
Hafsa memasuki kamarnya lebih tepatnya kamar tuan muda Elang yang kini menjadi suaminya.
Hati dan perasaannya masih tidak nyaman atas kejadian tadi dia berharap suaminya itu melupakan dan tidak membahasnya, sudah pasti karena tadi Elang pun berkata hanya ingin bermain-main saja.
Hafsa membawa troli makanan untuk suaminya dia mencari suaminya yang entah kemana. Setelah mengitari dan melihat suaminya ada dibalkon segera dia menghampiri dengan berjalan begitu pelan.
"Ee.. tuan aku membawakan sarapan untukmu." ucap Hafsa pelan meletakkan troli disamping kursi roda tuannya.
Seperti biasa Elang tidak akan makan jika tidak disuapi maka dengan telaten Hafsa menyuapi bayi besar itu.
'Sudah besar, padahal tangannya masih bisa makan sendiri dasar manja.' Hafsa menggerutu dalam hatinya ketika akan menyuapi Elang.
"Jika kau tidak ingin menyuapiku, pergi saja biarkan aku kelaparan." celetuk Elang, padahal dia tidak bisa melihat tapi kenapa seperti tau isi hati gadis itu.
'Kenapa dia bisa menebak isi hatiku apa dia cenayang yah! wah.. gawat kalo begitu." Hafsa menjadi gugup tidak menyangka Elang bisa tau.
"Tuan, kenapa bicara begitu? maaf kalau aku berbuat salah." Hafsa merasa tidak enak juga mendengar perkataan suaminya.
"Tuan, makanlah!" meski begitu Elang tetap menerima suapan dari Hafsa dan entah mengapa dia tak bisa marah pada istrinya itu.
Setelah Elang menghabiskan semua makanannya, Hafsa kembali merapikan semuanya dan akan kembali kedapur.
__ADS_1
Saat akan melangkah, Elang bersuara membuat langkahnya terhenti.
"Terimakasih..!" ucap Elang keluar begitu saja.
Hafsa bingung dengan tuannya untuk apa mengucapkan terimakasih, tuannya ini memang susah ditebak terkadang ramah terkadang juga marah-marah.
"Terimakasih untuk apa tuan?" tapi tetap saja Hafsa penasaran.
"Kau sudah bersabar untukku." jawab Elang mantap tatapan mata dan kepalanya tetap menghadap kedepan.
"Oh... itu.., tidak masalah tuan aku memang orang yang sabar dan kuat." kata Hafsa membanggakan dirinya sendiri.
Elang tersenyum tipis mendengar itu.
"Kalau tidak ada lagi, aku permisi mau menaruh ini." ucapnya lagi hendak pergi.
"Tunggu..!" lagi-lagi Elang menghentikannya.
"Iya tuan. "
"Biarkan itu disitu biar pelayan lain yang membawanya. Sekarang aku mau kau mengajariku berjalan lagi cepat bawa aku ke taman." perintahnya tak bisa dibantah.
__ADS_1
"Baiklah tuan. Mari aku antar."
Kemudian Hafsa membawa kursi roda yang diduduki Elang keluar dari kamar dan menuju taman tempat dia berlatih.
Sudah ada kemajuan pada diri Elang, pria itu kini sudah bisa mulai berdiri sendiri meski harus pelan-pelan sungguh ini adalah kemajuan yang luar biasa. Hafsa pun tersenyum senang melihatnya.
"Tuan, kau sudah banyak kemajuan sekarang aku senang melihatnya." sorak Hafsa dengan bertepuk tangan bahagia.
Elang tidak menjawab dia hanya tersenyum menanggapinya.
"Tuan, jika kau sudah bisa berjalan aku berjanji akan mengajakmu jalan-jalan dan mentraktirmu makan." celetuk Hafsa tanpa sadar namun dia tulus mengatakannya.
"Benarkah itu, kau ingin mengajakku berjalan-jalan dan mentraktirku." Hafsa hanya mengangguk dengan pertanyaan Elang.
Elang tersenyum miring, "Baiklah, aku juga berjanji akan berjalan dengan normal dan menagih janjimu."
"Iya tuan."
"Sekarang coba tuan berjalan perlahan saja." kata Hafsa memberi aba-aba.
Tanpa membantu Elang berjalan sendiri menjauh dari kursi roda, selangkah demi selangkah dia tapaki rumput hijau itu dia juga tidak memakai alas kaki, sengaja supaya kakinya dapat tersentuh tanah itu juga atas usul Hafsa.
__ADS_1
Gadis itu berdiri untuk mengamati sambil terus tersenyum karena Elang berhasil berjalan sejauh ini tapi pandangannya langsung terkejut manakala melihat didepan Elang ada sebuah pot bunga, Elang pasti akan menabraknya jika tidak dihentikan.
"Tuan awass..." Hafsa dengan cepat berlari menyusul Elang agar tidak jatuh tapi sayang karena Elang berat, Hafsa tidak kuat menariknya alhasil Elang menabrak pot bunga beserta dengan tarikan Hafsa yang tidak beruntung menyebabkan mereka berdua terjatuh secara bersamaan.