
Hafsa kini sedang berada diluar bersama Melati. Mereka keluar sebentar hanya untuk membeli barang keperluan dipasar yang dekat dengan tempat kerjanya.
Saat diperjalanan Hafsa melihat ada seorang nenek yang hendak menyebrang namun kendaraan tak kunjung sepi membuat nenek itu ragu untuk maju apalagi melihat sekitar orang-orang sangat acuh tidak mempedulikan nenek yang kesulitan itu.
Mungkin karena penampilan nenek itu yang Kumal dan berbaju lusuh jadi tidak ada yang mempedulikan. Hafsa yang melihatnya pun jadi kasihan dan berniat ingin membantu.
"Mel, lihat sepertinya nenek itu mau menyebrang tapi dia tidak bisa dan tidak ada yang membantu, kita bantu sebrangin yuk!" usul Hafsa pada Melati menunjuk nenek yang berada tak jauh darinya.
Melati menengok kearah yang ditunjuk Hafsa, "Ayo kasihan sekali nenek itu! ayo cepat!" Melati antusias menarik tangan Hafsa dan menyeretnya sehingga Hafsa pun jadi ikut terseret.
"Hey, kau ini jangan seret-seret dong!" omel Hafsa pada Melati tapi tidak dipedulikan.
"Nek, mau menyebrang yah!" Melati yang menyapa nenek itu.
"Iya nak, tapi nenek takut." jawab nenek itu.
"Mari nek kami sebrangi, kebetulan kami juga mau menyebrang." kata Hafsa ramah. Nenek itu mengangguk. Kemudian mereka menyebrang tapi saat sudah berada ditengah tiba-tiba ada sebuah mobil yang tidak memelankan lajunya mobil itu terus melaju tanpa fokus melihat kedepan karena didalamnya yang mengemudi mobil itu adalah seorang pria tampan yang berpenampilan casual yang sedang fokus dengan telfonnya padahal mengendarai mobil sambil bermain ponsel itu dilarang. Lalu...
"Awassss....!" Melati berteriak saat mobil mendekati mereka dan hampir menabrak Hafsa yang paling dekat.
Seketika pria itu mengerem mendadak ketika mendengar teriakan itu dan menjatuhkan ponselnya.
Semuanya terkejut hampir saja tabrakan terjadi jika mobil itu tidak berhenti tepat waktu. Hafsa yang paling terkejut mendadak diam dan mengelus dadanya berkali-kali.
Pria itu segera keluar dengan panik sebelum warga menyerangnya dengan membabi buta.
"Maaf, saya tidak sengaja!" pria itu meminta maaf tapi Melati tidak terima.
"Hey, jangan mentang-mentang punya mobil seenaknya sendiri lihat dong kedepan ada orang yang ingin menyebrang." omel Melati menunjuk-nunjuk pria itu.
"Oke, saya tau saya salah saya akan bertanggung jawab," kata pria itu lagi.
Kemudian Hafsa mendongak untuk melihat siapa yang hampir menabraknya.
"Kau, bisa membawa mobil atau tidak! kau hampir menabrak kami."
"Saya...!" pria itu tiba-tiba berhenti bicara saat melihat Hafsa sepertinya pria itu terpana dengan wajah Hafsa.
'Cantik sekali kenapa jantungku tiba-tiba berdebar melihat gadis ini.' kata pria itu dalam hati tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Hafsa.
Hafsa dan Melati yang melihat pria itu terdiam kemudian menyentaknya.
"Hey, malah diam!" sentak Melati.
__ADS_1
"Ah maaf! aku jadi diam karena melihat bidadari dihadapanku." ucapnya asal dengan tersenyum menunjuk Hafsa.
Hafsa mengernyit, "Aneh! kalau tidak mau bertanggung jawab yasudah tidak usah merayu." oceh Hafsa sebal dan mengajak Melati serta nenek itu agar berjalan kembali.
Tapi sebelum itu terjadi pria itu menarik tangan Hafsa dan membuat Hafsa terkejut reflek langsung melepasnya.
"Hey, tuan jangan macam-macam yah!".
"Tidak, aku hanya ingin memberikan kartu nama ini sebenarnya aku ingin bertanggung jawab tapi aku sedang buru-buru jadi aku hanya bisa memberikan ini." pria itu menyodorkan kartu namanya tapi digantung oleh Hafsa.
"Tidak perlu, kami sudah tidak butuh, ayo Mel, nek!" kata Hafsa sudah terlanjur kesal.
"Ayo...!" diikuti oleh Melati dan membantu nenek itu kembali menyebrang.
Pria itu tampak pasrah dan mengusap wajahnya.
'Gadis itu siapa yah? semoga kita bisa bertemu lagi.' ucapnya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya yang seksi. Lalu masuk kembali ke mobilnya dan melaju pergi.
****
"Bu, coba pikirkan lagi? memangnya tidak ada wanita lain selain pengasuh itu." tolak Elang pada ibunya saat mereka sedang berada diruangan keluarga.
Karena setelah Elang berfikir lagi dia merasa gengsi menikahi seorang pengasuh.
"Hey, kenapa? kau malu, bukankah dia pilihanmu sendiri lagi pula pengasuh itu tidak jelek juga dia cantik bahkan sangat cantik dari Diana. Ibu juga tidak masalah jika Hafsa menjadi istrimu, ibu sudah menyukainya dari awal."
Elang terdiam perkataan ibunya ada benarnya juga dan itu sangat mengusiknya meski hati kecilnya ingin menolak tapi tentu saja ini sudah terlanjur dia tidak bisa menolaknya lagi.
"Sudah yah, ibu ingin mengajak Hafsa dulu!" ucap nyonya Sinta berjalan kearah gedung belakang untuk mengajak pengasuh itu.
****
"Hafsa kau sedang apa?" sapa nyonya Sinta tiba-tiba dibelakang Hafsa membuat gadis itu terperanjat dan berbalik.
"Eh nyonya Sinta! saya sedang menyiram tanaman nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" kata Hafsa meletakkan wadah air dan tersenyum gugup pada pemilik mansion megah ini.
"Ada! kau temani aku kebutik!" jawab nyonya Sinta ramah juga.
"Kebutik..., tapi bagaimana dengan tuan muda, karena setelah ini aku harus kesana." tolak Hafsa dengan halus.
"Tidak perlu kamu khawatirkan tentang anak Tante dia sudah Tante beri tau."
"Oh... baiklah saya ganti baju dulu sebentar yah tante."
__ADS_1
"Iya cepatlah karena waktu kita tidak banyak! Ibu tunggu didepan yah!"
"Baik Bu!." tanpa bertanya lagi untuk apa Hafsa menyetujui dan melaksanakan perintah nyonya Sinta karena baginya dia harus hormat kepada majikan apalagi majikannya itu baik.
****
Mereka kini sedang berada di butik ternama milik nyonya Dewi teman dari nyonya Sinta mereka berdua bersahabat baik sejak masih sekolah dasar hingga sekarang dan sama-sama mempunyai anak laki-laki dengan umur hanya beda satu tahun lebih muda dari Elang yang bernama Satria dan satu putri yang sudah menikah.
"Hay, Sinta!" sapa Dewi pada Sinta sambil cipika cipiki.
"Hay, Dewi!" balas Sinta sama juga.
"Apa kabarmu? lama kita tidak bertemu." karena masing-masing kesibukan mereka memang jarang bertemu hanya sering berkomunikasi.
"Aku baik, kamu?"
"Aku juga baik. Ayo masuk ikut aku.!" Dewi menggandeng lengan Sinta menyuruhnya masuk.
"Ayo nak ikut!" Hafsa yang tadi bengong karena kagum dengan gedung mewah itu seketika terhenyak mendengar panggilan dari majikannya.
Dewi mengernyit, "Siapa dia Sin?".
"Dia calon menantuku!" jawab Sinta tanpa merasa malu.
"Owalah kau sudah ingin mempunyai menantu kenapa tidak bilang?" Dewi melepaskan genggaman tangannya dari Sinta dan menuju Hafsa.
"Hai nak! siapa namamu manis?" tanya Dewi tersenyum ramah.
Memang Sinta dan Dewi termasuk orang yang baik ramah dan lembut meski mereka orang kaya tapi mereka tidak sombong.
"Namaku Hafsa!" jawab Hafsa gugup.
"Hey, kau kenapa kau gugup? santai saja dengan kami.Kenalkan aku Tante Dewi teman calon mertuamu." Dewi memperkenalkan diri dengan senyuman ramahnya.
Hafsa juga tersenyum kikuk merasa tidak pantas berada diantara mereka yang terpandang jika saja nyonya Dewi tau dia hanya pengasuh anaknya nyonya Sinta apakah nyonya Dewi masih ramah dengannya.
"Kau memang pandai memilih menantu Sinta, cantik!" kata Dewi memuji Hafsa.
"Oh iya dong, dan kau tau Elang dan Hafsa akan menikah sebentar lagi." ungkap nyonya Sinta.
"Oh benarkah! selamat yah." Dewi memeluk Sinta ikut senang mendengarnya.
Sinta juga membalas pelukannya lalu tak lama melepaskan, "Lalu bagaimana dengan anakmu sudahkah dia menemukan calonnya" tanya Sinta menanyakan perihal Satria.
__ADS_1
"Ah anakku Satria dia susah sekali untuk menikah dia selalu bilang kalau dia sudah menemukan tambatan hatinya maka dia akan segera menikah.!" jawab Dewi menghela nafas karena dia sangat lelah menghadapi anaknya yang susah diatur dan semaunya sendiri.
"Sabar Wi, aku yakin suatu saat pasti dia akan menemukan pujaan hatinya." jawab Sinta menepuk pundak Dewi.