Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 122


__ADS_3

Padahal jika Alice tau maka tamatlah riwayat ayahnya.


Galang tersenyum sinis, "Ayahmu tidak akan bisa menolong mu."


"Kau tidak tau siapa ayahku. Jangan macam-macam denganku jika ayahku tau maka kau akan kena juga." ucap Alice masih merasa sombong.


"Hahaha." Galang malah tertawa membuat Alice cs menautkan alisnya.


"Kata-kata itu adalah untukmu bukan untukku, maka bersiaplah kalian."


Melihat tatapan dan senyuman Galang yang aneh membuat Alice cs merasa ketakutan namun dia harus tetap tenang.


"Heh,, aku tidak takut dengan mu ayahku mempunyai teman seorang polisi, kau siapa datang-datang sudah buat rusuh." kata Alice menyilangkan tangan didada.


"Aku pengawal pribadi nona Hafsa dia istri dari tuan Elang Rahardian seorang pemilik perusahaan Wijaya group yang sekarang tempat bekerja ayahmu yang seorang manager yang bernama Julian Raharja." ungkap Galang tersenyum sinis.


Alice cs reflek gugup keringat langsung membasahi dahinya tubuhnya juga gemetar mendengar penuturan Galang, dia juga bingung tau dari mana Galang nama ayahnya.


"Kenapa? sekarang kau takut." ucap Galang terkekeh.


Alice sekarang menjadi diam tak berani bersuara lagi.


"Aku sudah memperingati mu Alice tapi kau tidak mau mendengarkan ku jadi terimalah akibatnya." kata Hafsa buka suara.


"Sudah nona sebaiknya kita pulang, saya akan mengantar nona ke rumah sakit." pinta Galang wajahnya berubah jadi khawatir saat melihat nona nya.


"Tidak u..!"


"Maka bersiaplah nona tidak akan di ijinkan untuk kuliah lagi." kata Galang langsung memotong sebelum Hafsa menyelesaikan ucapannya.


Hah peka sekali Galang ini benar-benar pengawal profesional.


"Baik, baik aku akan menurutimu." kata Hafsa dari pada dia tidak boleh kuliah.


"Dan kalian tinggal tunggu kabar buruknya." ucap Galang kembali dengan wajah garang menatap Alice cs.


"Ayo nona." ucap Galang.


"Aku bantu." kata Melati.


Setelah kepergian mereka, Alice cs luruh ke lantai mendadak ke angkuhan dan kesombongan mereka tadi hilang seketika saat mendengar ucapan Galang.


"Bagaimana ini lice aku takut sekali." kata temannya.


"Aku juga."


"Diam kalian jangan memperkeruhku." kata Alice dengan nada tinggi yang membuat mereka langsung diam.


"Kita kabur lice, kita kabur." teman nya menawarkan.


"Benar lice lebih baik kita kabur."


Benar juga yang disarankan temannya satu kata ' KABUR '.


"Benar ayo kita kabur." akhirnya Alice bergegas bangun dan berjalan cepat di ikuti kedua temannya.


"Tunggu dong lice."


****


Galang sudah mengantar Hafsa ke rumah sakit dia masih sangat merasa bersalah karena lalai menjaga nona nya.

__ADS_1


Kini Hafsa sudah di obati oleh dokter kandungannya juga di periksa.


Menurut Hafsa ini sangat berlebihan namun dia tidak membantah jika ini adalah perintah dari suaminya.


"Tidak apa-apa tuan, nona dan bayi nona sehat semua." ujar dokter tersenyum.


Lalu tiba-tiba datanglah Elang bersama Rey yang dengan tergesa-gesa.


"Sayang..!" tanpa mengetuk pintu Elang menerobos masuk.


Hafsa langsung berdiri saat suaminya datang begitu juga dengan yang lain sedang Galang menunduk hormat.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?." tanya Elang memeluk Hafsa.


Dirinya sangat khawatir saat mendengar kabar bahwa istrinya di buly oleh mahasiswi lain bahkan jika Galang tidak datang tepat waktu maka tidak tau apa yang akan terjadi dengan anaknya.


"Aku tidak apa-apa hanya sakit sedikit pada bagian kepala dan lengan." jawab Hafsa dengan menunjuk lengannya.


Elang melihatnya dia mengepalkan tangannya begitu geram dengan perlakuan Alice cs, dia tidak tau sedang berurusan dengan siapa.


"Maafkan saya tuan, telah lalai menjaga nona." ucap Galang menunduk.


"Aku justru berterima kasih kepadamu karena telah datang tepat waktu dan temui aku dengannya." titah Elang dengan menatap tajam lurus.


"Baik tuan." Galang mengerti dia pun langsung melaksanakan perintah tuannya.


"Kau ingin menemui siapa?." tanya Hafsa yang was-was, takutnya Elang bertindak di luar batas hanya karena dirinya.


"Sayang, pulanglah dengan Rey dan Melati aku akan mengurus sesuatu dan segera kembali." ucapnya sambil mengecup dahi Hafsa lalu segera pergi menyusul Galang.


"Tunggu kak..!" Hafsa ingin menahan namun Rey bersuara.


"Sudah nona biarkan saja, tuan tau apa yang harus di lakukan nya."


"Tidak perlu takut percayalah." kata Rey meyakinkan.


"Iya Sa, lebih baik ayo kita pulang." Melati menarik tangan Hafsa pelan untuk keluar dari ruangan dokter.


"Terimakasih dokter." ucap Melati tersenyum ramah.


"Sama-sama." di jawab dokter dengan senyum ramah pula.


*****


Didalam ruangan yang gelap dan kotor terdapat tiga orang gadis yang di ikat dan kepalanya di tutup menggunakan kain hitam.


Mulutnya di sumpal dengan lem supaya tidak bisa bersuara.


Di hadapannya Elang yang sedang duduk santai sambil menatap datar ke arah mereka dan Galang yang berdiri di belakang Elang dengan wajah yang garang.


"Buka..!" titah Elang pada anak buah yang lain.


Mereka mengangguk kemudian melepaskan satu persatu penutup kepala mereka.


Saat penutup kainnya di buka mereka begitu terkejut dengan yang ada di hadapan mereka.


Dua pria tampan namun dengan aura mematikan yang kapan saja bisa memangsa membuat mereka gemetaran.


Ya mereka adalah Alice cs yang tadi nya ingin kabur tapi malah berakhir di sini karena mereka di bius hingga tak sadar dan berada disini.


"Em.." Alice ingin bersuara namun tak bisa.

__ADS_1


"Buka." titah Elang datar.


Anak buah pun mengangguk dan membuka lem di mulut mereka satu persatu.


"Si-apa kau?." tanya Alice dengan terbata.


"Hem.. kau tanya siapa aku, maka kau akan tau jawabannya setelah melihat orang ini." kata Elang tersenyum smirk.


Lalu datanglah seorang pria paruh baya bersama dua anak buah Elang.


"Alice, putriku." seru sang ayah yang begitu terkejut melihat putrinya berada di tempat yang tidak seharusnya.


"Ayah.." Alice menangis melihat ayahnya.


Ayah Alice langsung berhambur memeluk putrinya dan membuka ikatan di tangannya.


"Apa yang kau lakukan anakku?." tanya ayah nya dengan raut wajah gelisah.


"A-ku tidak melakukan apapun yah, tapi mereka membawa kami kesini." jawab Alice berbohong.


Elang hanya menatap sinis mendengar nya dan ayah Alice semakin gelisah.


"Kau dengar anakmu berbohong, jadi hukuman apa yang pantas untuk putri mu dan teman-temannya." ucap Elang dingin.


Ayah Alice menghadap Elang lalu memohon dan bersujud di kakinya membuat Alice begitu terkejut, siapa orang ini kenapa ayah nya begitu takut dengannya.


"Ayah apa yang ayah lakukan." ucap Alice tak habis pikir karena menurutnya ayahnya begitu bodoh.


"Diam kau, ini semua salahmu." bentak ayah Alice dan menatap tajam Alice membuat Alice berjingkat kaget karena ini kali pertamanya dia di bentak oleh ayahnya dengan tatapan yang menakutkan.


Alice memalingkan wajah, ada rasa malu pada teman-teman nya karena melihat nya di bentak seperti itu.


"Tuan, aku mohon maafkan putriku dan teman-temannya. Mereka masih labil tuan aku mohon aku jamin ini terakhir kalinya mereka berbuat seperti itu pada istri tuan." jelas ayah Alice.


Mendengar kata istri tuan wajah Alice kembali menatap di depannya.


"Hhh.. masih labil alasan yang tidak masuk akal kau tau istriku sedang hamil jika sampai bayi ku kenapa-kenapa maka kalian lah yang akan aku lenyap kan." ucap Elang dingin.


"Jadi... kau tuan Elang Rahardian." seru Alice gugup.


Tidak menyangka bahwa pria tampan di depannya ini adalah suami Hafsa, mahasiswi yang baru saja dia aniaya bersama teman-temannya.


Bahkan Alice dan kedua temannya sampai berkeringat dingin serta susah untuk sekedar menelan ludahnya.


"Sekarang kau sudah tau siapa aku, gadis yang kau sakiti adalah istriku dan ayahmu bekerja denganku." terang Elang datar.


"Jadi sekarang kau tinggal pilih, mengirim mereka ke Antartika atau kau dan keluarga mu pergi dari negara ini tanpa pesangon ataupun gaji dan semua fasilitas yang sudah di berikan padamu harus di kembalikan." tutur Elang membuat pilihan pada manager perusahaan nya itu.


Ayah Alice menghela nafas kasar, padahal dia bekerja keras untuk mendapatkan jabatan ini tapi harus hancur karena perbuatan anaknya sendiri dengan berat hati dia harus memilih.


"Baik tuan, aku memilih yang kedua." ucapnya pasrah.


Sedang Alice dan teman-teman nya hanya bisa diam membisu.


"Baiklah, karena kau sudah memilih maka bersiaplah hari ini juga kalian semua harus pergi sebelum aku berubah pikiran." setelah mengatakan itu Elang beranjak dari duduknya di ikuti Galang di belakang nya.


"Ayah...!" panggil Alice pelan.


Ayah Alice tidak menjawab ataupun menatap ingin marah namun tak bisa karena dia sangat menyayangi anak satu-satunya itu tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur.


"Sudah lebih baik kita siap-siap sekarang beruntung kita hanya di usir." ucap Ayah, untungnya Alice mempunyai ayah yang begitu sabar dan menyayangi nya.

__ADS_1


Kemudian setelah itu mereka pun pergi dari sana.


__ADS_2