Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 42


__ADS_3

"Jadi dimana dia tinggal dan bekerja?" tanya Rahma antusias.


"Tapi kalian ini siapanya dia?" tanya Nina karena memang belum tau.


"Oh iya kami belum memperkenalkan diri. Namaku Rahma dan ini anakku Sesil, kami adalah ibu dan saudari tiri Hafsa." ucap Rahma menunjuk dirinya dan Sesil sedangkan Sesil hanya manggut-manggut saja.


"Oh jadi ibu tiri dan adik tiri." ulang Nina dengan sedikit sinis.


"Iya, lalu dimana dia bekerja!" Rahma sangat antusias sekali ingin mengetahui keberadaan Hafsa, tentu saja karena dia mempunyai niat tersembunyi.


"Kau sangat tidak sabar sekali rupanya. Tenang aku akan membawa kalian ketempatnya dengan syarat kalian harus mengikuti semua perintahku. Bagaimana?" ucap Nina karena diapun jadi mempunyai jalan untuk mewujudkan obsesinya yaitu memiliki Elang Rahardian.


"Tapi.. kita juga mempunyai urusan tersendiri dengannya" Rahma segera menyanggah penawaran itu karena bagaimana kalau tidak sejalan, bisa berantakan urusannya dan rencana mereka jadi gagal.


"Iya ibuku benar jika kami menuruti perintahmu, lalu bagaimana dengan rencana kita sendiri." ucap Sesil menambahkan.


"Kalian tenang saja urusanku tidak akan mengganggu urusan kalian." balas Nina meyakinkan.


Rahma dan Sesil berfikir sejenak kemudian memutuskan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, setuju." kata Rahma setelah berunding dengan pikirannya.


"Iya setuju." Sesil juga menambahkan.


"Oke..!" Nina dengan senyum misterius mengulurkan tangannya pada Rahma dan Sesil. Merekapun menyambutnya dengan senang hati.


Mereka bertiga akhirnya sepakat untuk bekerja sama untuk mewujudkan keinginan masing-masing. Keinginan yang diambil dengan cara yang mungkin salah karena kali ini kita tidak tau apa yang ada dibenak masing-masing.


*****


Selepas kejadian itu Hafsa segera keluar dari kamar Elang dengan nafas yang memburu seperti tengah dikejar oleh penjahat dihutan belantara, pelipisnya sampai mengeluarkan keringat karena berlarian kecil dari kamar Elang menuju dapur.


Karena mereka tidak berhadapan membuat keduanya jadi bertabrakan.


"Auww..!" jerit kedua gadis manis itu secara bersamaan karena punggung mereka berbenturan.


Saat saling melihat siapa yang telah ditabraknya mereka berdua malah tertawa seperti anak kecil.


"Hah Melati, punggungmu keras sekali seperti tembok, punggungku jadi sakit begini" ucap Hafsa memegangi punggungnya setelah tadi tertawa.

__ADS_1


"Tembok, kau juga padahal tubuhmu kecil tapi tenagamu besar sekali sampai badanku jadi sakit semua." balas Melati tak mau kalah.


"Hey, aku lebih sakit apalagi jantungku berdebar tadi kalau aku kenapa-kenapa, bagaimana? apa kau mau tanggung jawab." ucap Hafsa lagi terdengar serius.


"Aku tidak mau tanggung jawab toh aku juga sama sudah kau sakiti dan aku juga sedang gugup tadi." Melati melayangkan protesnya juga.


Perdebatan serius mereka menjadi tatapan para pelayan yang ada disitu, mereka menatap dengan aneh karena biasanya dua gadis itu sangat akrab tapi kenapa ini malah berdebat serius sekali hanya karena bertabrakan yang sakitnya tidak seberapa.


Tatapan mereka semakin membingungkan pasalnya setelah dua gadis itu berdebat mereka malah tertawa dan berpelukan membuat mereka menggelengkan kepalanya melihat keabsuran tingkah Hafsa dan Melati.


"Hafsa apa tadi kau bilang jantungmu berdebar, hayo... apa yang terjadi antara kau dengan tuan." Melati menggoda Hafsa dengan sesekali menyentuh dagunya.


"Hayo... tadi siapa yang gugup, apa yang kalian lakukan disana ngaku." Hafsa pun melakukan hal yang sama menggoda Melati dengan menyentuh dagunya.


Mereka berdua senyum-senyum sendiri setelah saling menggoda.


"Eh kita ceritanya jangan disini yuk! disini banyak mata sama telinga, nanti kita malu." bisik Melati melihat sekitarnya banyak mata yang menuju kearah mereka.


Hafsa juga menjadi celingukan menatap sekitar, "Ayu kita ketaman saja." usulnya menawarkan.

__ADS_1


"Ayo..!" dengan segera Melati menarik tangan Hafsa menuju taman untuk bertukar cerita.


__ADS_2