Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 100


__ADS_3

Hafsa dan Melati menjadi gugup saat di tanya seperti itu, lalu muncullah ide di otak Hafsa.


"Em.. kita ke rumah sakit dulu aku ingin menengok teman yang sedang sakit di sana." kata Hafsa menyikut lengan Melati.


"Iya ke rumah sakit." Melati membenarkan.


"Baik nona."


Mereka pun menuju rumah sakit terdekat, awalnya Galang menanyakan rumah sakit mana tapi karena Hafsa dan Melati tadi hanya beralasan jadi dia juga asal menyebut nama rumah sakit nya.


Dan sekarang mereka sampai di rumah sakit yang disebut Hafsa.


"Kau tunggu di sini yah tidak perlu masuk." ucap Hafsa pada Galang.


"Tunggu nona." Galang menahan sebelum mereka keluar.


"Ada apa?" tanya Hafsa gugup.


"Maaf nona jika saya lancang, apa nona tidak membawa apa-apa untuk teman nona.?" pertanyaan Galang membuat Hafsa dan Melati serasa menjadi orang yang bodoh.


Mereka berdua saling pandang menyadari kebodohannya.


"Oh iya, aku lupa tapi nanti kita beli didepan sana kok yah!". Hafsa mengalihkan sebelum Galang curiga.


"Iya, tadinya mau sekalian membeli keperluanku tapi aku takut merepotkan jadilah kita nengok dulu." Melati menambahkan dengan tegas.


"Kau ini jangan bawel yah! dan tidak usah banyak tanya." ucap Melati sewot pada Galang.


"Maaf nona, saya tidak akan mengulangi." jawab Galang namun tidak merasa bersalah malah tersenyum.


"Hey, aku ini kesal padamu kau malah senyum lagi. Udah yuk sa kita pergi saja." Melati segera menarik Hafsa untuk keluar dari mobil.


Setelah mereka keluar Galang menelfon Elang.


"Mereka sudah dirumah sakit tuan muda."


"Awasi dia terus."


"Baik tuan muda."


"Kau memang harus di hukum wanitaku." kata Elang tersenyum miring.


*****


"Nyonya Hafsa Aulia silahkan masuk." panggil perawat setelah mereka mengantri karena mereka memasuki rumah sakit yang tidak besar.


Hafsa juga mendaftar sebagai pasien biasa yang masuk umum jadi harus mengantri. Jika pergi dengan Elang sudah pasti tidak perlu mengantri dan mendapat pelayanan yang terbaik.


"Yuk Mel, aku di panggil." Hafsa mengajak Melati masuk.


"Ayu!" Melati mengiyakan.


Kemudian mereka masuk dan langsung di sambut oleh dokter.


"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu." ucap dokter wanita itu ramah.


Hafsa dan Melati duduk dan keduanya tersenyum.


"Begini dok, saya mau periksa akhir-akhir ini saya sering mual dan pusing saya ingin minum obat tapi takut." jelas Hafsa.


"Anda sudah menikah?" tanya Dokternya.


"Iya aku sudah menikah."


"Baiklah, nona ikut saya biar saya periksa." saran dokter itu, lalu Hafsa mengikuti saran dokter dengan berbaring di ranjang pasien.


"Maaf tolong angkat bajunya." pinta dokter itu.


Hafsa pun mengangkat baju nya di bantu perawat dan Melati lalu perawat itu menuangkan gel di perut Hafsa.


Lalu dokter meletakkan alat di gel itu, sedikit menekan sambil melihat layar dimonitor.


Dokter tersenyum saat melihat hasilnya dan membersihkan alat itu dengan tisu, sedang perawat itu membersihkan bekas gel itu di perut Hafsa.


"Mari nona sudah selesai."


Hafsa dan Melati pun kembali duduk


"Bagaimana dok? apa hasilnya?" tanya Hafsa tidak sabar.

__ADS_1


"Selamat nona anda hamil." kata dokter tersenyum.


Hafsa dan Melati juga ikut tersenyum lebar.


"Saya hamil dokter." ulang Hafsa tidak percaya.


"Iya, usianya baru 4 minggu dan sehat." jelas sang dokter.


"Selamat yah!" tambahnya.


"Apa ku bilang kau pasti hamil sa? benar kan." ucap Melati antusias sekali.


"Ah senangnya aku bakal punya ponakan yang lucu." tambah Melati sambil membayangkan bayi lucu.


"Melati, kau ini tidak tau malu masih ada dokter." ucap Hafsa meyikut lengan Melati.


"Ah kau ini kan aku lagi senang ya kan dokter." oceh Melati menatap dokter.


"Iya tidak apa-apa!" jawab dokter itu tersenyum tanpa menjawab apapun.


"Ya sudah dokter terimakasih. Saya permisi." pamit Hafsa tidak ingin berlama-lama.


"Ini print nya nyonya." dokter menyerahkan hasil print USG sebagai bukti.


"Oh iya terimakasih." ucap Hafsa sambi menerima.


"Terimakasih dok." ucap Melati.


"Sama-sama." balas dokter tersenyum.


Diluar ruangan


"Ah... apa kubilang kau hamil kan." ujar Melati sangat senang.


"Iya, lalu apa yang harus aku lakukan?" Hafsa bertanya sambil berjalan.


"Lah kok nanya ya besarin lah."


"Ih.. Melati kau lupa yah dengan kata-kata ku tadi." kata hafsa dengan nada dibuat-buat.


"Ih.. Hafsa kau lupa yah! aku kan sudah bilang tuan Elang pasti akan menerima bayi ini dan menjadikan mu istri seutuhnya." Melati malah mengikuti gaya bicara Hafsa yang dibuat-buat.


Hafsa tidak menjawab hanya berfikir semoga saja apa yang dikatakan Melati benar adanya.


Mereka pun sudah sampai di parkiran, Galang dengan cool nya menunggu sambil bersandar di samping mobil dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.


"Eh, itu si Galang keren juga pengawalmu." kata Melati memandangi Galang.


"Hey, tuan Rey mau kau kemana kan." Hafsa menyindir.


"Ya tuan Rey tetap di hatiku lah, aku kan hanya memuji bukan berarti aku suka." ujar melati menatap Hafsa.


Saat nona muda nya terlihat berjalan mendekatinya Galang langsung berdiri dengan tegap.


"Sudah selesai nona."


"Sudah." jawab Hafsa singkat.


"Silahkan masuk nona." Galang membuka pintu mobil menyuruh Hafsa masuk sedang Melati membuka sendiri bagian samping yang lain.


"Terimakasih." Hafsa kemudian masuk


Lalu Galang pun masuk.


"Jadi sekarang kita kemana lagi nona?" tanya Galang sebelum mengemudikan mobilnya.


"Kita pulang saja." ucap Melati cepat.


"Loh katanya kau mau membeli sesuatu." kata Hafsa merasa heran.


"Heh.. tiba-tiba perutku mulas ingin cepat-cepat pulang." jawab Melati memegang perutnya.


"Mau aku carikan kamar mandi umum nona.?" tawar Galang khawatir.


"Tidak perlu, aku ingin di rumah saja kau yang cepat saja bawa nya." Melati menolak karena dia hanya beralasan saja dia juga sebenarnya sedang malas keluar dan tidak ada yang ingin di beli.


"Benar Mel, sebaiknya cari kamar mandi saja yah!" Hafsa sama khawatir menyuruhnya untuk ke kamar mandi umum.


"Tidak perlu nona muda. Aku tunggu di rumah saja." ucap Melati dengan menekan gigi nya dan mengisyaratkan dengan matanya.

__ADS_1


Hafsa baru mengerti dan menyadari, "Oh ya sudah kalau begitu. Galang terus jalan." perintahnya kemudian.


"Baik nona." tanpa bertanya lagi Galang langsung mengemudi dengan cepat.


*****


Akhirnya mereka sampai di kediaman Elang, Melati berpura-pura terburu langsung masuk ke halaman belakang.


"Eh.. anak itu." Hafsa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya.


"Galang, terimakasih yah sudah mengantar." ucap Hafsa sebelum keluar dari mobil.


"Sama-sama nona."


Malam pun tiba nyonya Sinta tidak pulang hari ini dia sedang keluar kota mendadak untuk beberapa hari karena urusan darurat.


Hafsa dan Elang sudah dikabari sebelumnya jadi mereka tidak bertanya lagi.


Malam ini Hafsa hanya makan malam berdua saja sudah seperti diner saja hanya saja tidak ada lilin dan tiupan angin malam.


Saat sedang makan Hafsa mendadak tidak nafsu padahal biasanya dia sangat lahap memakannya apapun itu makanan yang di buat Melati.


Elang mengamatinya dari dekat melihat raut wajah istrinya yang terlihat lesu menjadikannya khawatir.


"Sayang, kau kenapa? kenapa tidak di makan?" tanya Elang dengan suara beratnya.


"Aku tidak nafsu makan, tiba-tiba aku ingin makan cilor." ucap Hafsa begitu saja.


"Hah.. cilor." Elang seperti baru mendengar kata cilor.


"Apa itu cilor?" tanya nya kemudian.


"Hah ya ampun kau tidak tau cilor, cilor itu aci telor. Cilok kecil yang digulung dengan telur lalu diberi saus hem... nikmatnya." Hafsa menjelaskan sambil membayangkan dan membuatnya menelan air liurnya.


"Oh makanan kampung, itu pasti tidak sehat sebaiknya tidak usah yang lain saja." kata Elang menolak.


"Kalau begitu aku ingin aneka jajanan diluar." Hafsa merajuk karena Elang menolak.


Elang mendesah pelan, "Baiklah ayo aku antar." akhirnya Elang menuruti keinginan istrinya dari pada melihatnya cemberut.


"Yey... terimakasih suamiku." Hafsa tersenyum senang seperti anak kecil.


"Ingat, kau harus membayar ini semua." kata Elang tersenyum miring.


"Iya, kau ini perhitungan sekali." balas Hafsa sudah mengerti maksudnya.


Kemudian mereka pun pergi ke tempat tujuan.


Karena Hafsa ingin aneka jajanan, Elang mengajaknya ke pasar kuliner dimana disana banyak sekali yang menjual aneka macam jajanan khas kekinian.


Elang memarkirkan mobilnya dulu ditempat parkir yang sudah tersedia lalu mereka pun berjalan mengitari pasar itu.


"Wah... Kak Elang sangat tepat membawaku kesini aku jadi pengen coba semuanya." ucap Hafsa langsung menyerbu di kedai pertama.


Elang hanya geleng-geleng melihatnya.


Kedai pertama yang dia kunjungi adalah jajanan yang menjual cemilan ringan seperti sempol ayam.


Hafsa memesan 5 tusuk, beberapa saat menunggu akhirnya sempol nya jadi juga dan dia mencobanya satu setelah itu dia tidak mau lagi, dia malah memberikannya pada Elang.


Elang menerimanya dengan kernyitan di alis.


"Kau juga harus coba, ini enak loh habiskan yah!" ucap Hafsa tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Aku mau coba yang lain."


"Hey, kau tidak menghabiskan ini." ucap Elang dengan mengangkat makanannya.


"Aku tidak mau lagi." jawab Hafsa kemudian berlalu, mencari jajanan yang menarik di matanya.


"Hah, kau benar-benar beruntung Hafsa baru kali ini aku disuruh menghabiskan makanan sisa wanita." kata Elang tidak percaya namun dia mencoba memakannya juga.


"Hem... lumayan tidak terlalu buruk." kata Elang, dia pun menghabiskannya.


Hafsa terus mencoba satu persatu jajanan yang menarik di mata nya hanya mencoba sisanya dia berikan pada Elang dan herannya Elang dengan suka rela mau menghabiskan sisa makanannya tanpa marah sedikitpun.


Alhasil jadi Elang yang kekenyangan.


"Aku sudah kenyang, ayo kita pulang." ucap Hafsa sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kau enak sekali menyuruh pulang lihat aku, aku sampai tidak bisa berjalan karena kekenyangan." ujar Elang duduk ditempat.


Hafsa terkekeh, "Oh ya ampun perut mu sampai buncit." sambil menepuk perut Elang.


__ADS_2