Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 29


__ADS_3

Saat mereka sudah kembali tatapan tidak bersahabat dilayangkan pada gadis polos yang bernama Hafsa dari sang tuan muda Elang, saat mereka memasuki rumah mewah itu seketika tawa canda mereka langsung berhenti dan menunduk.


Matanya yang tajam menatap dengan tatapan yang sungguh menakutkan bahkan Melati yang disampingnya pun menciut nyalinya ketika melihat tuan muda yang sedang bersama sekretaris Rey.


"Hafsa aku kedapur duluan yah!" bisik Melati ketelinga Hafsa dan segera berlalu meninggalkan Hafsa yang terdiam sendiri.


"Rey, hukuman apa yang pantas didapatkan oleh gadis yang melewati batas." ucap Elang dengan penuh penekanan.


Padahal tadi saja Elang cuek tapi kenapa sekarang dia malah seperti orang yang marah.


"Hanya tuan muda yang tau jawabannya." jawab Rey menatap lurus kedepan tanpa bereaksi apapun.


Elang mendecih, "Kau ini Rey, aku bertanya padamu? bukan itu jawaban yang aku inginkan." sungut Elang pada Rey karena Rey seperti sengaja melakukannya.


"Maaf tuan muda saya memang tidak tau." ulang Rey datar.


"Tapi jika tuan menyuruh saya untuk menghukum pelayan yang bersama nona maka akan saya lakukan." katanya lagi dengan memalingkan wajah kearah tuan muda.


Hal itu membuat Hafsa terperangah dan ada sedikit tidak tega temannya akan dihukum mudah-mudahan saja tidak sampai dipecat begitu pikirnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja itu urusanmu dan dia memang harus dihukum karena telah mengajak lama pelayanku keluar." kata Elang datar.


"Baik tuan, kalau begitu nona maaf tolong ambil alih disini." ucap Rey memundurkan langkahnya.


"Ah I-ya baik." mendengar perintah Rey Hafsa menjadi gugup, gadis itu pun berjalan perlahan untuk mencapai pegangan kursi roda.


Setelah berhasil memegang sebuah suara membuatnya kaget sampai diam membisu.


"Kau, karena kau terlambat pulang maka malam ini sebagai hukumanmu kau harus memijatku sampai tertidur dan jangan berhenti sampai aku bilang berhenti meski aku sudah tertidur. Mengerti.!" titahnya dengan kejam tak mau ditambah.


Hafsa hanya mengangguk pasrah, entah kenapa Elang setelah menikah dia jadi begitu dingin dan kejam sama seperti pertama bertemu tidak seperti kemarin-kemarin yang sudah melunak.


"Kau dengar tidak? apa yang aku perintahkan?." ucap Elang lagi dengan nada agak tinggi karena Hafsa tidak menjawab.


"Ah iya tuan aku dengar, aku mengerti." cepat-cepat Hafsa menyahut karena dirinya sepertinya lupa bahwa Elang tidak bisa melihat.


"Sekarang aku ingin mandi." perintah tuan muda dengan menurunkan intonasi suaranya.


"Baik tuan."

__ADS_1


Hafsa pun langsung membawa Elang kekamarnya untuk menyiapkan mandinya.


****


Sedangkan ditempat lain Melati yang sedang bebenah dikagetkan dengan suara bi Rum yang memanggilnya dibelakang.


"Melati, kau ditunggu tuan Rey diruangan pelayan." ucap bi Rum memberi perintah.


Ruangan pelayan adalah ruangan dimana para pelayan yang bermasalah atau yang ingin mengadu bisa datang ketempat itu dan bi Rum lah yang menjadi tempat pengaduan mereka.


Tapi kali ini Bi Rum pun kaget tidak percaya bahwa sang sekretaris mau mendatangi tempat itu dan menyuruh pelayan untuk menghadapnya sendiri tanpa melaluinya.


Maka dengan sangat sungkan bi Rum mengiyakan perintah sang sekretaris tuan muda itu karena ini baru pertama dia lakukan.


Melati pun menoleh dengan cepat dan terkejut sekaligus bahagia karena dirinya dipanggil tuan Rey.


"Apa bi Rum tuan Rey memanggil saya?" kata Melati dengan senyum sumringah.


"Iya " jawab Bi Rum singkat merasa aneh bukannya takut ini malah senyum-senyum.

__ADS_1


"Baik aku kesana sekarang." Melati dengan cepat meluncur ketempat itu meninggalkan pekerjaan yang belum selesai membuat bi Rum menggelengkan kepalanya.


__ADS_2