
Hafsa sudah selesai mengganti bajunya dikamar mandi dengan pakaian biasa yang ia pakai. Keluar dari kamar mandi dan menaruh. aku pengantin itu ke keranjang khusus yang diberikan MUA untuk menaruh baju pengantinnya.
Hafsa mendekati Elang yang sedang minum dan berkata, "Tuan, aku sudah selesai, mari aku bantu bukakan bajunya."
"Kau lama sekali, aku sampai kehausan karena menunggumu." jawabnya ketus tapi Hafsa tetap mendekati, sepertinya dia harus terbiasa dengan wajah ketusnya Elang tapi tetap saja masih tampan, hehehe.
"Tidak usah banyak bicara tuan, mari aku bantu." jawab Hafsa sambil membuka kancing kemeja Elang.
"Kau... berani mengataiku." Elang tak habis pikir kenapa pengasuhnya ini benari sekali padanya.
"Mau dibantu tidak, kalau tidak mau lebih baik aku tidur, aku lelah sekali " kata Hafsa tak peduli marahnya Elang.
Elang hanya bisa menahan kesalnya lalu membiarkan Hafsa membuka semua pakaiannya termasuk celananya juga, tapi dia menyisakan satu yaitu celana boxsernya karena dia tidak mau melihat yang belum waktunya dia lihat.
Lalu ketika Hafaa ingin memakaikan baju tidur untuk Elang, tiba-tiba Elang langsung menepisnya.
"Ada apa?" tanya Hafsa heran.
"Aku tidak suka memakai baju jika ingin tidur, begini saja." kata Elang datar.
"Em... baiklah!" meskipun Hafsa malu sendiri tapi tetap dia harus melakukannya karena bukan sekali dua kali dia melihatnya.
"Bantu aku ke ranjang." perintah Elang.
"Baik tuan." Hafsa membantu Elang berdiri untuk pindah ke ranjangnya dan sesuatu tidak terduga terjadi. Hafsa tiba-tiba terpeleset sehingga tak sengaja mendorong Elang sampai terjatuh, untung saja jatuhnya diranjang Elang bukan dilantai.
Hafsa pun terjatuh diatas dada bidang Elang dan lebih mengejutkan lagi bibir mereka bersentuhan beberapa detik membuat mata Hafsa membola dengan sempurna sedangkan Elang terlihat biasa saja tapi dihatinya sebenarnya jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat keras sekali.
Deg..
"Maaf tuan aku tak sengaja." Hafsa menyadari kesalahannya dan langsung beranjak dari tubuh Elang.
"Kau benar-benar ingin mencari kesempatan yah! aku tau tidak ada satu pun wanita yang tidak mau denganku, termasuk kau." ucap Elang membuat Hafsa yang tadinya merasa bersalah kini malah jadi emosi.
__ADS_1
"Maaf ya tuan, aku kan sudah bilang kalau itu tidak sengaja dan aku bukan mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Oh begitukah, kalau begitu kau jangan tidur diranjangku, karena ini anti untukmu." kata Elang bersandar diranjangnya.
"Tentu saja aku tidak ingin tidur seranjang denganmu." balas Hafsa cepat dengan nada kesal.
"Ya sudah sana menjauh dariku."
"Baik hu...!" Hafsa pun mengambil bantal dan selimut kemudian menuju sofa untuk tidurnya, karena mungkin mulai malam ini dia akan tidur di sofa empuk itu.
****
"Bagaimana? apa kau sudah menyelidikinya?" tanya seorang wanita paruh baya pada anaknya saat sedang sarapan pagi.
"Sepertinya yang aku lihat, Elang tidak mencintai gadis itu dan terlihat hanya berpura-pura." jawab putranya, sambil mengolesi selai kacang kerotinya.
"Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Sinta bahkan sangat suka sekali dengan gadis itu." jawab wanita paruh baya itu lagi.
"Ya... mungkin hanya tante Sinta yang menyukainya, tapi anaknya tidak mungkin terpaksa menikahinya." jawab putranya lagi menebak sambil mulai mengunyah rotinya.
"Memangnya mamah yakin, jika gadis itu bisa kita manfaatkan."
"Mamah yakin sekali, dia sangat polos dan tidak tau apa-apa."
"Em.. bagaimana jika aku nikahi dia saja mah? dia cantik dan sepertinya dia juga tidak bodoh." ucap lelaki itu membayangkan kecantikan gadis itu yang tak lain adalah Hafsa yang sekarang sudah menjadi status istri sah tuan Muda Elang.
"Hey,!" ibunya menepuk pundak anaknya keras membuat anaknya meringis pelan.
"Mamah kenapa memukulku?"
"Hey, meski dia cantik tapi dia bukan selevel dengan kita dia hanya orang miskin dan tidak berpendidikan. Ingat itu."
"Iya mah, aku tau."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu lalu tersenyum sinis, membayangkan rencananya akan berhasil.
Karena rencana yang sudah pun dia berhasil dan dia yakin kali ini juga dia akan berhasil, apalagi melihat Hafsa yang dia kira gadis yang bisa dimanfaatkan.
****
"Hafsa bagaimana tidurmu? pasti nyenyak iya kan." tanya Melati saat Hafsa berada di dapur hendak membawakan sarapan pagi untuk tuan muda yang sekarang menjadi suaminya.
"Tidak, sama sekali. tuan muda itu meski sudah menjadi suami tapi tetap saja tuan muda, sangat ketus sekali." jawab Hafsa seperti malas membahas.
"Kau sabarlah. Percayalah tuan muda lama kelamaan pasti akan jatuh cinta padamu." rayu Melati.
Melati juga sebenarnya sudah tau alasan Hafsa menikah dengan Elang, karena Hafsa percaya dengan Melati maka Hafsa menceritakan semua alasannya.
Awalnya Melati terkejut tidak menyangka bahwa nyonya Sinta meminta keinginan seperti itu, tapi karena ini demi kebaikan maka Melati juga mendukungnya dan membantu sahabatnya untuk meluluhkan hati tuan muda dingin itu.
"Apa aku menyerah saja yah!" ucap Hafsa lesu.
plakk...
"Aww.. Melati kenapa kau memukulku?" secara tiba-tiba Melati memukul lengannya dengan keras.
"Enak saja kau bilang menyerah. Kau itu baru sehari menikah masih ada banyak waktu untuk kau berusaha. Dengar yah aku juga sedang berusaha meluluhkan hati asisten Rey." balas Melati dengan semangat dan pipinya memerah saat menyebut nama lelaki pujaan hatinya.
"Hey, itu berbeda denganmu, kau sudah jatuh cinta pada lelaki itu, sedangkan aku tidak." kata Hafsa bertambah lesu.
"Apa?? jadi kau tidak menyukai tuan muda." Melati tak percaya jika Hafsa tidak menyukai Elang.
"Hey, meski tuan muda lumpuh dan buta tapi dia tampan, pintar dan kaya. Masa kau tidak tertarik padanya sama sekali sih!" Melati bersungut-sungut bingung.
"Ini masalah hati Melati, mungkin aku belum mencintainya atau tidak sama sekali aku hanya terkadang canggung saja jika berdekatan dengannya." protes Hafsa, memangnya jika dinikahkan dengan terpaksa dengan orang kaya dan dia tampan harus jatuh cinta begitu. Kan tidak!.
"Ya sudah itu terserah padamu saja. " Melati lalu pasrah pada sahabatnya.
__ADS_1
Hafsa juga sudah selesai dia pamit untuk mengantarkan sarapan pada suaminya itu.