
Pagi pun tiba
Elang tidak bisa tidur semalaman ini karena gadis disampingnya bukan hanya pingsan tapi juga tertidur dan lebih parahnya gadis itu punya kebiasaan tidur yang tidak tenang yaitu menguasai tempat tidur.
Ingin sekali Elang menendang gadis itu agar terbangun tapi hati kecilnya tidak tega karena dia bukan tipe orang yang suka menyakiti wanita dengan memakai fisik.
"Sial, kenapa sial sekali hari ini gadis ini benar-benar!" gumam Elang saat bantal guling yang dia batasi malah dilempar oleh Hafsa dan kini gadis itu malah memepet kearah Elang.
"Hei, gadis bodoh bangun kau tidur atau mati!" ucap Elang sudah tak tahan mengetahui kebiasaan buruk gadis itu jika tidur.
Hafsa menggeliat perlahan dia membuka matanya karena dirasa ada suara yang mengusiknya.
Tidurnya kali ini lebih nyaman kasurnya pun sangat empuk lebih empuk dari kasur dikamar pelayan, yang tadinya pingsan dia jadi kebablasan malah tidur senyenyak ini.
Tapi dia langsung tersadar sepenuhnya saat menyadari kasur yang begitu empuk ini bukan miliknya maka dia langsung terbangun duduk dan ketika melihat kesampingnya dia terkejut sampai menutup mulutnya dan matanya membola.
"Aku masih disini!" katanya mengetahui bahwa dirinya ada dikamar tuan muda, kemudian melirik disampingnya yang sedang menatap tajam padanya.
"Belum apa-apa kau sudah menguasai kasurku!" ucap Elang kini dirinya juga sedang duduk.
Hafsa menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu tersenyum malu, "Maaf tuan aku terlena dengan kasurmu, sangat empuk jadi aku ketiduran. Tapi kenapa tuan tidak membangunkanku dan menyuruhku pindah."
"Kau pikir aku tidak melakukan itu, kau tidur seperti orang mati ingin kutendang saja rasanya." ucap Elang kesal.
Hafsa terkekeh, "Maaf tuan, aku memang salah kalau begitu aku keluar dulu yah!"
"Hey, setelah kau tidak bisa membuatku tidur kau ingin pergi begitu saja."
Hafsa yang ingin beranjak jadi tidak jadi.
"Lalu aku harus apa tuan?" tanyanya bingung.
"Kau harus buat aku tertidur." ucapnya membaringkan tubuhnya dan Hafsa bingung bagaimana caranya.
"Pijat aku." timpal Elang karena pengasuhnya diam saja.
__ADS_1
"Ah iya."
Hafsa pun mulai memijat tangan Elang karena Elang berbaring menghadap depan sehingga perut sispeknya pun terlihat.
Hafsa memijat tangannya tapi matanya ia alihkan kesembarang tempat karena tidak ingin melihat tubuh yang begitu mulus dan putih yang dimiliki Elang.
'Sampai kapan aku harus memijatnya jika begini terus, bisa-bisa tengleng kepalaku.'
ucapnya dalam hati.
"Tuan sudah, bagian punggungnya belum." kata Hafsa supaya dirinya terbebas dari kepala tengleng.
Elang pun tanpa berkata dia membalikkan badannya menjadi tengkurap sambil memejamkan matanya.
Hafsa pun jadi lega dia kembali meluruskan kepalanya tapi tubuh bagian belakang pun sama saja sangat putih dan mulus membuat Hafsa jadi tergiur tentu saja karena dia juga gadis normal.
Tak lama kemudian Elang tertidur juga membuat Hafsa bernafas lega dia pun meregangkan otot-otot tangannya kemudian dirinya tergoda dengan kasur empuk itu ingin merebahkan diri lagi disana tapi dia segera teringat bahwa dirinya hanya penagsuh.
Gadis itu pun beranjak dan pergi meninggalkan kamar Elang dan sebelumnya telah menyelimuti Elang sebelum pergi.
"Melati... kau membuatku kaget saja." kata Hafsa mengelus dadanya pelan.
Melati mengerutkan alisnya, "Kau sekaget itu melihatku, memangnya aku hantu apa?" Melati memanyunkan bibirnya.
Hafsa terkekeh dibuatnya, "Maaf, aku hanya kaget saja, aku tidak melihat hantu kok aku kaget karena melihat gadis cantik luar biasa." ucap Hafsa membuat Melati tersenyum.
"Ah kau bisa saja merayunya, coba tuan Rey yang merayuku pasti aku akan langsung memeluknya, menciumnya bahkan mencubitnya karena gemas." balasnya ikut terkekeh berlebihan membuat Hafsa mendelik.
"Eh tapi ngomong-ngomong kau dari mana aku tidak melihat mu pagi ini, tapi kenapa kau tiba-tiba keluar dari kamar tuan muda kapan kau kesini." cecar Melati dengan berbagai pertanyaan.
"Ah... aku...!" Hafsa bingung menjawabnya karena ceritanya panjang dan tidak mungkin menceritakan disini.
"Nanti aku ceritakan, tapi tidak disini." jawab Hafsa.
"Eh, kau bawa sarapan untuk tuan muda yah! sebaiknya nanti saja diberinya karena dia baru tertidur." sambung Hafsa lagi saat melihat troling berisi makanan.
__ADS_1
"Eh masih tertidur biasanya dia sudah bangun." tanya Melati heran.
"Sudah kau jangan banyak tanya sebaiknya ikut aku." Hafsa mendorong Melati untuk menjauh dari kamar Elang.
****
Didalam kamar Hafsa, Melati sudah menunggu dengan penasaran dan penuh minat. Dirinya sangat antusias sekali ingin mendengar cerita temannya ini.
"Jadi bagaimana Sa ceritanya, aku penasaran nih dari tadi?" tanya Melati sudah duduk diranjang Hafsa.
"Kau ini tidak sabaran sekali, aku saja baru masuk." ucap Hafsa ikut duduk diranjangnya.
"Karena kau tidak langsung cerita padaku makanya aku tidak sabar." desak Melati.
"Baiklah, aku akan cerita." Hafsa menghirup nafas perlahan lalu menghembuskannya.
"Jadi semalam itu adalah sesuatu yang tidak kuduga-duga sebelumnya aku sedang tidur dibangunkan oleh tuan muda dengan nada yang aneh menurutku."
"Tunggu, aneh gimana maksudmu?"
"Aneh seperti memanggil dengan cara lembut dan memanggil sayang seperti pasangan kekasih dan ternyata dikamarnya ada seorang wanita yang cantik dan seksi dan dia menyuruhku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya hanya untuk supaya wanita itu pergi. Dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya." Hafsa menjeda ceritanya untuk menormalkan kembali nafasnya.
"Selanjutnya apa?" Melati yang mendengar jadi ikut antusias dengan wajah serius.
"Selanjutnya adalah nyonya Sinta memergoki kami tapi yang lebih mengejutkan lagi nyonya Sinta mendukung anaknya yang malah melanjutkan untuk berpura-pura dan kau tau nyonya Sinta menyuruh kami menikah."
"Apa??? menikah!" ucap Melati berteriak sambil berdiri karena sangat terkejut.
"Hei, jangan teriak-teriak nanti terdengar orang malu." Hafsa menarik Melati supaya duduk dan jarinya dia letakkan dibibirnya untuk jangan berisik.
"Ya maaf aku kan hanya kaget!" jawab Melati pelan.
"Kau harus merahasiakan ini yah?"
"Iya kau tenang saja tapi beneran itu ceritanya kau tidak mengada-ada kan." tanya Melati dengan memicing.
__ADS_1
"Kalau kau tidak percaya ya sudah aku juga tidak menyuruhmu percaya!" Hafsa kemudian beranjak dan meninggalkan Melati yang masih tidak menyangka antara percaya atau tidak.