
Hafsa membuka mata perlahan sebelum membuka sempurna dirinya melihat keadaan sekitar, namun terasa berat pada bagian perut dilihatnya bagian itu terdapat sebuah tangan kekar yang melingkari pinggangnya.
Diapun berbalik dan mendapati wajah yang sangat tampan yang sedang menutup mata dengan teduh dan nafas yang teratur.
Lalu memandangi wajah itu dengan seksama hidung mancung, alis tebal berwarna hitam sempurna, bibir tipis dan rahang yang tegas membuat setiap kaum hawa mengimpikannya.
Tak berapa lama Hafsa tersadar, dirinya tidur begitu dekat dengan Elang karena biasanya mereka selalu tidur terpisah dan kali ini tidur di satu ranjang yang sama.
Lalu melihat dirinya sendiri dibawah selimut.
Hahh...
Alangkah terkejutnya Hafsa saat tau dirinya kini polos tak berbusana ingin menjerit namun takut membangunkan Elang dia mengingat kejadian semalam dan menyadari bahwa dia telah melanggar perjanjian untuk tidak menyentuh fisik.
'Kenapa aku bisa melakukan ini? aku sudah melanggar perjanjian aku sudah tidak jadi gadis lagi, bagaimana ini?' ucap Hafsa dalam hati sambil menggigit ujung jarinya.
'Aku tidak mengerti kenapa aku mau, aku kan bisa menolaknya.' Hafsa terus menggerutu seperti menyesal telah melakukan yang seharusnya belum di lakukan.
Saat sedang berperang sendiri dengan pikirannya tiba-tiba saja Elang menarik pinggang Hafsa membuat tubuhnya semakin erat, lalu dipeluklah dia, bibir Elang juga tidak diam bibirnya menyusuri pipi Hafsa berikut juga lehernya membuat si empunya menahan rasa geli.
"Em.. hentikan tuan." pinta Hafsa pelan.
Bukannya berhenti Elang malah semakin merapatkan tubuhnya dan terus menyusuri bahkan menciumi bagian itu dan mungkin yang akan membuatnya candu.
"Tuan lepaskan ini sudah pagi, apa yang tuan lakukan?"
Mendengar suara Hafsa yang sedikit berteriak, Elang membuka matanya dan terdiam membuat Hafsa ikut terdiam juga takut jika Elang marah.
__ADS_1
"Kau berteriak padaku." ucap Elang pelan namun tangan yang melingkar itu belum juga dilepaskan.
"Hanya sedikit." cicit Hafsa pelan.
"Kau berkata apa yang aku lakukan? memangnya kau lupa apa yang baru saja kita lakukan semalam." bisik Elang ditelinga Hafsa.
Hafsa tidak menjawab dia hanya menggaruk pelipisnya saja sambil berfikir.
"Jika kau lupa akan aku ingatkan." ucap Elang kini dirinya sudah bersiap ingin melakukan hal yang semalam lagi.
Melihat tindakan Elang tentu saja membuat Hafsa terkejut namun bukan karena apa yang ingin Elang lakukan melainkan cara Elang untuk bangun dalam posisi diatas tubuhnya yang sudah pasti menekan lutut kakinya untuk bertumpu.
"Tuan, kau... kakimu."
Elang malah kebingungan mendengar reaksi istrinya yang malah tidak tergoda dan malah menampakkan reaksi yang kebingungan.
Mendengar itu Elang menyadari kemudian duduk dan meraba lututnya sendiri.
"Tuan, ayo coba bangun sepertinya ada kemajuan lagi dan kau harus periksa ke dokter." kata Hafsa antusias sekali melihat kemajuan Elang.
"Benarkah." Elang malah terbengong sendiri karena baru menyadari.
"Iya, ayo coba." Hafsa senang dia segera meraih tangan Elang mencoba membantu untuk bangun.
Tapi ada yang mereka lupakan pagi itu sehingga sesuatu yang tidak diduga pun terjadi. Selimut yang menutupi bagian tubuh intim mereka kini melorot dan menampakan pemandangan yang begitu aduhai.
Lebih parahnya lagi Elang malah menyentuh sesuatu yang sangat sakral bagi perempuan yaitu dua gunung kembar meski hanya satu yang dipegang.
__ADS_1
Sepersekian detik mereka berdua loding sebelum akhirnya menjerit bersamaan.
Aaaaaa....
Elang langsung melepaskan tangannya yang menyentuh salah satu gunung itu sambil menutupi bagian bawah pusarnya sedang Hafsa langsung menutupi juga bagian atas hingga bawah.
Kemudian mereka duduk sambil bertingkah yang tak karuan mungkin karena malu dan entahlah.
*****
"Kenapa mereka lama sekali? apakah mereka belum bangun?" tanya sang nyonya pada Rey di meja makan.
"Apa perlu aku bangunkan nyonya." Rey menawarkan diri ingin membangunkan Elang.
"Eh, tidak usah biarkan saja mungkin sebentar lagi bangun." Sinta melarang Rey untuk membangunkan, sudah pasti Sinta tau kenapa mereka belum turun juga jadi dia hanya membuka obrolan saja dengan Rey sekedar berbasa-basi.
"Tapi benar juga nyonya, ini sudah siang biasanya tuan muda sudah bangun, apa dia sakit aku harus memeriksanya." Rey yang sangat mengkhawatirkan Elang berfikir jika Elang sakit dirinya langsung bangkit ingin menuju kamar Elang.
"Eh jangan." Sinta langsung melarang, karena masalah ini Rey tidak diberi tahu.
"Kenapa nyonya? bagaimana jika terjadi sesuatu dengan tuan, nyonya." kata Rey benar-benar khawatir.
"Tidak perlu Rey, mereka pasti akan turun sebentar lagi." jawab Sinta mencoba menenangkan Rey yang sudah khawatir.
"Tidak nyonya, tuan muda adalah tanggung jawabku jadi aku harus pergi." Rey tetep kekeh pada pendiriannya, dia langsung bergegas menuju tangga.
"Rey..!" Sinta menepuk dahinya sendiri bingung harus memberitahukan bagaimana kepada Rey.
__ADS_1
Namun Dewi Fortuna menyelamatkannya, tak lama kemudian Elang keluar dibantu Hafsa bukan dengan memakai kursi roda namun dipapah menggunakan tongkat.