
"Aaaaa... em..!" Rey langsung berlari cepat dan menutup mulut Melati yang ingin berteriak kencang.
Terang saja dia tidak ingin di kira jadi orang yang cabul karena sudah mengintip seorang gadis.
"Diam, kau tidak perlu berteriak seperti itu." ucap Rey pelan.
Melati mengangguk, lalu Rey melepaskan tangannya dari mulut Melati.
"Maaf, aku tidak sengaja aku tidak bermaksud tadi aku sudah mengetuk dan pintu nya tidak di kunci jadi.. aku masuk saja." terang Rey dengan gugup.
"Tapi kau kan seharusnya bilang jika sudah masuk jadi aku tidak kaget begini." timpal Melati sewot dia leganya karena itu Rey calon suaminya bukan orang lain.
"Kau juga yang salah, kenapa tidak mengunci pintu jika sedang mandi." kata Rey ikut kesal.
"Maaf aku lupa." Melati cengengesan menjawabnya.
"Tapi tetap saja kita bukan muhrim kau tidak patut masuk ke kamar seorang gadis." kekeh Melati tak mau kalah.
"Sebentar lagi juga kita akan menikah, jadi aku akan segera mengetahui apa yang sedang kau tutupi ini." ucap Rey memandang tubuh Melati yang masih mengenakan handuk dengan senyum nakal.
"Kak Elang kita belum halal yah, jangan macam-macam. Ini semua aku jaga untuk suamiku." ucap Melati mundur perlahan.
Rey malah merasa tertantang membuatnya maju perlahan.
"Bukankah aku yang akan menjadi suamimu nanti dan kau juga akan ku halali jadi tidak apa-apa kan." Rey tersenyum smirk menggoda Melati.
"Ta_tapi kita belum menikah, jadi tidak boleh." ujar Melati gugup sekali meski iya yang terus menggoda Rey tapi jika dihadapkan dengan keadaan yang seperti ini dia takut juga.
Melati terus mundur sedangkan Rey terus maju sampai akhirnya kaki Melati menyentuh tepian ranjang yang secara reflek akan jatuh tapi tangannya reflek juga menarik dasi yang di kenakan Rey sehingga dua-duanya terjatuh di atas ranjang.
Melati terkejut bukan main karena tiba-tiba saat jatuh bersamaan, bibir nya juga bibir Rey malah tak sengaja bersentuhan.
Rey pun sama terkejut karena sejujurnya dia belum pernah menyentuh bibir wanita manapun.
Tapi ada rasa yang berbeda yang di rasakan Rey begitu bibir itu menyatu, seketika darahnya berdesir dan ada hasrat ingin melanjutkan.
Maka Rey ******* bibir Melati dengan lembut sehingga membuat Melati melebarkannya matanya, ingin rasanya dia menolak namun tubuhnya tak dapat menolak dia membiarkan saja Rey menciumnya.
'Ciuman pertamaku.' batin nya dalam hati.
Rey terus memagut bibir Melati dengan lembut, bibir yang berhasil membuatnya penasaran mungkinkah ini kesempatan nya mendapatkan bibir Melati setelah gagal terus.
Rey menghentikan ciumannya lalu menatap Melati dengan wajah yang terlihat menahan sesuatu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Lalu kemudian kembali mencium bibir itu dengan sedikit liar.
'Sungguh rasa apa ini?, kenapa begitu nikmat. Aku tidak sabar ingin segera menikahinya.' batin Rey di sela-sela aktifitasnya.
__ADS_1
Tak hanya sampai di situ bibir Rey beralih ke leher jenjang Melati menciuminya hingga batas dada membuat Melati melenguh dan memejamkan matanya.
Saat Rey ingin membuka handuk yang sedari tadi menutupi bagian inti tubuh Melati saat itu juga Melati segera sadar dengan apa yang mereka lakukan.
"Stop kak!." ucap Melati menahan tangan Rey yang ingin membuka handuk itu.
Rey menatap Melati dengan pandangan yang berkabut akibat menahan sesuatu yang keras.
"Jangan kak! ku mohon." ucap Melati dengan wajah memelas.
Rey seketika sadar juga lalu beranjak dari tubuh Melati di ikuti Melati yang duduk.
"Maafkan aku Melati." ucapnya merasa bersalah.
Melati hanya mengangguk, karena dirinya pun sama saja salah.
"Aku pinjam kamar mandi mu." kata Rey kemudian.
"Iya, pakai saja." jawab Melati.
Rey langsung ke kamar mandi menutupnya dan membuka semua pakaiannya.
Terlihatlah benda keras itu yang meminta keadilan.
"Ah.. sial." ucap Rey karena ini membuatnya menderita.
Rey pun memaju mundurkan miliknya secara terus menerus hingga sesuatu yang sangat nikmat keluar sudah.
"Ah.. lega sekali." kata Rey kemudian dia pun mengguyurkan tubuhnya.
Melati sudah berpakaian lengkap, namun Rey belum juga keluar membuat Melati heran.
"Sedang apa kak Rey? kenapa lama sekali?." ucapnya pelan.
"Ah.. kenapa aku melakukannya juga, bibirku jadi ternoda kan tapi... tidak apa-apa sih karena yang mencium ku pria yang aku cintai yang akan menjadi suamiku." ucapnya dengan senyum-senyum sendiri.
Sesaat kemudian Rey keluar dengan rambut basah dan terlihat segar hal itu tentu saja membuat Melati sangat terpesona.
"Tutup mulutmu, jangan sampai lalat masuk." ujar Rey tersenyum melihat Melati yang begitu terpesona dengannya.
"Eh.. mana ada, kak Rey habis mandi ternyata." kata Melati salah tingkah.
"Iya, kenapa? aku belum mandi jadi aku mau mandi disini tidak boleh." jawab Rey mengelak, malu juga jika di beritahukan yang sebenarnya.
"Oh... tidak apa-apa, tapi tidak mungkin tujuan kakak kesini ingin mandi kan." kata Melati berusaha mengalihkan karena dirinya masih terbayang kejadian hangat yang baru saja terjadi.
"Aku kesini ingin mengajakmu ke apartemen ku." kata Rey berusaha tenang karena dirinya pun sama masih gugup dengan yang terjadi barusan.
__ADS_1
"Ke apartemen mu untuk apa?". pikiran Melati sudah kemana-mana dia berfikir Rey akan melanjutkan nya di apartemen nya.
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu." ucap Rey tersenyum.
"Kejutan. Kejutan apa?." Melati bingung karena Rey malah membuatnya penasaran.
"Sudah, ikut saja. Nanti kau juga akan tau." ujar nya kemudian.
"Tapi... kita... tidak melakukan itu lagi kan." timpal Melati lirih sambil menunduk.
Rey tersenyum dan mengangkat dagu Melati dengan jarinya agar menatapnya, "Jika kita sudah menikah, maka hal itu pasti akan terjadi lagi." ucapnya sambil mengerlingkan matanya.
'Heh, kenapa kak Rey sekarang menakutkan? kalau begini aku lebih mengejarnya.' batin Melati meronta.
"Apa kau minta di cium lagi? karena kau selalu menatap ku." cetus Rey tiba-tiba membuat Melati langsung bereaksi.
"Eh.. tidak tidak!."
Rey tersenyum tipis merasa lucu dengan tingkah Melati.
"Aku tunggu di luar." kata Rey.
"Tapi ini sudah malam kak Rey, besok aku harus kuliah." kata Melati mencari alasan.
"Jadi kau lebih memilih kita melanjutkan disini." ujar Rey tersenyum jail.
"Ihh baiklah, aku siap-siap dulu."
"Bukan nya dari tadi bilang jadi aku tidak perlu ganti baju lagi." gerutu Melati sambil mencebik kan bibir nya.
Rey hanya tersenyum kecil mendengar gerutuan Melati.
__________
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah nya biar author tambah semangat.
Maafin author yang jarang update karena author punya bayi dan kakak nya yang masih kecil, repot dah apalagi udah nangis dua-duanya.
Maaf juga kalo author tidak membalas komen kalian.
Terimakasih buat kalian yang selalu membaca novel author ini.
Love love buat kalian
Author
Titiawy
__ADS_1