Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 80


__ADS_3

Dorr...


Satria


Ya pistol itu terkena Satria bukan Hafsa karena Satria mengorbankan diri disaat semuanya lengah dia melihat ibunya ingin menembak seseorang dan setelah melihat siapa yang dituju Satria langsung berlari kearahnya alhasil Satria lah yang kena tembakan itu.


Semua terkejut apalagi Hafsa dia juga tidak menyangka Satria mau mengorbankan nyawanya.


"Satria.." ucap Hafsa meluruh kearah Satria yang jatuh dibawahnya.


Darah mengalir dibalik kemeja putihnya.


Dewi membuang pistolnya dia terdiam ketika melihat anaknya mengorbankan diri kemudian tertawa.


"Dasar bodoh, sampai mati pun kau rela hanya untuk perempuan itu." ucap Dewi disela tawanya.


"Hahaha bodoh kau." lanjut Dewi dan yang lain merasa miris melihatnya.


"Bawa dia pak!" perintah Sinta pada polisi di situ.


"Baik Bu." Polisi kemudian mencekal kedua tangan Dewi dan membawanya.


Dewi kali ini tidak memberontak dia malah tertawa.


Setelah kepergian Dewi, mereka kembali fokus pada Satria.


"Satria, bertahanlah kak Elang cepat bawa Satria ke rumah sakit." teriak Hafsa pada Elang.


"Cepat bawa Satria." kini Elang memerintah para pengawalnya untuk membawa Satria.


Mereka pun bergerak tapi Satria memegang tangan Elang.


"Elang tidak perlu kau bawa aku ke rumah sakit." kata Satria dengan nada lirih.


"Sudah kau jangan banyak bicara dan jangan membantah." balas Elang, meski ada kebencian namun ada rasa kemanusiaan pada diri Elang melihat Satria yang seperti itu.


Mobil pun sudah siap para pengawal membopong Satria masuk mobil.


"Rey kau temani." kata Elang.


"Baik tuan." Rey masuk mobil diikuti Melati untuk membawa Satria.


"Ayo kau denganku." ucap Elang pada Hafsa.

__ADS_1


Elang, Hafsa dan juga Sinta masuk mobil Sinta untuk menyusul Rey.


Tiba dirumah sakit Satria langsung ditangani kebetulan dokter Ziyan tidak ada jadi dokter lain yang menangani.


Elang melihat istrinya yang menangisi Satria tersirat rasa cemburu dalam hatinya tapi mungkin Hafsa menangisi Satria karena Satria telah menolongnya jika Satria tidak menghalangi mungkin yang terbaring disana adalah istrinya.


Elang kemudian meraih tubuh Hafsa dan merengkuhnya dalam pelukan menciptakan rasa nyaman diantara keduanya karena Hafsa juga membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya dipunggung Elang.


"Sudah jangan menangis, dia pasti selamat." ucap Elang sambil mengelus rambut istrinya.


"Aku tidak tau kalo tidak ada dia." balas Hafsa sambil terisak.


"Ya aku tau dan aku bersyukur untuk hal itu." kata Elang antara senang dan sedih.


Lalu tak lama kemudian dokter yang menangani Satria keluar ruangan semua pun jadi beralih ke dokter itu.


"Dok, bagaimana?" tanya Sinta yang mendahului.


"Operasi berjalan dengan lancar, dan pasien berhasil kami selamatkan." ucap dokter itu tersenyum.


"Alhamdulillah... Satria selamat." kata Hafsa senang.


Semua pun senang Satria selamat meski Satria menculik namun bukan dia dibalik semua ini tapi tetap saja Satria akan dimintai pertanggung jawabannya karena telah membantu tindak kejahatan ibunya.


"Saya pak, dia sudah sadar." dokter mengangguk.


"Silahkan bertemu diruang pasien saja." kali ini Hafsa yang mengangguk.


Hafsa dan Elang kemudian mengikuti Satria yang akan dipindahkan diruangan pasien begitu juga Sinta, Rey dan Melati.


*****


Diruang pasien saat ini hanya ada mereka bertiga yaitu Elang Hafsa dan Satria. Satria sudah sadar dan ingin berbicara dengan mereka.


"Aku merasa bodoh sekali menjadi seorang pria." ucap Satria pelan sambil memandangi langit-langit atap.


"Bodoh bagaimana?" tanya Hafsa yang merasa bingung.


"Ya, bodoh karena mau mengikuti kemauan ibu tiriku." lanjut Satria.


"Ibu tiri." ulang Elang dan Hafsa kompak juga terkejut.


"Kalian terkejut." Satria terkekeh karena rupanya Elang pun tidak tau.

__ADS_1


"Sebenarnya Dewi itu bukan ibu kandungku dia ibu tiriku ayahku menikah lagi saat usiaku 3 tahun dan aku hanya diasuh oleh nenekku di luar negri sedang ayahku mempunyai seorang putri darinya yang kini sudah menikah dan tinggal diluar negri." Entah mengapa Satria malah menceritakan masa lalunya pada mereka dan tentu saja itu cerita baru menurut Elang karena Elang sama sekali tidak tau tentang Satria.


"Lalu sekarang dimana ayah dan nenekmu? karena aku tidak pernah mendengar kabar mereka." tanya Elang.


"Mereka sudah tidak ada." jawab Satria pelan. Hafsa dan Elang terdiam ikut prihatin.


"Maafkan aku jadi cengeng seperti ini." Satria mengusap buih air mata dipipinya.


"Tidak apa-apa, aku memang tidak tau tentangmu tapi aku yakin kau adalah pria yang baik." kata Elang menepuk pundak Satria.


"Aku juga minta maaf karena aku berniat merebut istrimu karena memang aku mencintai istrimu tapi.. tidak bisa memilikinya." ungkap Satria terkekeh.


"Kau memang lucu Satria." balas Elang memukul lengan Satria pelan.


"Satria, terimakasih sudah menolongku." ucap Hafsa sambil tersenyum.


"Kau jangan tersenyum padanya, nanti dia jadi besar kepala." ucap Elang dengan wajah jutek.


"Kau ini Elang dalam keadaan seperti ini saja kau cemburu istrimu ini mau berterimakasih kepadaku" kata Satria sinis.


"Aku hanya tidak suka jika senyumnya diperlihatkan untuk pria lain." ucap Elang.


"Kau memang tidak berubah, tapi baiklah kali ini akan aku relakan dia untukmu jaga dia baik-baik dan sayangi dia." kata Satria.


"Kau tidak perlu menasehatiku aku tau apa yang harus aku lakukan." balas Elang.


"Baiklah baiklah, kau memang sudah dewasa tak perlu dinasehati sekarang lebih baik kalian pergilah aku ingin istirahat." ucap Satria kemudian karena dirasa pembicaraannya sudah selesai.


"Kau mengusir kami."


"Tidak."


"Ya sudah tidak apa-apa istirahatlah." Hafsa langsung menyeret suaminya sebelum adu mulut kembali dibuat, Elang kesal namun tetap menurutinya.


Satria hanya terkekeh melihatnya kemudian memejamkan matanya untuk beristirahat.


______


Yang satu pemikiran sama author cung


siapa yang kena tembak?


jawabannya Satria

__ADS_1


__ADS_2