Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 96


__ADS_3

"Mel, sepertinya mereka mau menghampiri kita." Kata Hafsa melihat manager dan pegawai itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Mereka mau kenalan mungkin." jawab Melati asal.


"Ah kau ini aku tidak becanda."


"Lagian kau tanya aku, ya mana ku tau."


"Nona, maafkan kami, kami salah kami tidak tau kalau nona istri dari tuan Elang maaf nona." ucap manager itu sambil menunduk diikuti pegawainya.


Hafsa dan Melati tentu saja bingung pasalnya orang itu berbicara bahasanya dan meminta maaf.


"Untuk apa meminta maaf." kata Hafsa merasa heran.


"Karena pegawai ku telah menuduh pencuri dan aku mewakilkan dia untuk meminta maaf padamu. Aku mohon nona maafkan kami."


Hafsa merasa kasihan melihat tatapan serius dari mereka yang meminta maaf dengan tulus.


"Iya tidak apa-apa aku maafkan, lagi pula aku juga salah karena aku tidak mengerti bahasa kalian." jawab Hafsa tersenyum.


Manager dan pegawai itu tersenyum cerah.


"Terimakasih nona anda baik sekali, sebagai permintaan maaf ku, kalian boleh belanja di sini sepuasnya. Gratis." kata Manager dengan senyum lebarnya.


Tentu saja hal itu membuat kedua gadis itu senang bukan main.


"Wah... benarkah." kata Hafsa dan Melati kompak.


"Benar nona-nona silahkan!"


"Kalau begitu ayo Melati kita serbu..." ajak Hafsa antusias.


"Ayo...!" Melati pun membalas dengan semangat.


Siapa yang tidak senang jika diberi belanja gratis apalagi sepuasnya sudah pasti para wanita tidak akan melewati kesempatan ini.


Hafsa dan Melati pun berburu pakaian yang mereka sukai.


Manager itu kembali kepada Elang setelah memerintah pegawai nya untuk melayani Hafsa dan Melati.


"Tuan, jadi bagaimana? aku masih aman kan." ucap manager itu memelas.


"Emm.. baiklah karena istriku memaafkan mu jadi kau selamat." tukas Elang.


"Terimakasih tuan, jika tuan ingin sesuatu akan aku bungkus kan."


"Tidak perlu untuk istriku saja."

__ADS_1


"Kalau begitu mari tuan istirahat sejenak minum sesuatu sambil menunggu istri tuan selesai berbelanja." Manager itu menawarkan Elang dan Rey.


"Itu yang aku mau, ternyata kau mengerti juga." balas Elang kemudian berjalan menuju tempat duduk yang tak jauh darinya di ikuti Rey di belakang dan Manager itu segera. menyuruh pekerja nya untuk menyiapkan minuman.


"Hafsa... baju di sini bagus-bagus sekali aku jadi pengen borong semua." ucap Melati sambil membawa beberapa baju di tangannya.


"Iya, sudah pasti harganya mahal-mahal." jawab Hafsa berbisik.


"Tapi mereka rugi tidak yah memberi kita gratis." tanya Melati berbisik pula.


"Sudah pasti, tapi aku tidak tau pengaruh suamiku terhadap mereka sampai mereka mau memberikan kita belanja gratis sepuasnya." papar Hafsa sambil memilah milih baju yang ia suka.


"Sepertinya suamimu ini punya pengaruh besar di sini tadi saja aku lihat saat bapak itu melihat tuan Elang seperti terkejut begitu." ungkap Melati karena memang Melati memperhatikannya.


"Sepertinya begitu, yasudah lah tidak usah di pikirkan lebih baik kita pilih." kata Hafsa kemudian berusaha tidak ambil pusing.


Di toko itu hanya menjual barang-barang wanita dimulai dari baju atasan, celana sweater, kemeja, tas, sepatu, aksesoris, make up sampai bikini semua tentang wanita ada di toko itu dan semuanya lengkap pengunjung pun sangat ramai banyak keluar masuk pengunjung yang datang.


"Sudah, segini saja cukup." kata Hafsa merasa belanjaan nya cukup.


"Iya aku juga."


"Nona sudah selesai, mari biar aku bungkus kan." pelayan itu dengan ramah megambil semua belanjaan mereka.


"Baiklah nona-nona tunggulah di sana." katanya lagi mempersilahkan.


"Terimakasih." kata Hafsa kemudian mereka melihat Elang dan Rey sedang duduk santai sambil meminum kopi mereka pun menghampiri.


"Tapi belanjaan nya masih di sana." sambungnya lagi.


"Tenang saja belanjaan mu tidak akan hilang, kau ingin kemana lagi?" tawar Elang sambil menyeruput kopinya.


"Em... bolehkah aku ke tempat permainan disini sepertinya seru." kata Hafsa memberi ide.


"Wah.. kau benar aku setuju." tambah Melati mendukung.


Elang menatap Rey yang diam saja kemudian, "Baiklah ayo kita ke sana sekarang." jawab Elang yang membuat Hafsa dan Melati kegirangan.


*****


Merekapun ke tempat permainan yang dimana terdapat banyak hadiah, Hafsa dan Melati senang sekali bisa datang dan menikmati permainan disini.


Sikap Elang dan Rey yang dingin seketika berubah saat sedang bersama kedua gadis itu.


Senyum tulus pun selalu terbit di bibir mereka apalagi Rey yang selama ini tidak pernah tersenyum.


Hafsa mengajak Elang bermain bola basket karena dulu waktu sekolah Hafsa penasaran sekali dengan bola basket dia ingin sekali bermain tapi malu karena tubuhnya yang tidak tinggi.

__ADS_1


Sedang Melati mengajak Rey bermain dance pump it up, Melati memilihnya karena pasti seru apalagi jika Rey si kaku bergerak lincah di atas papan pasti lucu.


"Tuan ayo kita main ini." ajak Melati.


"Tidak, kau saja." Rey langsung menolak.


"Jangan begitu tuan, disini ada dua tempat sayang sekali jika tidak di pakai." bujuk Melati.


"Melati kau tidak tau siapa aku." ucap Rey menatap Melati dengan ekspresi yang kesal.


"Aku tau siapa dirimu, maka dari itu aku mengajakmu supaya liburan ini berkesan dan kau pasti akan selalu mengingatnya." jelas Melati tersenyum lebar.


"Aku tidak butuh." kata Rey cuek.


Namun apa yang terjadi Melati malah menariknya ke atas papan.


"Melati apa yang kau lakukan?". tanya Rey geram karena Melati malah memaksanya.


"Kau butuh hiburan tuan, jangan memikirkan pekerjaan saja." kata Melati tersenyum manis membuat pipi Rey langsung bersemu merah.


"Ayo kita mulai." semangat Melati saat musik dimulai Melati lihai sekali mengikuti tanda panah kemanapun.


Sedang Rey yang kaku sangat kesulitan mengikuti tanda panah alhasil gerakan Rey menjadi sangat aneh dan itu mengundang tawa bagi yang melihatnya.


'Sial baru kali ini aku ditertawakan dan ini gara-gara gadis ini, kenapa juga aku harus menurutinya.' kata Rey dalam hati merasa malu saat ditertawakan.


"Ayo lah tuan masa kau tidak malu padaku aku saja bisa." ucap Melati saat permainan itu berhenti sambil menahan tawa.


"Kau juga menertawakan ku." kata Rey kesal.


"Tidak, kau lucu tuan sangat lucu seharusnya aku mem videomu untuk kenangan ku." kata Melati masih menahan tawa.


"Awas saja jika kau melakukan itu." jawab Rey.


"Ya sudah ayo lawan aku." tantang Melati.


Rey tersenyum smirk, "Kau menantang ku."


"Kenapa tidak?"


"Baiklah, apa yang bisa aku dapat dari permainan ini jika aku menang?" kata Rey.


"Ya hadiah lah tuhh hadiahnya sudah terpajang di sana." jawab Melati menunjuk stand di depan sana.


Rey mendesah pelan padahal hadiah yang dia maksud bukan itu, Melati tidak mengerti tapi ya sudahlah Rey tidak ingin berdebat.


Dan saat permainan di mulai kembali Rey berusaha keras agar tidak malu lagi dia pun fokus mengikuti tanda panah itu dan berhasil.

__ADS_1


Karena pada dasarnya Rey juga pintar maka dia mudah sekali menguasai permainan ini


sampai membuat Melati melebarkan matanya pasalnya Rey yang kaku kini bergerak lincah.


__ADS_2