
Begitu Elang mendapat kabar dari Rey, dia langsung meluncur ke lokasi saat menuruni tangga Elang di cegat oleh ibunya Sinta.
"Elang ada apa? kau mau kemana?" tanya Sinta bingung setelah tadi dia melihat Rahma dan Sesil di bawa oleh beberapa pengawal.
"Nanti aku ceritakan Bu, sekarang aku sedang buru-buru." jawab Elang namun tak bisa menceritakan tujuannya.
"Elang sedikitlah cerita pada ibu." desak Sinta sambil mengikuti Elang.
Elang berhenti kemudian berkata, "Aku yakin ibu sudah tau."
Setelah berkata seperti itu Elang langsung pergi meninggalkan Sinta yang terdiam. Lalu kepala pelayan datang menghampiri.
"Nyonya, apakah mereka hanya dipenjara? apa kita perlu hukuman lainnya?". tanya bi Rum mereka itu tertuju pada Rahma dan Sesil.
"Mereka tidak berbahaya, mereka hanya pengganggu jadi turuti perintah anakku." ucap Sinta tenang namun mengintimidasi.
"Lalu apakah kita harus mengikutinya?" tanya bi Rum.
"Tidak perlu kita tunggu saja kabar dari mereka." jawab Sinta.
Bi Rum hanya mengangguk.
*****
Elang dalam perjalanan bersama Rey dimalam hari, Rey berhasil melacak keberadaan Hafsa melalui ponsel Melati yang tergeletak ditempat parkir dalam keadaan terbelah dua melalu sidik jari milik Melati.
Rey sangat yakin jika Melati dan Hafsa diculik ditempat yang sama namun dalam ruangan berbeda dan motif menculik Melati karena agar tidak ada yang tau jika Hafsa di culik namun rupanya Melati sudah lebih dulu mengirimkan pesan pada Rey.
Mereka sudah tiba di tempat, para pengawal Elang mengomandoi untuk masuk ke sebuah vila dimana Hafsa di culik.
Dengan sembunyi-sembunyi namun berhasil mematikan musuh dalam sekejap tanpa menimbulkan keributan namun salah satu pengawal Satria mengetahui adanya lawan yang masuk segera saja dia menginformasikan kepada Satria.
"Tuan, gawat tempat kita sudah diketahui oleh musuh.dan mereka sudah masuk" ucap pengawal itu.
Satria yang sedang duduk langsung berdiri, "Sialan, kenapa mereka bisa sampai sini.?" ucap Satria marah.
"Maafkan kami tuan." hanya itu yang bisa pengawal itu jawab.
"Ahh... kata maaf yang tidak berguna lebih baik cepat hadang mereka aku akan membawa gadis itu pergi.
"Baik tuan." pengawal itu pun pergi demi untuk menunda tuannya yang akan membawa Hafsa pergi dari situ.
__ADS_1
Ditempat Melati disekap, pria itu masih saja menemani Melati sampai Melati bosan melihatnya.
"Eh kalau dipikir-pikir untuk apa juga kau menculikku tapi aku tidak apa-apa kan. Memangnya kau tetap dapat bayaran" pancing Melati agar penculik itu mau bercerita sedikit.
"Apa aku harus cerita padamu?" jawabnya acuh sambil merokok.
"Hah susah yah bicara dengan orang bodoh." ujar Melati asal membuat pria itu jadi berang.
Pria itu berdiri membuang rokoknya lalu menginjaknya dan mendekati Melati dengan wajah sangarnya membuat Melati sedikit ketakutan.
"Mau apa kau?" tanya Melati sambil mundur.
"Bukannya tadi kau yang menyuruhku untuk melakukan sesuatu padamu." jawab pria itu tersenyum miring.
"Hey jangan aku kan hanya becanda."
"Tapi sekarang tidak ada lagi kata becanda."
pria itu semakin serius dia terus maju dan Melati terus mundur hingga tersudut di tembok.
"Jangan, jika kekasihku datang maka tamatlah riwayatmu." kata Melati berharap Rey datang.
Dan tepat ketika pria itu ingin menyentuh tangan Melati pintu didobrak paksa dari luar hingga pintu itu rusak dan masuklah seorang pria yang di idam-idamkan Melati.
"Tuan Rey." ucap Melati tak percaya bahwa Rey benar-benar datang.
Pria itu mendongak menatap Rey dengan marah.
"Siapa kau? berani menggangguku." ucap pria itu.
"Dia kekasihku, apa ku bilang dia pasti datang untuk menyelamatkanku." ujar Melati dengan tersenyum sumringah.
"Oh jadi ini kekasihmu."
Rey hanya mengernyit mendengarnya lalu mendekati pria itu.
"Sebaiknya kau lepaskan gadis itu, karena dia hanya akan menyusahkanmu." ucap Rey datar namun membuat Melati kini cemberut.
"Tidak akan aku lepaskan meski dia menyusahkan namun mengasyikan." jawab pria itu meledek.
Karena Rey tidak ingin berbasa-basi maka dia mengeluarkan pistol dari balik sakunya dan menembakkan ke arah kaki pria itu lalu terdengarlah suara yang membuat melati berteriak.
__ADS_1
ap Dorrr
Aaaaah
"Bawa lelaki itu." perintah Rey pada pengawal yang baru masuk.
"Baik tuan." pengawal itu pun menyeret lelaki itu ke luar.
Rey kemudian mendekati Melati yang terlihat ketakutan karena suara tembakan itu.
"Kau baik-baik saja.!" tanya Rey pada Melati yang menutup kedua matanya.
"Tuan Rey, aku baik-baik saja." Melati membuka matanya dan sedikit tenang ketika melihat Rey.
Lalu Melati terdiam lagi tidak menduga bahwa lelaki yang diharapkannya benar-benar datang untuk menyelamatkannya.
"Kau mau keluar atau mau disini saja." ucap Rey datar sambil menyentil dahi Melati.
"Auw..." Melati tersadar karena mengaduh, tiba-tiba saja ikatannya sudah lepas.
"Eh! kapan lepasnya cepat sekali." ucapnya ketika melihat tangannya tak lagi di ikat.
"Cepat kita pergi dari sini atau kau aku tinggal." ucap Rey ketika melihat Melati masih dalam kebingungannya.
"Tuan Rey, bagaimana kau bisa ada disini? kau juga tau aku disini dari mana.?" Melati malah bertanya-tanya yang membuat Rey menghela nafas.
"Kau cerewet sekali sudah diselamatkan bukannya terimakasih." kata Rey sewot.
Melati cemberut lagi-lagi Rey selalu begitu, "Aku kan cuma nanya, kenapa semua orang selalu mengatakan aku cerewet."
Melati merajuk dengan wajah yang gemas sehingga membuat Rey betah melihatnya dia jadi tersenyum sangat tipis.
"Sudah lain kali saja ceritanya, lebih baik sekarang kita keluar. Kau ingin bertemu sahabatmu bukan." kata Rey dan Melati bereaksi mendengar kata sahabatnya.
"Iya dimana Hafsa." ucap Melati.
"Diluar ayo." kata Rey hanya alasan.
"Ayo."
Mereka pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1