
"Melati sudah belum." panggil Hafsa mengetuk pintu toilet yang dimasuki Melati.
"Belum." jawab Melati di dalam.
"Kau ini lama sekali kita sudah ditunggu supir, kau ingat kalo kelamaan kita bisa kena hukuman lagi." celoteh Hafsa tiba-tiba mengingat kejadian waktu dulu.
Melati langsung merespon ketika diingatkan waktu kena hukuman dulu.
"Ah tidak apa-apa kena hukuman juga sa, aku terima." jawab Melati malah senang.
Hafsa mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Melati, "Hih kena hukuman kau malah senang. Ya sudah aku duluan aku tunggu di mobil." lanjut Hafsa memilih keluar duluan.
"Oke." jawab Melati.
Setelah keluar dari toilet Hafsa berjalan dengan perlahan sambil memainkan ponselnya, ya Hafsa memang jarang memainkan ponsel hanya waktu-waktu tertentu saja.
Sedang fokus dengan ponselnya tanpa melihat sekitar ternyata Hafsa diikuti oleh seorang pria yang mencurigakan dia memakai pakaian serba hitam juga memakai masker, kacamata dan topi mendekati Hafsa secara perlahan.
Pria itu melihat keadaan sekitar yang lumayan sepi saat dirasa sudah aman dia mengeluarkan kain yang sudah diberi obat bius berjalan mendekati Hafsa, Hafsa yang mendengar derap langkah dibelakangnya segera menoleh namun saat itu terjadi pria itu langsung membekap Hafsa dengan kain bius itu, awalnya Hafsa berontak namun karena obat bius itu sudah bekerja jadilah Hafsa pingsan.
Dan disaat itu pula Melati lewat dia terkejut dengan pemandangan didepannya bahwa sahabatnya diculik.
Dengan panik Melati mondar-mandir sambil memikirkan cara untuk menolong Hafsa tapi yang ada di otaknya adalah Rey segera saja dia mengambil ponselnya dan mengetik nama Rey lalu menelfonnya.
Sialnya Rey tidak mengangkatnya entah karena sibuk atau karena tidak mau meladeni sebab nomor Melati tidak dikenal diponsel Rey, lalu Melati dapat nomor Rey dari mana entah hanya Melati yang tau.
"Mengganggu saja." ucap Rey diseberang sana saat melihat ponselnya berdering namun yang menelfon tidak ada namanya jadi dia mengabaikannya.
"Ihh kenapa tidak diangkat sih!" Melati kesal karena Rey tidak mengangkat telfonnya.
"Ah lebih baik aku WA saja." ucap Melati.
"Tuan Rey, ini aku Melati tuan tolong nona Hafsa diculik." langsung saja dia mengirimnya pada Rey.
Saat ingin mengarahkan kamera ponselnya sebagai bukti tiba-tiba saja ponselnya di rebut dan dibanting sehingga terjatuh dan pecah dan itu membuat Melati terkejut sekaligus cemas.
"Hey, siapa kau?" tanya Melati melihat pria yang sama yang membius Hafsa.
__ADS_1
"Tidak usah banyak tanya, lebih baik kau ikut aku." jawab pria itu suaranya sangat dingin.
"Tidak mau." Melati berontak dan ingin berlari namun tangannya sudah dicekal duluan lalu pria itu mengeluarkan kain yang sudah diberi obat bius juga dan menempelkan kehidung Melati dan tak berapa lama Melati pun pingsan.
*****
"Nona, nona dari mana saja saya mengkhawatirkan nona." tanya supir pada Hafsa karena supir itu sudah menunggu lama.
"Aku tadi sedang jalan-jalan, ya sudah bukakan pintunya." jawab Hafsa sedikit ketus sampai supir itu bingung dan teringat seseorang.
"Nona bukannya nona pergi dengan Melati, lalu dimana dia." tanya supir saat Hafsa sudah duduk santai seperti tidak memikirkan temannya itu.
"Dia pergi ke kampung halamannya secara dadakan katanya dia ingin menikah." jawab Hafsa sewot.
Hah supir itu melongo mendengar jawaban nona mudanya.
"Kenapa mendadak sekali nona." kata supir itu.
"Iya kan sangat mendadak dan aku kesal sudah jangan cari dia, dia sudah dijemput oleh calon suaminya. Ayo cepat kita pulang." terang Hafsa mengomel.
Supir itu tidak curiga dengan perubahan sikap Hafsa dua hanya menduga mungkin benar nona nya marah denga sahabatnya makanya mood nya jadi tidak enak.
*****
Hafsa sampai dirumah besar tuan muda Elang dan kebetulan Elang sudah ada dirumah sedang menunggu istrinya yang sedang berbelanja.
'Hah, tampan sekali aku ingin memeluknya', batin Hafsa melihat Elang yang sedang berdiri menyambutnya.
"Salam tuan muda, maaf terlambat pulang karena ada insiden kecil." ungkap supir menjelaskan sambil menunduk.
"Insiden, insiden apa? apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Elang cemas sedang Hafsa hanya terpesona melihatnya.
"Begini tuan, pelayan kita yang bernama Melati tiba-tiba pulang ke kampung halaman nya karena ingin menikah dan sudah dijemput oleh calon suaminya." terang supir.
Elang diam sambil berfikir, "Mendadak sekali, kenapa dia tidak memberi tahu disini dulu." ucap Elang.
"Iya dia hanya memberi tahuku saja dia tidak ingin memberi tahu yang lain karena dadakan sekali." kata Hafsa memberi tahu.
__ADS_1
Elang memicing, benarkah tapi... ya sudahlah tidak usah dipikirkan mungkin memang keadaannya darurat lagi pula dia sudah memberi tahu istrinya jadi tidak masalah.
"Kalau begitu saya permisi tuan." ucap supir dan Elang mengangguk.
"Tuan."
"Kau keceplosan."
"Maaf, eh sayang kau sudah menungguku dari tadi yah!" ucap Hafsa langsung bergelayut dilengan Elang.
Elang tentu saja terkejut, sayang dia memanggil sayang bukan kakak dan lagi dia berani bergelayut di lengannya ini aneh ini berbeda sekali tapi ya sudah lah kita lihatkan saja, pikir Elang.
"Iya aku sudah menunggumu sedari tadi, kenapa kau lama sekali?" ucap Elang.
"Iya aku tadi abis belanja sayuran belanja ikan belanja buah lalu makan ice cream setelah itu jalan-jalan. Aku senang sekali." jawab Hafsa dengan manjanya bahkan kini kepalanya iya sandarkan didada bidang Elang namun anehnya Elang tidak merasakan apapun yang biasanya selalu berdesir setiap bersentuhan dengan Hafsa.
"Kau lelah, kau ingin istirahat." kata Elang menawarkan diri.
"Iya aku lelah aku mau digendong." dengan manjanya Hafsa meminta gendong dan itu tambah membuat Elang bingung karena Hafsa sebelumnya tidak seperti ini tapi dia berfikir mungkin ini perubahan hormon.
"Baiklah ayo aku gendong." Elang langsung mengangkat Hafsa ala bridal style dan anehnya lagi dia tidak merasakan apapun.
'Kenapa aku tidai merasakan apapun saat berada didekatnya?' batin Elang berfikir.
Sedang yang di gendong selalu tersenyum tiada henti sambil terus memandangi wajah Elang.
'Akhirnya kau menjadi milikku juga.' ucap Hafsa dalam hati.
Mereka pun sampai dikamar, Elang meletakkan Hafsa dikursi sofa.
"Lebih baik kau istirahat." ucap Elang pada Hafsa.
"Tapi aku mau ditemai." jawab Hafsa manja.
"Aku sedang ada urusan ." jawab Elang jadi malas dengan sikap istrinya.
"Ah kenapa begitu? lalu kau menungguku mau apa?" Hafsa cemberut karena Elang malah terkesan mengabaikan nya.
__ADS_1
Elang jadi merasa bersalah lalu dia duduk disamping Hafsa, tentu saja Hafsa tersenyum dia langsung saja merebahkan kepalanya dipangkuan Elang.
Lagi-lagi Elang dibuat terkejut tapi tetap meladeni dan Hafsa tersenyum tipis dibalik itu