Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 99


__ADS_3

Sinta memasuki ruang kerja Elang, saat masuk di lihatnya anaknya sedang berkutat dengan laptop. Saking fokusnya sampai tak menyadari jika ibunya datang.


Sinta berjalan perlahan mendekati Elang yang sedang menyapa layar laptop.


"Elang." panggil Sinta lembut.


"Ya Bu ada apa?" Elang langsung menyahut tanpa melihat.


"Kau fokus sekali nak! kenapa tidak menyapa ibu?" ucap Sinta agar perhatian anaknya teralihkan.


"Maaf Bu, bukannya aku tidak ingin menyapa tapi memang aku sedang sibuk." akhirnya Elang menjawab sambil melihat.


"Kau ini Elang memang seperti almarhum ayahmu." Sinta berucap sambil duduk di depan meja Elang.


Elang tak menjawab hanya mendesah pelan.


"Elang, apa kau sudah siap untuk memasuki perusahaan?". tanya Sinta menatap serius anaknya.


Elang menghentikan aktifitasnya lalu menatap ibunya dengan serius pula.


"Iya Bu, aku siap. Aku juga kasihan jika tanggung jawab ini di pikul oleh Rey sendiri." kata Elang mengingat Rey.


"Ibu sangat senang kalau begitu, ibu akan membuat penyambutan untukmu." Sinta menawarkan dengan senang hati.


"Tidak perlu Bu, aku tidak ingin ramai-ramai." Elang menolak karena malas.


"Elang jangan begitu, kau juga harus mengenalkan istrimu pada khalayak ramai terutama di perusahaan mu supaya mereka tau bahwa kau sudah menikah." kata Sinta menjelaskan panjang lebar.


"Untuk itu aku sudah punya rencana tersendiri Bu, sebentar lagi kan ulang tahun perusahaan dan aku akan mengenalkan nya pada saat itu." begitulah rencana Elang yang sudah di pikirkannya.


"Oh begitu lebih bagus Elang, ibu setuju." Elang tersenyum melihat ibunya menyetujui rencananya.


"Lalu kapan kau akan memasuki perusahaan?". tanya Sinta lagi.


"Besok." jawab Elang singkat.


"Emm.. baiklah! kalau begitu ibu keluar dulu selesaikan pekerjaanmu." Sinta mengakhiri pembicaraan nya kemudian beranjak meninggalkan Elang.


*****


"Aku senang sekali dengan liburan kemarin, rasanya ingin mengulang lagi." ucap Hafsa yang sedang bersantai sambil menikmati secangkir es coklat buatan Melati ditemani brownis fudge buatan Melati juga.


"Iya aku juga apalagi, malah aku tidak ingin pulang." Melati berucap sambil berangan menikmati kue buatannya sendiri.


"Hey, jangan begitu kalau kau tidak pulang lebih baik kau tinggal saja disana." kata Hafsa sewot.


"Lah.. aku kan hanya becanda, kenapa kau serius sekali." balas Melati dengan wajah piasnya.


Hafsa mendesah menyadari ada yang aneh pada dirinya. Lalu tiba-tiba perutnya merasakan mual yang sangat, ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Aku ingin muntah." ucap Hafsa sambil berlari pelan.


"Eh tunggu!". Melati mengejar Hafsa yang berlari ke kamar mandi terdekat.


Saat di kamar mandi Hafsa memuntahkan semua isi perutnya. Melati setia menunggu Hafsa sambil sesekali memijat leher bagian belakang.


"Kenapa kau bisa muntah?, kau makan apa?" tanya Melati saat Hafsa sudah selesai membersihkan muntahannya.


"Aku makan empat sehat lima sempurna kok, tapi rasanya perut ini mual terus kenapa yah?" Hafsa menjawab dengan apa adanya.


"Hah... jangan-jangan kau hamil." Melati langsung menebak sendiri yang mungkin saja benar.


Hafsa sedikit terkejut, ada rasa bahagia begitu juga sedih menyelimuti relung hatinya.

__ADS_1


Dia teringat bahwa dirinya hanya menikah kontrak saja dengan Elang dan sebentar lagi batas kontrak satu tahun itu akan segera berakhir.


Lalu bagaimana nasib anak yang dikandungnya jika ia hamil, apakah Elang akan mengambilnya dan membuang dirinya pikiran buruk itu langsung saja terbayang dalam otaknya.


"Hey, malah melamun. Kenapa?" Melati heran dengan perubahan wajah Hafsa yang murung.


"Aku tiba-tiba saja teringat bahwa kontrak pernikahan ku akan segera berakhir. Aku tidak tau apakah harus senang atau sedih." ungkap Hafsa lirih.


Melati mendesah pelan, "Heh, ya ampun aku kira kenapa. Hey, dengar yah aku yakin seribu persen tuan Elang akan merobek kontrak itu dan menjadikanmu istri seutuhnya apalagi kau akan punya anak darinya. Percaya padaku." tebak Melati sangat yakin sekali.


"Kenapa kau yakin sekali Melati? belum juga terjadi." kata Hafsa lesu.


"Hafsa.. kau ini bodoh atau bagaimana sih tuan Elang itu sudah mencintaimu jadi dia pasti tidak akan meninggalkanmu. Buktinya saja kau hamil." kata Melati heboh sendiri.


"Hey, dia belum bilang mencintaiku dari mulutnya dan aku juga belum tentu hamil kau asal menebak saja." ucap Hafsa sewot pada Melati.


"Sebentar lagi juga dia akan bilang dan untuk memastikan kau hamil atau tidak ayo kita periksa sekarang juga aku yakin kau pasti hamil." Melati memberi semangat dengan mengajak Hafsa periksa.


"Ah.. sekarang." ucap Hafsa dengan wajah bingungnya.


"Ya sekarang lah kapan lagi."


"Tapi... bagaimana cara meminta ijinnya? aku harus jawab apa?" ujar Hafsa dengan wajah polosnya.


"Hadehh.. temanku ini memang bodoh yah! ya kau tinggal beralasan pergi denganku untuk membeli sesuatu." kata Melati jengkel pada sahabatnya ingin rasanya menjitak keningnya.


"Oh... begitu." jawab Hafsa dengan wajah cengonya.


"Ya sudah cepat hubungi dia."


"Untuk apa dihubungi, aku samperin saja diruangan kerjanya." kata Hafsa ingin beranjak namun segera dicegah oleh Melati.


"Hey, jangan kalau kau menghampirinya yang ada nanti urusannya jadi beda udah hubungi saja kalau bisa lewat pesan." ujar Melati karena kalau langsung meminta ijin pasti Elang yang akan mengantarnya dan ceritanya pun akan berbeda.


"Em.. ya sudah aku hubungi lewat pesan saja." akhirnya Hafsa menurut.


"Dia mengijinkan Mel." Hafsa senang terlihat dari raut wajahnya yang cerah.


"Asik.. ayo sekarang juga kita berangkat."


Mereka pun berangkat dan Hafsa hanya membawa tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya saja begitu juga Melati, untungnya nyonya Sinta baru saja pergi tadi setelah berbicara dengan Elang.


Saat sudah keluar dipintu utama Hafsa dan Elang di cegat oleh pengawal Elang.


"Maaf nona, aku di perintah oleh tuan muda untuk mengantar nona dan nona Melati kemanapun pergi." ucap pengawal menunduk hormat.


Melati merasa tersanjung karena baru kali ini dirinya dipanggil nona.


"Aku di panggil nona, Sa." dia terharu sampai menggoyang-goyangkan lengan Hafsa.


"Hey, kau ini biasa saja kenapa? tidak perlu menggoyangkan tanganku juga." kata Hafsa melepas tangan Melati dari lengannya.


"Ah! kau ini."


"Kenapa harus diantar? kita bisa pergi berdua kok." kata Hafsa mengabaikan Melati.


"Maaf nona, tuan muda tidak ingin sampai kecolongan lagi, jadi dia menyuruhku untuk menemani kalian." jelas Pengawal.


"Sudah Sa, tidak apa-apa! itu artinya suamimu khawatir padamu." jelas Melati tersenyum.


"Tapi Mel...!"


"Tidak apa-apa!" kata Melati meyakinkan dengan isyarat matanya yang menandakan jangan khawatir.

__ADS_1


Karena jika diantar oleh pengawal otomatis akan ketauan karena Hafsa meminta ijin mengantar Melati bukan untuk ke rumah sakit.


"Ayo Hafsa! tunggu apa lagi." Melati menarik tangan Hafsa untuk menuju mobil yang sudah di siapkan.


Pengawal menunduk hormat kemudian mengikuti nona mudanya.


Akhirnya Hafsa dan Melati pergi dengan diantar pengawal yang terlihat masih muda dan lumayan tampan kulitnya agak hitam namun manis bila di pandang.


Didalam mobil dalam perjalanan.


"Sa, sepertinya aku baru melihatnya?" kata Melati berbisik pada Hafsa.


"Iya kah aku tidak tau." jawab Hafsa acuh.


"Hey, sepertinya aku baru melihatmu kau baru yah!" tanya Melati pada pengawal di depan.


"Betul nona, aku baru bekerja kemarin. Namaku Galang aku bekerja sebagai supir sekaligus pengawal untuk nona muda dan aku di pilih langsung oleh tuan muda." jelas pengawal yang bernama Galang itu.


"Benarkah begitu, tapi kenapa suamiku tidak bilang?" Hafsa terkejut begitu mendengar penuturan Galang.


"Mungkin tuan lupa, tanyakan saja padanya." kata pengawal menyuruh Hafsa, takut jika Hafsa tidak percaya.


"Coba kau tanyakan Sa." Melati juga menyuruhnya untuk menanyakan.


"Iya aku telfon dulu." Hafsa kemudian menelfon Elang yang masih diruang kerjanya.


Diruang kerja Elang sedang menata agenda perusahaannya lalu tiba-tiba ponselnya berdering dilihatnya nama istriku di ponselnya dia pun tersenyum.


"Halo istriku, apa kau rindu padaku? sampai kau harus menelfonku." Elang langsung menggoda setelah ponsel itu tersambung.


"Kak Elang, jangan menggombal. Aku ingin bertanya apakah kau merekrut pengawal baru untukku." kata Hafsa menjawab diseberang sana langsung pada intinya tidak menanggapi rayuan sang suami.


Sedang Melati menguping disebelahnya sambil terkikik geli.


"Iya benar, dia memang aku rekrut khusus untukmu. Apa kau tidak suka?" tanya Elang di seberang sana.


"Aku suka, hanya saja kau tidak bilang padaku dulu."


"Maafkan aku, aku lupa memberitahu mu."


"Ya sudah kalau begitu aku lega mendengarnya. Aku tutup dulu yah!"


"Hey, kau...!" belum selesai Elang berbicara Hafsa sudah menutupnya sepihak.


"Hah... dia mematikannya langsung sebelum aku selesai berbicara wanitaku ini memang beda." kata Elang geleng-geleng kepala.


Karena memang dari semua wanita yang mengenal Elang hanya Hafsa yang berani menutup telfon duluan.


"Bagaimana?" tanya Melati tidak sabar.


"Iya dia benar." jawab Hafsa singkat.


"Wah... pantas saja dia panggil aku nona dia tidak tau aku rupanya."


"Hey, kau tau siapa aku?" Melati bertanya sok akrab.


"Namaku Galang nona."


"Iya aku tau, Galang kau tau siapa aku?" Melati tanya lagi karena tadi tidak di jawab.


"Kau adalah nona Melati pelayan serta koki pribadi tuan dan nona muda sekaligus sahabat dari nona muda." jawab Galang lugas dan tepat.


"Dia benar." sambil memandang Hafsa.

__ADS_1


"Kau tau dari mana?" tanya nya lagi.


"Dari tuan muda. Jadi sekarang kita mau kemana dulu nona." tanya Galang kemudian karena dari tadi hanya berjalan tanpa arah tujuan.


__ADS_2