
Mereka berempat setelah mendapat penginapan hanya beristirahat sebentar, lalu dua wanita itu merengek meminta keluar untuk bermain dan mengabadakin momennya.
Hafsa dan Melati keluar secara bersamaan membuat mereka berpelukan sambil berteriak membuat dua pria hanya bisa menggelengkan kepala.
Tanpa berkata mereka langsung keluar dengan sudah memakai jaket tebal, sepatu juga topi untuk menghangatkan tubuh mereka, karena udara sangat dingin sekali.
"Hafsa kita ke sana yuk! sepertinya di sana lebih banyak saljunya." ucap Melati sambil menunjuk di depann nya.
"Iya ayo." Hafsa antusias dengan ajakan Melati.
Mereka kemudian setengah berlari menuju tempat dibawah pohon sakura, terlihat seperti anak kecil memang dan dua pria yang mengikuti hanya mengawasi saja sambil melihat aktifitasnya.
"Ah aku lupa sesuatu, kau tunggu disini yah!" Hafsa menyuruh Melati menunggunya dan Melati mengiyakan dengan mengacungkan dua jempolnya.
Kemudian Hafsa menghampiri suaminya yang sedang mengawasi.
Sambil tersenyum dan menggoyangkan badannya Hafsa berkata, "Em.. kak Elang aku mau mengabadikan momen ini tapi aku tidak punya ponsel bolehkah aku pinjam ponselmu." sambil mengadahkan tangannya.
"Aku tidak ingin ada foto wanita lain selain dirimu jadi tidak aku pinjamkan." jawab Elang tegas.
"Tapi dia kan.."
"Walau itu sahabatmu." jawab Elang langsung memotong ucapan Hafsa.
Bukan apa-apa, hanya saja Elang memang seperti itu bahkan foto ibunya saja tidak ada dan Rey memahami itu.
"Lalu aku gimana mengabadikannya?". tanya Hafsa dengan dengan wajah memelas.
Sayang sekali rasanya jika sudah berasa disini tapi tidak ada yang disimpan.
__ADS_1
"Rey, belikan yang terbaru." ucap Elang memerintah.
"Baik tuan. Permisi nona."
Lalu kemudian Rey pergi berlalu dan Hafsa hanya melongo saja. Seenak itu kah menyuruh orang dan seberapa kaya suaminya sampai tidak minta pun dibelikan.
"Kau tunggulah sebentar lagi ponselmu akan datang." kata Elang bersikap biasa saja dan berlalu.
"Hey, kau mau kemana?" Hafsa mengikuti Elang.
"Hafsa....!" disisi lain Melati memanggilnya.
"Iya...!" Hafsa menyauti.
Dia bingung mengikuti suaminya atau menghampiri Melati tapi setelah dilihat suaminya hanya duduk tak jauh darinya diapun akhirnya menghampiri Melati.
"Iya, tadinya aku mau pinjam ponsel suamiku untuk foto eh..." Hafsa menjeda ucapannya membuat Melati penasaran.
"Apa di kasih." antusias Melati menjawab.
"Tidak, tapi dia malah mau membelikan ku ponsel baru."
"Wahh... itu bagus lah di kasih baru." Melati sampai berteriak karena senang nya padahal Hafsa yang di kasih kenapa Melati yang senang.
"Kau membuatku kaget saja tidak perlu berteriak seperti itu malu tau dilihat orang." Hafsa mencibir Melati karena memang disekitar mereka orang-orang melihat kearahnya mungkin termasuk Elang.
"Oh iya Mel, aku mau tanya? waktu aku diculik aku kan ada di atas aku seperti melihatmu di bawah bersama seorang pria dibelakang mu." tiba-tiba Hafsa bertanya perihal dirinya diculik karena terlintas begitu saja di otaknya juga mengganjal di pikirannya.
"Em...aku memang waktu itu mau buang air kecil ditemani penculiknya." jawab Melati setelah berfikir.
__ADS_1
"Kalau gitu itu berarti kau dan kita diculik ditempat yang sama." kata Hafsa menelaah.
"Kau ini kan memang kenyataannya kita diculik dan ditempat yang sama hanya ruangannya saja yang beda, kita juga ditemuin ditempat yang sama, gimana sih!" Melati menjelaskan sambil misuh-misuh.
"Oh iya yah aku kok baru ngehh." Hafsa sampai menggaruk kepalanya merasa garing sendiri.
"Huh dasar nona muda..." Melati meledek Hafsa dengan menjulurkan lidahnya.
"Heh.. awas yah kau berani meledekku." Hafsa melempar salju pada Melati tapi tidak kena karena Melati berhasil kabur.
"Wee... tidak kena." Melati menjulurkan lidah kembali dan mereka jadi main kejar-kejaran sambil saling lempar bola salju.
Elang tersenyum melihat istrinya yang terlihat bahagia bermain bersama sahabatnya.
Disaat Hafsa dan Melati sedang bersenang-senang tiba-tiba ada dua pria bule lumayan tampan yang menghampiri mereka.
"Hai gadis-gadis cantik, bolehkah kami ikut bermain?" tanya salah satu dari dua pria dengan tersenyum.
Hafsa dan Melati bukannya menerima tapi mereka agak risih pasalnya mereka teringat tentang kejadian penculikan kemarin yang di lakukan oleh kaum pria.
"Hey,tidak perlu takut kami bukan orang jahat, kami hanya mau berkenalan saja." kata yang satunya lagi melihat mimik wajah Hafsa dan Melati yang seperti ketakutan.
"Hey, jangan ganggu mereka." Elang datang di saat yang tepat.
Mereka semua menoleh dan dua pria itu sedikit terkejut.
"Hey tidak ada urusannya denganmu."
"Tapi sekarang menjadi urusanku karena yang kau ganggu adalah istri dan saudari tiriku." kata Elang.
__ADS_1