Raka ternyata menyukai Melati pada pandangan pertama. Hah lucu sekali ada yang seperti ini yah." Hafsa menghela nafas sejenak dan Elang mendengar nya dengan seksama.


"Tapi kau sebenarnya tau tidak jika Rey punya adik." tanya Hafsa penasaran.


"Jangankan adiknya Rey seluruh tentang hidupnya." jawab Elang.

__ADS_1


"Tapi... jika Raka menyukai Melati berarti temannya menyukai dirimu makanya gadis itu menyakiti mu karena teman Raka selalu mendekatimu. Apa benar begitu?." tebak Elang yang memang benar.


Hafsa menautkan alisnya, "Mana aku tau."


"Ya.. aku tau lihat saja kalau sampai dia mendekatimu lagi maka dia akan berurusan denganku." ucap Elang membuat Hafsa menghela nafas.


"Terserah dirimu lah."


"Oh iya aku punya satu permintaan padamu, apa boleh? sambung nya kembali bertanya.


"Sepuluh permintaan pun akan aku kabulkan." jawab Elang tersenyum.


"Aku serius."


"Aku juga serius."


"Heh... ya sudah em... apa kau tau dimana ayahku berada sekarang?." tanya Hafsa takut-takut.


Elang terdiam beberapa saat kemudian menghela nafas pelan.


"Apa kau rindu dengan ayahmu?."


"Iya, aku rindu sekali walau bagaimanapun dia tetap ayahku."


"Baiklah aku akan mempertemukan mu dengan ayahmu." ujarnya meyakinkan.


Hafsa tersenyum lebar, "Terimakasih suamiku. "Hafsa kemudian memeluk Elang dan di balas oleh Elang.


*****


Melepas lajang bagi keduanya bukanlah hal yang mudah namun suatu keyakinan yang mampu membuat mereka akhirnya bersatu.


Rey mengundang semua kerabat dekat ataupun jauh untuk meyaksikan pernikahan sucinya.


Pak penghulu sudah datang, Rey juga sudah duduk manis di depan penghulu tinggal menunggu sang pengantin wanita.


Rey begitu tampan dengan baju pengantin berwarna putih serta memakai peci terlihat berkharisma dan berwibawa siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona.


Di dalam ruangan khusus untuk berhias di sana terdapat Melati yang di temani Hafsa juga para make over sedang menunggu Melati untuk dipanggil menghadap penghulu.


Melati sudah di dandani bak bidadari sangat cantik dengan balutan kebaya Sunda, di kepalanya memakai singer yang membuatnya semakin anggun dan manis, make up yang sangat cocok untuknya membuatnya pangling seperti bukan Melati.


"Aku gugup sekali sa." ucap Melati memegang erat jemari Hafsa.


Tangan Melati sungguh berkeringat dan juga gemetaran.


"Melati kau jangan gugup tenanglah, minumlah dulu." Hafsa memberikan air mineral yang sudah di beri doa khusus untuk Melati.


Melati menerima nya dan meminumnya sungguh tenggorokan nya jadi segar setelah meminum air itu.


"Terimakasih."


"Bagaimana sudah enakkan?."


"Sudah."

__ADS_1


"Pengantin wanita di panggil." tiba-tiba Bu Mala datang.


"Sayang, kau cantik sekali." kata Mala begitu kagum dengan hasil riasan Melati.


"Terimakasih ibu." jawab Melati tersenyum.


"Ya sudah ayo kau sudah di tunggu, karena sebentar lagi Rey akan mengucap ijab qobul." kata Mala menuntun menantunya.


Melati kemudian keluar bersama Hafsa dan Mala di kanan kirinya.


Saat memasuki tempat acara, semua mata tertuju padanya, Melati yang sangat cantik bak bidadari dan juga Hafsa yang sedang hamil menampakkan aura positif sehingga membuatnya bersinar.


Rey yang tadinya menunduk kini menatap Melati tanpa berkedip dirinya sungguh terpesona dengan pemandangan indah di depannya.


'Dia cantik sekali.' ucap Rey dalam hati.


Melati pun di dudukkan di samping Rey, Melati juga sangat terpesona dengan penampilan Rey yang begitu tampan.


'Dia tampan sekali.' ucap Melati dalam hati.


Hafsa beringsut mundur dan mendekati Elang dengan senyum kecil.


Raka yang tak jauh dari tempatnya menyikut lengan Angga yang terdiam.


"Benar kan dugaan ku dia adalah istri orang, apalagi suaminya adalah teman kakakku sekaligus pemilik perusahaan Wijaya group yang bergengsi. Kau tau dia namanya Elang Rahardian lebih dingin dan kejam dari kakakku." bisik Raka di telinga Angga.


Angga semakin pasrah, cinta pertama nya sudah di tolak sebelum mengutarakannya dia jadi tidak ada nyali untuk sekedar mendekati.


"Dan kau tau dia juga sedang hamil, ah pokoknya kau tidak akan bisa meraihnya." lanjut Raka lagi sambil berbisik.


"Dan kau tau..!"


"Aku sudah mengerti lebih baik kau diam." sela Angga cepat menghentikan ucapan Raka yang membuat nyali nya tambah menciut.


Raka menggedikkan bahunya acuh kemudian fokus kembali menatap kakaknya yang sangat santai dan tenang saat ijab Qobul.


Ijab qobul pun di mulai semua orang terdiam dan suasana menjadi hening hanya suara deru nafas saja yang terdengar.


Melati menjadi gugup padahal yang mengucapkan ijab Qabul saja tenang-tenang saja tapi dia yang menjadi gelisah sendiri.


Dan kata 'Sah' pun terdengar di ruangan yang luas ini membuat Melati akhirnya bisa bernafas lega.


Pak penghulu pun membacakan doa untuk mempelai pengantin sebelum masuk ke acara yang lain.


"Alhamdulillah sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri." ucap penghulu lega.


Begitu juga dengan keluarga Rey dan Melati yang sangat senang.


Acara pun di lanjutkan dengan acara sungkeman pada orang tua di saat inilah momen sedih menyelimuti.


"Jaga dan sayangi dia nak Rey." ucap ayah Melati pada menantunya.


"Ayah tidak perlu khawatir, percayakan padaku." jawab Rey mantap.


"Ya, ayah percaya padamu."

__ADS_1


__ADS_2