
Lalu saat di ambang pintu, Meliana datang dengan wajah yang penasaran karena dirinya lama sekali mendapat kabar dari Diana yang tak kunjung mengabarinya alhasil dia ingin melihat langsung apa yang terjadi.
Seketika Meliana terbengong dengan apa yang ia lihat, Diana di seret paksa oleh orang yang tidak dia kenal. Dia juga melihat Elang berdiri di samping ranjang dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana nya, dan hanya menyaksikan nya saja.
"Diana apa yang terjadi?." tanya Meliana namun tak di jawab oleh Diana.
Diana diam saja merasa enggan untuk menjelaskan terlebih mereka baru kenal.
Galang yang merasa jengah langsung menarik pergelangan tangan Meliana dan ingin membawanya keluar namun Meliana langsung memberontak.
"Eh! apa-apaan ini. Lepaskan!." teriak Meliana di depan wajah Galang.
"Lepas, kenapa aku di tarik?." tanya lagi karena mereka semua diam saja.
Galang yang benar-benar jengah segera membalas dengan dingin.
"Kau di pecat dan akan di asing kan di hutan bersama wanita ini." jawab Galang.
Meliana yang mendengarnya terkekeh tidak percaya sekaligus merasa bingung.
"Siapa kau? berani memecatku dan mengasingkan aku ke hutan, dengar yah aku bisa menuntut mu." bentak Meliana pada Galang.
"Diam kau, rencana kita gagal." kata Diana membentak Meliana yang membuatnya tambah pusing.
"Apa...? gagal." ulang Meliana pelan.
"Tapi untuk apa di asingkan di hutan seperti jaman kerajaan saja." ujar Meliana mengulur waktu.
__ADS_1
"Tidak ada bedanya bagi tuan Elang, siapa saja yang mengusiknya apalagi sampai menyakiti istrinya maka apapun hukumannya itu pantas untuk pelaku." jawab Galang datar dan merasa jengah sambil menarik keduanya untuk keluar dari kamar itu.
"Aku tidak mau." Meliana dan Diana terus berontak.
Meliana mengisyaratkan pada Diana untuk kabur dengan cara menggigit tangan Galang.
"Aaaa...!" jerit Galang melepaskan tangannya sehingga membuat Diana dan Meliana berhasil melarikan diri.
"Sial..!" sungutnya marah.
Galang pun menghubungi rekannya untuk membantu mengejar mereka berdua melalui penghubung yang ada di telinganya.
"Cepat, kalian hadang mereka." ucapnya tinggi lalu Galang pun berlari mengejar mereka.
Karena di depan ada acara pernikahan Rey dan Melati juga banyak pengawal di sana mereka berlari ke pintu belakang dengan melepas heels mereka yang di rasa sangat menyakitkan saat berlari.
Meliana terpental menghantam trotoar dan mengeluarkan banyak darah di kepalanya sehingga membuatnya tak sadarkan diri.
Sedang Diana terpental ke tengah jalan yang jalannya begitu ramai dengan kendaraan alhasil Diana pun terlindas dan tewas di tempat.
Semua orang pun berkerumun dan membuat macet jalanan, para pengawal termasuk Galang datang untuk melihat kondisinya.
"Dia sudah tewas tuan." ucap pengawal yang memeriksa itu pada Galang.
Galang hanya menghela nafas mendapati hal tak terduga ini.
"Bawa mereka ke rumah sakit." ucap Galang.
__ADS_1
Lalu mereka pun membawa Diana dan Meliana ke rumah sakit namun ketika di perjalanan karena darah Meliana terus saja mengalir tanpa henti membuatnya kehabisan darah sehingga membuat Meliana kejang-kejang dan sekarat setelah itu dia pun tewas sebelum sampai di rumah sakit.
Pengawal pun langsung memberi tahu kabar itu pada Galang dan lagi-lagi Galang hanya menghela nafas berat tak menyangka ajal mereka bersamaan.
Galang pun menghubungi Elang untuk memberi tahu.
*****
Saat itu Elang yang masih setia menunggu Hafsa tersadar di kejutkan dengan suara ponselnya karena fokusnya hanya pada istrinya.
"Ada apa?." tanya Elang singkat setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Tuan mereka berdua tewas kecelakaan." ujar Galang di seberang sana.
Elang tidak terkejut hanya menghela nafas saja kemudian berucap, "Kalau begitu urus pemakaman mereka."
"Baik tuan." jawab Galang paham apa yang harus dia lakukan.
Elang menutup telfonnya dan kembali memandangi Hafsa yang masih terpejam.
"Sayang, aku berjanji setelah ini aku akan terus menjaga dan melindungi mu serta anak kita. Aku tidak akan membiarkan kalian ada yang menyakiti aku menyayangi kalian." ucap Elang pelan di depan wajah istrinya.
Kemudian Elang mencium kening Hafsa dengan lembut dan lama, dia sangat bersyukur bisa mengenal Hafsa dan menjadikannya istrinya tak pernah menyangka hidup istrinya akan sesulit ini setelah mengenalnya dan Elang pun berjanji akan terus menjaga sekuat tenaganya.
Hafsa menggerakkan jari-jarinya, dia juga merasakan sentuhan lembut di keningnya yang sudah bisa menebak itu adalah suaminya karena aroma khas dari tubuh suaminya.
"Kak Elang..." panggil Hafsa lirih.
__ADS_1