Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 64


__ADS_3

"Kenapa? bukankah kita sudah melakukannya, apa kau lupa." ujar Elang tersenyum.


Hafsa gelagapan, iya juga bukannya dia sudah melakukannya tapi dia rasa seperti belum maka dari itu dia gugup.


"Tapi tuan."


Mendengar kata tuan lagi Elang langsung saja mencium bibir Hafsa karena gemas sekaligus kesal, Hafsa pun tidak bisa bisa mengelak karena dia dikukung oleh tubuh besar Elang.


"Aku tidak ingin kau memanggilku tuan lagi dan ini hukumanmu jika kau memanggilku tuan lagi." kata Elang melepaskan ciumannya sambil jarinya menyentuh lembut bibir Hafsa yang basah.


"Lalu aku harus memanggil apa?" tanya Hafsa gugup yang membuatnya gugup adalah posisinya yang menempel pada Elang sehingga dia jadi merasakan sesuatu yang keras sedari tadi dibawah sana.


"Terserah, asal tidak tuan." jawab Elang terus menahan hasratnya.


"Baiklah, kak Elang bisakah posisinya jangan seperti ini, ini membuatku tidak nyaman." kata Hafsa mengalah demi menghilangkan gugupnya.


"Benar sekali aku pun tidak nyaman dan sepertinya kita harus pindah dari sini."


"Kita..."


"Ya kita."


Setelah itu Elang berdiri sambil menggendong tubuh Hafsa yang polos membuat wanitu itu reflek menutupi bagian intimnya.


"Kak Elang."


"Sudah diam, kau harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku." kata Elang dengan suara beratnya.


Elang pun berjalan menuju ranjang dengan berhati-hati dan disini Hafsa yang takut karena Elang belum bisa melihat tapi malah menggendongnya dia pun mau tak mau mengarahkan Elang ke tempat yang di tuju.


Setelah sampai di ranjang langsung saja Elang menidurkan Hafsa dan menindihnya dan melakukan kegiatan panas di sore hari yang sejuk.


*****


"Ah sakit sekali, si tuan muda ini ternyata kuat juga padahal belum bisa melihat bagaimana kalau sudah bisa melihat bisa remuk aku." gumam Hafsa meregangkan tubuhnya karena pertempuran itu.


Elang tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat Hafsa terkejut.


"Kau bicara apa? Hem." hidungnya sambil mengendus leher Hafsa membuat Hafsa geli.


"Tidak bicara apa-apa tu ah kak Elang." hampir saja Hafsa keceplosan.


"Hem... kak ya sudah tidak apa-apa!" Elang tidak masalah dengan panggilan itu.


"Kenapa kau tidak panggil aku sayang atau Beby atau sejenisnya?." tanya Elang masih mengendus leher jenjang Hafsa.


"Eh.. aku tidak mau manggil itu geli sekali mendengarnya lebih baik kakak itu merasa nyaman untukku." jawab Hafsa.


"Oh iya kak, aku ingin bertanya." Hafsa berbalik menatap Elang tujuannya supaya Elang berhenti mengendus lehernya.

__ADS_1


"Tanya apa?"


"Jika kau sudah bisa melihat, siapa orang pertama yang ingin kau lihat?" tanya Hafsa menatap serius Elang.


"Dirimu." jawab Elang langsung.


Hafsa terdiam tak percaya dengan jawaban Elang, "Aku, kenapa aku tuan?".


"Apa kau perlu jawaban?"


"Tentu saja orang bertanya itu harus di jawab."


"Tapi aku tidak bisa menjawabnya, aku juga tidak tau kenapa harus dirimu."


"Lalu jika bukan aku bagaimana?"


"Maka, aku tidak akan melihat yang lain sebelum aku melihat dirimu."


"Benarkah."


"Ya benar."


"Percaya saja deh." Hafsa terkikik geli membuat Elang bereaksi.


"Hey, kau meledekku kah!"


"Tidak." tapi mulutnya menahan tawa.


tok tok tok


Bunyi suara pintu diketuk menghentikan canda gurau mereka.


"Ahh ada orang aku tidak berpakaian." Hafsa panik saat mendengar suara pintu.


"Hey, kau jangan panik pakailah pakaianmu di kamar mandi." ucap Elang mendengar istrinya panik.


Hafsa langsung memunguti pakaiannya dan berlari ke kamar mandi sedang Elang hanya tersenyum.


"Masuk."


pintupun terbuka masuklah bi Rum dan satu pelayan membawakan makan malam mereka karena Elang sudah memesannya tadi.


Pelayan yang membawakan makanan itu tersenyum melihat ranjang tuan muda berantakan serta celana Elang yang tergeletak di bawah apalagi ada ****** ***** didalamnya membuat pelayan itu sudah dapat menebak adegan apa yang terjadi di dalam kamar itu.


"Tundukkan pandanganmu." titah Bi rum pada pelayan itu.


pelayan itu langsung menundukkan kepala mendapat teguran dari kepala pelayan.


"Tuan, aku bawakan makan malam untuk tuan dan nona." ucap Bi rum dengan penuh wibawa.

__ADS_1


"Taruh saja di sana bi." perintah Elang menunjuk sofa dengan ingatannya.


"Baik tuan." Bi rum mengarahkan pelayan itu untuk menaruh troli itu di meja sofa.


"Sudah tuan."


"Terimakasih." bi rum tidak percaya Elang dapat bersikap ramah pada pelayan pengaruh nona muda nya sungguh besar.


"Sama-sama."


"Àyo cepat pergi." bi rum mengajak pelayan itu untuk meninggalkan tempat itu dan pelayan itu.


Bi Rum menutup pintu, Elang pun memanggil istrinya.


"Mereka sudah pergi, ayo cepat keluar kita makan." ucap Elang berteriak supaya Hafsa dapat mendengar.


Hafsa membuka pintu kamar mandi sudah berpakaian melongokkan wajahnya memastikan sudah tidak ada orang di sana, saat sudah tidak ada dirinya lega lalu keluar.


"Kau belum berpakaian." Hafsa terkejut melihat pemandangan di depannya yang ternyata berantakan pasti yang datang melihatnya, Hafsa pun menjadi malu sendiri.


"Tentu saja belum, memangnya kau pikir aku akan berpakaian di depan mereka." jawab Elang merasa gemas dengan pertanyaan istrinya.


Hafsa hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum malu, "Hehe baiklah mari aku bantu berpakaian."


Jadilah Hafsa membantu Elang dulu dan merapikan tempat tidurnya.


"Selesai, ayo kak aku sudah lapar." ucap Hafsa mendudukkan bokongnya dikursi sofa yang empuk.


Mereka pun makan dengan lahap sampai habis sambil diiringi canda dan tawa.


Elang merasa bersyukur karena kehadiran Hafsa membuat warna baru dalam hidupnya dia tidak menyangka bahwa seorang pengasuh dapat merubah hidupnya yang dulu suram dan kelam kini jadi berwarna juga sikapnya yang dingin dapat bersikap ramah.


Lalu hatinya dia belum bisa menjawab apakah sudah ada rasa cinta atau belum karena untuk saat ini dia hanya merasa nyaman dengan Hafsa.


****


"Aku senang sekali melihat perubahan pada diri Elang." ucap Sinta pada bi Rum yang sedang menatap kelap kelip bintang di langit.


"Iya nyonya aku juga senang karena melihat tuan muda yang sekarang lebih ramah dari pada sebelumnya." jawab Bi Rum.


"Bi Rum, apa kau sudah memastikan mereka?" tanya Sinta mengingat mereka yang disebut adalah Rahma dan Sinta.


"Sudah nyonya, benar dia memang diterima di YG entertainment." jawab Bi Rum.


"Tapi kenapa hatiku masih tidak yakin yah? aku berfikir ada seseorang yang membantu mereka dibelakang." ungkap Sinta merasakan keganjalan di hatinya.


"Sebenarnya aku juga merasa begitu nyonya dari awal mereka masuk memang mencurigakan tapi nyonya tenang saja aku akan terus mengawasinya." papar bi Rum merasakan kekhawatiran nya sejak awal namun karena belum ada bukti maka hal itu tidak bisa di pastikan.


"Terimakasih Bi Rum terus awasi mereka." ucap Sinta tetap tenang namun hatinya merasa waspada.

__ADS_1


"Baik nyonya."


Karena kejahatan sangat licik tidak ada yang tau jika kita tidak mencari tau kebenarannya dan waspadalah sebelum itu terjadi.


__ADS_2