Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 48


__ADS_3

Setelah Hafsa dan nyonya Sinta sedikit berbincang dan mengabaikan mereka, akhirnya pandangan nyonya Sinta beralih pada mereka bertiga.


"Nyonya, apa kabar? nyonya makin cantik saja!" sapa Melati sebelum majikannya bersuara sambil menundukkan wajah sebentar.


"Kau...?"


"Melati. Nyonya!"


"Oh iya Melati. Aku baik dan terimakasih pujiannya, kau juga cantik." ucap nyonya Sinta setelah mengenali Melati yang memang dari awal selalu bersama Hafsa.


"Nyonya bisa saja, aku jadi malu." Melati malah tersipu malu padahal itu hanya pujian biasa apalagi jika Rey yang memujinya pasti sudah dag dig dug serr.


Lalu pandangan mata nyonya Sinta beralih pada dua orang wanita yang tidak dikenalnya.


"Ini... siapa?" tunjuk nyonya Sinta bertanya pada Hafsa.


Saat Hafsa hendak membuka suaranya untuk menjawab Rahma malah langsung memulai duluan.


"Perkenalkan nama saya Rahma, ibu tirinya Hafsa dan ini anak say ma Sesil saudari tirinya Hafsa." ucap Rahma tak malu malah sengaja menjabat tangan nyonya Sinta sehingga membuat nyonya Sinta merasa risih.


Dan Sesil hanya mengangguk saja.


"Oh.. ibu tiri!" nyonya Sinta berusaha melepaskan tangannya dari tangan Rahma bukan maksud sombong hanya saja Rahma dinilai tidak punya attitude.


"Lalu kenapa waktu pernikahan Hafsa kalian tidak hadir." sambung nyonya Sinta.


"Itu karena aku tidak tau jika anakku menikah, tapi tidak apa-apa mungkin dia lupa memberitahu dan sekarang aku datang sendiri kesini ingin menebus kesalahan itu." tutur Rahma pandai bersilat lidah.

__ADS_1


"Kesalahan apa?" tanya nyonya Sinta heran begitu juga Melati dan Hafsa yang sedang menyimak.


"Ya maksudku kesalahan karena tidak datang dan tidak mencari tau dan sekarang karena aku sudah tau mangkanya aku kesini ingin bertemu dengannya." unkap Rahma pintar sekali.


"Oh... lalu kalian mau apa kesini?" tanya nyonya Sinta, sungguh membuat mereka malu.


Pasalnya nyonya Sinta seperti tidak merespon mereka tapi Rahma tidak mau menyerah dia akan terus bersilat lidah supaya dia bisa tetap berada disini.


"Eh... nyonya." Rahma malah bersujud dikaki nyonya Sinta dengan mengajak Sesil yang membuat nyonya Sinta, Hafsa dan Melati terkejut.


"Eh! untuk apa kalian melakukan hal ini?". nyonya Sinta mundur perlahan, karena belum pernah ada orang lain yang bersujud dikakinya selain anaknya Elang.


"Nyonya maafkan kami, dan kasihanilah kami. Aku memang ibu tirinya tapi aku dan ayah Hafsa sudah bercerai. Tapi... setelah bercerai kami hidup terlunta-lunta tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pekerjaan, tolonglah kami." ungkap Rahma dibuat semelas mungkin dan berhasil mengeluarkan air mata palsunya.


Bahkan Hafsa sampai heran dengan sikap ibu tirinya saat ini, sedang Melati hanya menatap sinis.


"Kalian tidak punya tempat tinggal, lalu kalian tinggal dimana selama ini?" tanya nyonya Sinta.


"Kami tinggal dikontrakan kecil nyonya, tapi.. karena kami tidak mampu membayar sewa jadi kami diusir." cerita Rahma tambah membuat nyonya Sinta iba.


Hafsa juga iba tapi mau bagaimana lagi dia sendiri tidak tau bagaimana kehidupan mereka setelah bercerai dengan ayah kandungnya.


Nyonya Sinta berfikir tidak ada salahnya jika menampung mereka selagi mereka tidak berbuat yang macam-macam tapi jika mereka sampai ketauan macam-macam maka tidak ada ampun untuk mereka.


"Baiklah, karena kalian masih termasuk keluarga dari menantuku kalian boleh tinggal disini dan bekerja disini." ucap nyonya Sinta setelah berfikir tadi.


Hafsa sudah menduga bahwa nyonya Sinta akan mengijinkan dan dia tidak tau apa yang akan terjadi nanti mudah-mudahan saja mereka memang sudah berubah.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Melati, dia mempunyai insting yang berbeda.


Awas saja jika terjadi sesuatu pada sahabatnya dia yang akan maju duluan.


Mendengar penuturan nyonya Sinta tentu saja membuat Rahma dan Sesil sangat senang mereka mengembangkan senyumnya selebar mungkin karena usaha mereka berhasil.


"Sayang, tidak apa-apa kan jika mereka tinggal dan bekerja disini." kata nyonya Sinta pada Hafsa.


Hafsa mengerjap bingung ingin menjawab apa diapun menjadi gugup.


"E.. eh aku...tidak apa-apa! ini kan rumah mamah, kenapa harus tanya padaku?." kata Hafsa memang benar.


Nyonya Sinta hanya tersenyum, " Baiklah, kalian berdua ayo ikut aku." ucapnya menunjuk Rahma dan Sesil dengan dagunya.


"Melati." panggil nyonya Sinta.


"Saya nyonya."


"Tolong siapkan makan malam yang istimewa kali ini." perintahnya.


"Baik nyonya, siap laksanakan." dengan lucunya Melati membuat hormat pada majikan besarnya yang membuatnya tersenyum kemudian pergi.


"Sayang, tolong beritahukan pada suamimu bahwa mamah sudah datang dan mamah ingin mendengar kabar baik dari kalian." kata nyonya Sinta kemudian melenggang pergi bersama Rahma dan Sesil.


Dalam langkahnya Sesil penasaran siapa suami Hafsa ini? jika mereka kaya kenapa bisa dia mau dengan pengasuhnya sendiri yang notabenenya dari kelas bawah.


Sedangkan Hafsa sedang mencerna kabar baik apa yang dimaksud mertuanya apakah... bagaimana dengan perkembangan terapi anaknya atau hal lain.

__ADS_1


Sudahlah tidak usah dipikirkan lebih baik lihat nanti saja begitulah pikirnya. Hafsa pun melenggang pergi untuk memberitahu suaminya.


__ADS_2