Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 32


__ADS_3

"Mari tuan aku bantu keranjang dan aku akan memijat tuan." kata Hafsa dengan lembut tanpa ada kemarahan didalamnya membuat Elang terdiam.


Tapi tetap menuruti perintah istrinya.


Kini Elang dengan bantuan satu tangan dia bisa menopang tubuhnya sendiri dia tidak menyangka bisa mendapatkan perubahan yang sangat terlihat tidak seperti sebelumnya yang sama sekali tidak membuahkan hasil.


Dengan perlahan akhirnya Elang sampai keranjang king size nya dan duduk dengan tenang dan Hafsa pun menyelimuti sebagian tubuhnya.


"Tunggu sebentar yah tuan aku akan menaruh piring kotornya dulu sekalian isi bensin untuk menambah tenaga karena akan begadang." ucap Hafsa tersenyum dan anehnya Elang mengangguk.


Gadis itu pun lalu keluar dari kamar Elang yang mewah, mendengar suara pintu yang menutup seketika membuat Elang tersadar dari diamnya.


"Sial, kenapa aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya sama sekali tak membantah apa yang dia katakan. padahal aku ini ingin mengerjainya." seru Elang meremas rambutnya sendiri karena tidak menyangka bahwa dia jadi diam saja dihadapan istri tapi dia anggap pelayan itu.


*****


Melati sudah bersih dengan pakaian gantinya karena rambutnya masih basah jadi dia sengaja menggerai rambutnya yang panjang.


Ditangannya sudah tersedia nampan berisi kopi dan cake puding buatannya yang sangat enak.


Dengan berjalan santai sambil terus tersenyum, Melatipun akhirnya sampai didepan ruangan Rey dan mengetuk pintunya.

__ADS_1


tok


tok


tok


"Tuan ini aku Melati.. " seru Melati dengan suara keras.


"Masuk." terdengar sahutan dari dalam.


Melati pun masuk dengan sigap dan hati-hati takut yang dia bawa jatuh sia-sia.


"Permisi tuan, ini saya bawakan kopi dan cemilan untuk tuan." Melati meletakkannya di atas meja dimana Rey duduk.


"Tidak ada, ini inisiatif ku sendiri. Cobalah tuan ini buatanku sendiri loh kata orang-orang kue dan masakanku itu enak-enak dan tuan sepertinya belum pernah mencoba masakanku. Iya kan." jawab Melati panjang lebar dengan senyum sumringah.


"Apa peduliku mencoba masakanmu?" ujarnya masih datar.


"Ya... tuan harus peduli ini demi meningkatkan nafsu makan dan imun tetap terjaga." jawab Melati tak menyerah.


"Aku tidak lapar." kilah Rey berusaha menahan keinginan untuk menyantapnya karena dari lirikan saja cemilan itu bentuknya cantik mungkin rasanya juga enak.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, nanti juga tuan lapar, sekarang apa tugasku?" ucap Melati mengalihkan, dia yakin Rey pasti akan memakannya.


Rey berhenti dari tugasnya dan menyebutkan tugas Melati sekarang.


"Kau rapikan semua buku-buku itu dan bersihkan semuanya dan harus bersih. Kau mengerti." Titah Rey menunjuk rak penuh buku disampingnya.


Melati melihat kearah yang dituju Rey, dan mulutnya seketika terbuka karena buku dihadapannya sudah tertata rapi lalu apa yang harus dibersihkan.


"Tuan, apa tuan tidak salah ini apa yang harus dirapikan bukunya sudah rapi." kata Melati bingung.


Mendengar jawaban Melati, Rey bangkit dari kursinya dan menuju ketempat rak itu. Lalu menyentuh permukaannya dengan dua jarinya seperti mengelap, kemudian maju kehadapan Melati dan memperlihatkannya.


"Kau lihat ini?" tunjuk nya pada Melati.


Melati mencondongkan wajahnya demi melihat dengan jelas debu yang menempel dijari Rey yang ternyata sedikit.


"Lemari itu berdebu, cepat bersihkan." kata Rey lalu duduk kembali dan membersihkan tangannya dengan tisu basah yang tersedia.


"Hah.. cuma debu sedikit saja, dasar orang kaya." gumamnya pelan tapi masih terdengar ditelinga Rey yang tajam.


"Jangan banyak bicara, cepat kerjakan." ucap Rey tegas.

__ADS_1


"Baik tuan." senyum Melati didepannya ketika berbalik bibirnya berubah manyun.


__ADS_2