Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 109


__ADS_3

Beberapa menit kemudian pak Wawan datang dengan membawa nampan besar berisi buah-buahan yang sudah dikupas bersih dan dipotong-potong berikut sambalnya yang menggiurkan tak lupa juga air mineral untuk melepas dahaga.


"Nona ini pesanan nona." ucap Wawan memperlihatkan nampannya.


"Terimakasih pak Wawan taruh saja di sana." jawab Hafsa dengan mata berbinar menunjuk tempat dekat Melati yang masih tertidur.


"Baik nona." pak Wawan pun ingin meletakkan nampan itu namun dia kebingungan antata cemas dan ragu.


"Kenapa pak?." tanya Hafsa.


"Nona, apa saya beri alas saja disini." kata Wawan kemudian takut jika majikannya melihat dia akan di marahi karena membiarkan nona mudanya makan di atas rerumputan.


Hafsa tersenyum mengerti, "Tidak apa-apa pak letakkan saja disitu, lagian disini juga bersih kok pak Wawan tidak usah cemas begitu." jawab Hafsa supaya Wawan tidak ragu.


"Ba-iklah nona."Akhirnya Wawan meletakkan nampan itu.


"Pak tolong juga ambilkan jus dan puding yang di sana dan bawa kesini." titahnya lagi sayang jika itu tidak di makan.


"Baik nona."


Kemudian Wawan mengambil jus dan pudingnya dan memberikannya pada Hafsa.


"Terimakasih pak Wawan."


"Sama-sama nona."


Sepeninggal Wawan, Hafsa menatap Melati yang tertidur pulas kemudian menggelengkan kepalanya.


"Dasar Melati kau ini gampang sekali tidur di manapun bagaimana jika ada yang membawamu." ucap Hafsa menatap sahabatnya.


"Melati bangun ada tuan Rey mencari mu." bisik Hafsa di telinga Melati.


Mendengar nama Rey disebut membuat Melati seketika langsung bangun dan duduk.


"Tuan Rey mana mana." sontak Melati mencarinya dengan jantung yang deg-degan.


"Hahaha cie cie langsung bangun." Hafsa menertawai Melati karena lucu melihat ekspresi nya.


"Hafsa... kau membuatku kaget saja." Melati kesal sahabatnya membuat dirinya kehilangan tidur nyenyaknya.


"Lagian kau ini asal tidur di manapun jadi nih lihat di depanmu." ucap Hafsa kemudian menunjuk didepannya.


Melati melihatnya, seketika air liurnya langsung menetas.


"Wah... rujak sudah jadi, siapa yang buat." tanya Melati karena tidak mungkin jika Hafsa yang membuatnya.


"Akulah, kau tidur sih jadi tidak tau." jawab Hafsa berbohong.


Melati memicingkan matanya tak percaya.


"Iya iya kau tau saja jika aku berbohong ini aku menyuruh pelayan yang membuatnya." ujar Hafsa tak bisa berbohong dengan Melati.


"Oke ayo kita makan." setelah itu Melati langsung mencomot buahnya di ikuti Hafsa dan mereka makan bersama.


Beberapa menit kemudian setelah mereka menghabiskan buahnya kini mereka nyemil sambil mengobrol.


"Mel, kau tau aku senang... sekali saat ini." ucap Hafsa ingin mengungkapkan.


"Kalau kau sedang senang aku pun sama." jawab Melati tersenyum.


"Baiklah aku duluan yang cerita." kata Hafsa menarik nafas terlebih dahulu, Melati menyimak dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Kak Elang menyatakan rasa cintanya padaku dan aku jadi istri seutuhnya, kontrak pernikahan itu BATAL ah bahagianya..." terang Hafsa dengan menangkup kedua pipinya sendiri.


"Apa ku bilang tuan Elang mencintaimu dan pernikahan kontrak nya batal, kau sih tidak percaya padaku." kata Melati bangga.


"Iya.., dan kau tau dia sangat romantis... sekali aku benar-benar tidak menyangka dia yang dingin dan datar dulunya bisa memperlakukanku bagai ratunya ah...senangnya." ucap Hafsa senyum cerah terpancar di wajahnya.


Melati jadi ikut tersenyum cerah melihat temannya bahagia.


"Hafsa, asal kau tau juga tuan Rey yang kaku dan cuek itu ternyata dia juga bisa romantis dia juga... sudah melamar ku ah... aku tidak percaya ini usaha ku selama ini tidak sia-sia." ungkap Melati senang bukan main.


"Apa? jadi kau dilamar tuan Rey serius." Hafsa bahkan tidak percaya jika impian Melati terwujud.


"Serius, aku yakin suamimu pasti tau dan sudah memberitahu mu kan."


"Iya sih dia sudah memberitahu ku tapi aku juga ingin langsung dengar dari mulutmu."


"Dan yang paling membuatku terkejut adalah ibu nya Rey datang dan dia merestui kami." ujar Melati heboh.


"Apa? ibu Rey kesini." Hafsa jadi ikut heboh.


"Iya... aku senang sekali sebentar lagi aku akan menjadi istrinya."


"Selamat Melati aku senang mendengarnya."


Kedua sahabat itu terus tertawa bahagia bahkan sampai menggoyangkan tubuh mereka kebiasaan wanita jika merasa bahagia maka tubuhnya pun akan merespon.


Pak Wawan tukang kebun yang melihatnya ikut tersenyum karena nona nya sangat senang sekali. Dia hanya bisa mendoakan semoga nona dan sahabatnya bisa terus tersenyum dan bahagia.


"Ternyata begini kelakuanmu, aku jadi rindu padamu." ucap Elang melihat Hafsa di ponsel yang terhubung CCTV di rumah besarnya.


"Rey, apa kau mau memanggil calon mu juga untuk datang kesini?." Elang menawarkan pada Rey yang ternyata sedang ada di ruangan nya.


"Tidak perlu tuan, itu akan mengganggu konsentrasi ku nanti." jawab Rey datar.


"Tentu saja tuan, ada saatnya untuk berdua." jawab Rey mengalihkan wajahnya.


"Oh baguslah kalau begitu, padahal aku menawarkan dirimu untuk bekerja santai atau... kita makan siang bersama. Kau mau?." Elang menawarkan lagi berharap Rey mau di ajaknya.


"Baiklah tuan aku ikut denganmu." Rey langsung menjawab cepat.


"Hem.. bilang saja kalau kau juga ingin bertemu." Elang mencibir Rey dan Rey hanya diam saja namun sebenarnya dalam hati dia malu mengakuinya.


"Baiklah kau reservasi tempat makannya, aku akan menelfon istriku." kata Elang memberi perintah.


"Baik tuan."


Kemudian Elang mengambil ponselnya dan memencet nomor istrinya supaya tersambung.


Diseberang sana saat Hafsa dan Melati sedang asyik mengobrol ponsel Hafsa tiba-tiba berdering ia pun melihatnya dan tertera nama suaminya yang tampan menelfon dia pun langsung tersenyum cerah.


"Huss Suamiku telfon." kata Hafsa menyuruh Melati diam dengan menaruh telunjuknya di mulut.


Melati menurut dengan gerakan mengunci mulut.


"Halo kak Elang, ada apa?." Hafsa terlebih dahulu menyapa.


"Istriku aku ingin makan siang, ikutlah denganku dan ajaklah temanmu karena sekretaris ku juga ingin bertemu dengannya." ucap Elang langsung pada intinya.


"Iya aku mau, aku akan datang bersamanya." jawab Hafsa tersenyum senang.


"Cepatlah siap-siap Galang sudah menunggumu di depan dan aku juga menunggumu." ujar Elang lagi.

__ADS_1


"Baiklah aku akan bersiap. Sampai jumpa." lalu Hafsa langsung menutup telfonnya sepihak membuat Elang kesal.


"Ah.. selalu saja dia menutup telfonnya duluan." kata Elang bersungut-sungut.


"Tuan, aku sudah me reservasi tempat makan yang nyaman."


"Bagus, sekarang kita tunggu mereka."


Sedang di sana Hafsa memberi tahu Melati tentang ajakan suaminya.


"Melati, kita di ajak makan siang bersama sekarang ini." ucapnya gembira.


"Ah yang benar kau saja kali aku tidak." kata Melati karena masa iya Elang mengajaknya juga.


"Kak Elang mengajak Rey juga mengajak dirimu, kau ini bagaimana masa tidak mengerti." ucap Hafsa gemas.


"Oh.. okelah ayo kita siap-siap!." Melati langsung sigap saat tau ada Rey juga.


Hafsa hanya mencibir sahabatnya itu.


Mereka pun bersiap-siap untuk memenuhi undangan pujaan hatinya masing-masing.


Tak lama kemudian Melati sudah selesai duluan seperti biasa seleranya bergaya casual sangat simpel dan juga nyaman.


Dia memakai outfit kemeja kekinian dengan celana Levis panjang, sepatu sneaker rambut dikuncir kuda dan juga tas selempang kecil.


Melati melihat Galang sudah standby di tempat dia pun menghampirinya.


"Hay, lagi apa?." sapa Melati basa basi.


"Sedang menunggu hujan turun nona." jawab Galang sekenanya.


"Heh mana ada hujan turun terang benderang seperti ini, aneh kau yah!." timpal Melati kesal.


"Maaf nona tapi hujan nya sudah turun dan satu lagi yang belum." kata Galang.


"Apa sih maksudmu? hujan sudah turun satu lagi belum." ucap Melati tidak mengerti.


"Nona yang sudah turun dan nona Hafsa yang belum turun." kata Galang mengartikan kata hujan.


"Oh jadi.. kau menganggap kami hujan." Melati berkacak pinggang sambil menatap tajam Galang.


"Apa nona mau api saja yang selalu emosi dan memancarkan permusuhan ketimbang hujan yang selalu mendamaikan." ucap Galang memberi peribahasa membuat Melati keki di buatnya.


"Hah! kau ini ada-ada saja, terserah mu lah." kata Melati lebih memilih mengalah dan Galang hanya tersenyum tipis.


Tak lama kemudian Hafsa datang dengan memakai dress longgar selutut dengan panjang lengan sampai siku dan memakai sepatu wedges, rambut dibiarkan terurai dengan memakai hiasan bando diatasnya sangat manis dan imut juga tas selempang yang cantik.


"Aku sudah siap ayo kita berangkat." ucap Hafsa saat sudah mendekati mereka.


"Hujan satu lagi sudah turun, ayo nona-nona kita berangkat." ucap Galang tersenyum sambil membukakan pintu samping mobil.


"Hujan." kata Hafsa melihat langit terang begini di bilang hujan turun pikirnya.


"Kita hujan Hafsa." jelas Melati berbisik di telinga.


"Kita hujan." ulang Hafsa tidak mengerti.


"Sudahlah malas aku menjelaskannya, masuk saja." Melati kemudian mendorong Hafsa pelan supaya masuk kedalam mobil.


Hafsa menurut namun dengan wajah yang masih kebingungan.

__ADS_1


Mobil pun melaju membelah jalanan di ibukota yang ramai.


__ADS_2