Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 120


__ADS_3

Setelah selesai makan, orang tua Melati di ajak ke taman oleh Bu Mala hanya untuk sekedar menghirup udara segar sambil minum teh, setelah itu Bu Mala pamit untuk membuat kue bersama Melati karena dia merasa penasaran dengan makanan buatan calon menantu nya ini.


Rencananya Melati akan membuat brownies fudge untuk cemilan di bantu oleh Mala.


"Semua bahan sudah siap, saatnya eksekusi." seru Melati menatap bahan-bahan di depannya.


"Waw kalian sedang apa? sepertinya seru." tiba-tiba datang Raka mendekati mereka.


"Raka, kebetulan kau datang tolong bantu mamah sama kakak ipar mu yah!." ucap Mala.


"Oke, siap!." jawab Raka mengacungkan jempolnya.


Mereka pun kini membuat adonan dengan bahan yang sudah di siapkan dengan kerjasama yang apik dan rapih kue pun sudah jadi di buat tinggal di kukus.


"Nah, sekarang kita tunggu!." kata Melati pada ibu dan anak itu.


"Nyonya ada telfon." lalu datanglah kepala pelayan dengan membawa ponsel.


"Oh iya terimakasih." Bu Mala menerima nya.


"Halo." jawab Mala pada seseorang di balik ponsel.


"Oh iya tunggu sebentar." lalu menatap Raka dan Melati bergantian.


"Raka, Melati ibu ada telfon sepertinya penting ibu tinggal dulu yah. Oh iya Melati jika sudah matang jangan lupa pisahkan untuk ibu yah." ucap Mala begitu sibuk sendiri.


Saat Mala pergi, Raka mencuri perhatian pada Melati meski dia adalah calon istri dari kakaknya.


"Tidak menyangka mahasiswi baru di kampusku ternyata menjadi kakak ipar ku." ucap Raka tersenyum kecil menatap Melati namun ada luka yang lumayan sakit.


Melati mendongak menatap Raka, "Ya.. aku juga tidak menyangka ternyata kau adik ipar ku." balas Melati tersenyum.


"Tapi.. aku merasa kau terlalu muda untuk kakak ku."


"Memangnya kenapa kalau terlalu muda?."


"Ya... tidak pantas saja, usia kakak ku itu sudah kepala tiga dan kau sepertinya seumuran denganku jadi..."


"Jadi lebih pantas denganmu begitu." Melati langsung melanjutkan ucapan Raka yang terjeda.


"Waw jawaban yang tepat." kata Raka menjentikkan jari nya.


"Hem.. justru aku lebih suka dengan pria dewasa ketimbang yang seumuran karena pria dewasa itu lebih melindungi dan juga menyayangi." tutur Melati.


"Jadi menurut mu seumur itu tidak dewasa dan tidak bisa melindungi begitu." ucap Raka merasa tersinggung.


"Ya... bukan begitu juga. Ah.. sudahlah pokoknya aku lebih suka pria dewasa untuk ku jadikan suami." seru Melati merasa Raka membelitnya.


"Kalau seandainya aku jadi pria dewasa nya kira-kira kau mau denganku?." ucap Raka keluar begitu saja sambil menatap wajah Melati dari dekat.


Melati begitu risih melihat tatapan Raka yang tidak biasa dia pun memundurkan wajahnya.


"Kau ini belum tentu juga aku suka." kata Melati tiba-tiba gugup.


Raka tersenyum, "Kalau itu terjadi denganku aku pasti akan mengejarnya."


"Maksud mu apa sih bicara seperti itu Raka?." tanya Melati merasa Raka ini seperti main-main.

__ADS_1


"Aku ingin jujur, sebenarnya aku suka padamu pada pandangan pertama." ucap Raka serius menatap wajah Melati tanpa berkedip.


Melati terkejut karena Raka tiba-tiba bilang suka padanya.


"Tapi sayangnya kau akan menikah dengan kakak ku sendiri." lanjutnya dengan wajah pias.


"Haha kau terlambat Raka, berarti kau bukan jodohku." kata Melati berusaha menghilangkan keterkejutan nya.


"Kalau kita kawin lari bagaimana? aku siap menikahi mu." ucap Raka begitu asal.


Mata Melati membulat sempurna, apa-apa an ini, mau di gantung sama Rey tiba-tiba bilang kawin lari lagian siapa yang mau kawin lari denganmu pikir Melati.


"Kau aneh-aneh saja, mau di gantung kau sama kakak mu." ujar Melati menjitak kepala Raka.


Raka mengelus kepalanya yang di jitak.


"Aku serius Melati, apa dari wajah ku aku terlihat main-main. Asal kau tau kau adalah wanita pertama yang membuatku tertarik."


Mendengar ucapan itu Melati memutar bola mata malas terlihat sekali jika Raka hanya membual.


"Sudah cukup Raka." Melati menengok ke belakang melihat asal suara di belakang nya.


Ternyata Rey yang datang dengan berjalan tegap dan wajah datar menatap Raka.


"Kau ingin menggoda calon istriku." kata Rey menatap datar Raka.


"Kau menguping." Raka malah menanya balik.


Rey menghela nafas, "Kenapa kau harus ada disini? kenapa tidak menetap saja di sana?." seru Rey karena Raka pun belum lama tinggal disini.


"Aku ingin tinggal disini karena gadis-gadis disini lebih manis dari pada di sana." jawab Raka tersenyum menatap Melati.


"Hem... ya aku tau, kau tenang saja kak, aku tidak sejahat yang kau pikir aku tidak akan mengambil milik orang lain apalagi kakak ku sendiri." ujar Raka menjelaskan.


"Baguslah jika begitu." kata Rey tanpa senyum.


Melati merasa lega karena Raka tidak bicara macam-macam, dia pun melihat ke arah kukusan tidak terasa sudah matang karena kelamaan mengobrol diapun mengambilnya.


"Sudah-sudah jangan ribut, ini cobain brownies buatan ku." ucap Melati pada dua kakak beradik itu.


Mereka yang di panggil mendongak, Raka langsung sigap mengambil potongan brownies itu di ikuti Rey.


"Bagaimana rasanya?." tanya Melati penasaran.


"Wah... enak Mel." sambil mencomot lagi.


Sedang Rey hanya mengangguk.


"Oh iya, aku akan bawakan kue ini untuk ketiga orang tuaku." ucap Melati sambil membawa kue itu di nampan dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Melati suasana mendadak hening atmosfer pun berubah yang tadi hangat menjadi dingin, Raka jadi bergidik saat matanya bertatapan dengan manik mata Rey yang tajam.


"Tidak perlu melihatku seperti itu juga, aku ini adikmu bukan musuh mu." ujar Raka memalingkan wajahnya.


"Maka kau akan menjadi musuh ku, jika sampai berani mendekati wanitaku." kata Rey dengan datar, setelah mengatakan itu dia pun pergi meninggalkan Raka yang otaknya tiba-tiba ngebleng.


"Hah dasar kakak macam apa itu, adik sendiri di ancam." ucapnya menggerutu.

__ADS_1


Lalu ponsel Raka berdering tertera nama Angga di sana.


"Halo." jawab Raka dengan menempelkan hp ke telinganya.


"Iya halo, kau lagi apa Ka?" tanya Angga di seberang sana.


"Aku tidak sedang apa-apa, memang nya kenapa?." jawab Raka.


"Datanglah kesini."


"Oke, kebetulan ada yang ingin aku sampaikan pada mu."


"Waw apa itu? pagi-pagi kau sudah buat penasaran."


"Ya sudah tunggu aku."


Telfon pun di tutup, Raka segera bergegas ke kamarnya untuk mengambil kunci motor.


*****


Sesampainya di tempat, di sana sudah ada Angga dan Rama, minuman soda serta kacang-kacangan juga sudah tersedia.


"Hay! bro." Raka datang sambil bersalaman ala anak muda lalu duduk di tengah-tengah mereka.


Sebelum mulai berbicara Raka meminum soda di depannya Angga dan Rama melihatnya dengan seksama.


"Ada apa Ka? kusut sekali wajahmu." tanya Angga terkekeh.


"Iya, wajahmu seperti habis di tolak gadis saja." tambah Rama ikut terkekeh.


"Secara tidak langsung aku memang di tolak secara halus." seru Raka membuat Angga dan Rama melebarkan matanya.


"Apa maksudmu? memangnya kau sudah mengutarakan perasaan mu pada mahasiswi baru itu." kata Angga.


"Kalian berdua pasti akan terkejut jika aku memberi tahu siapa Melati itu." kata Raka membuat kedua temannya semakin penasaran.


"Kau ini berbelit-belit sekali kenapa tidak langsung pada intinya." seru Angga karena kebiasaan Raka yang seperti itu.


Raka terkekeh kemudian berucap, "Melati adalah calon kakak ipar ku calon istri yang akan di nikahi oleh kakak ku."


"Apa...?" Rama dan Angga terkejut bersamaan.


Setelah itu mereka tertawa kencang.


"Tidak perlu menertawai ku, dan kau Angga ku doakan gadis yang kau sukai ternyata sudah bersuami." ujar Raka menunjuk Angga.


Seketika Angga terdiam dan menatap Raka tajam.


"Jika dia sudah bersuami... apalah dayaku."


Hahaha semua pun tertawa bersama di kira jawabannya akan terdengar kejam malah membuat tertawa.


"Sudahlah dari pada berbicara itu terus lebih baik kita main game." tawar Rama akhirnya.


"Bolehlah ayo." sahut Raka.


"Oke!"

__ADS_1


Akhirnya mereka pun lebih memilih bermain game kesukaan mereka.


__ADS_2