
Saat nyonya Sinta sedang santai dibangku gajebo sambil meminum teh nya dan membaca majalah, itulah kebiasaan Sinta jika sedang ada dirumah. Ingin pergi juga jika ada perlu saja.
Saat sedang santai Rahma dan Sesil menghampiri sambil saling sikut.
"Selamat sore nyonya." sapa Ibu dan anak itu secara bersamaan.
Sinta menoleh dan tersenyum, "Ya selamat sore, ada apa?". sambil menutup majalahnya.
"Begini nyonya, anakku Sesil telah dipanggil bekerja mohon sekiranya nyonya untuk mengizinkannya bekerja diluar." papar Rahma sambil menunduk.
"Diterima bekerja, bekerja dimana?" tanya Sinta penasaran.
"Didunia modeling nyonya, karena Sesil ingin sekali menjadi model dan ini adalah impiannya. Aku tidak bisa menghentikannya." lanjut Rahma.
"Emm.. di agency mana dia diterima?" tanya Sinta lagi.
"Di agency YG entertainment nyonya." jawab Rahma.
"Kapan dia akan berangkat?"
"Besok nyonya dan semua persiapan nya sudah saya siapkan hanya tinggal berangkat saja." ungkap Rahma.
"Baiklah silahkan. Tapi aku tidak bisa memberikannya pesangon hanya gaji saja karena dia kan belum ada satu bulan disini." terang Sinta.
"Tidak apa-apa nyonya, sudah diberikan ijin saja aku sangat berterimakasih sekali." ucap Sesil senang.
__ADS_1
"Lalu kau bagaimana?" tanya Sinta menunjuk Rahma dengan wajahnya.
"Aku akan tetap bekerja disini nyonya mengabdi kepada nyonya." tutur Rahma dengan semangatnya.
Sinta tersenyum, "Mintalah gajimu pada Bi Rum yah!" titahnya kemudian.
"Baik nyonya terimakasih." mereka menunduk hormat lalu berbalik.
Setelah berbalik senyum miring tersungging dibibir mereka karena telah berhasil menyelesaikan misi pertama.
*****
Elang baru saja kembali dari menemui dokter Ziyan setelah masuk entah mengapa dia ingin sekali bertemu dengan istri kecilnya padahal hanya setengah hari saja tidak bertemu.
Elang mengangguk dan berkata, "Dimana istriku? kenapa dia tidak datang menyambutku?" melalui instingnya Elang tau bahwa disitu tidak ada istrinya karena tidak mencium aroma istrinya.
"Nona sedang mandi tuan." jawab Bi Rum karena memang sebelum menyambut bi Rum sudah memberi tahu Hafsa dulu tapi Hafsa sedang mandi.
Mendengar kata mandi Elang tersenyum tipis, "Baiklah terimakasih."
Elang langsung menuju ke kamarnya menaiki lift supaya cepat sampai.
Tiba lah Elang memasuki kamarnya karena Elang sudah hafal jadi dia tidak nyasar, dia pun menuju kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.
Mendengar suara pintu terbuka Hafsa yang sedang berendam sambil memainkan busa jari terkejut dia membalikkan wajahnya untuk mengetahui siapa yang berani masuk.
__ADS_1
"Tuan...!" ucap Hafsa cemas dia menutupi bagian dadanya dengan busa.
"Tuan, siapa yang kau panggil tuan?" ucap Elang tenang namun kakinya melangkah maju.
"Emm... tentu saja kau." jawab Hafsa menggigit bibir bawahnya.
Jika Elang melihatnya pasti dia sudah tidak tahan karena itu terlihat seksi.
Elang terus maju sambil membuka jasnya dan membuangnya asal lalu membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Tuan mau apa?" Hafsa cemas dengan apa yang dilakukan Elang karena Elang terus maju sambil tersenyum miring.
Kemejapun di lepas berikut sepatunya hanya menyisakan celana hitam panjang saja, terlihatlah perut sixpack nan berotot membuat siapa saja akan tergoda melihatnya termasuk Hafsa bahkan dia terus memandangi pemandangan indah itu tanpa berkedip.
"Eh kau mau apa?" Hafsa tersadar saat Elang sudah memasukkan tubuhnya ke dalam bak mandi bersamanya.
"Aku mau mandi apalagi." jawab Elang.
"Tapi tuan aku kan sedang mandi, nanti dulu lah gantian." kata Hafsa kesal.
Entah mengapa Elang juga kesal saat Hafsa masih memanggilnya tuan di saat keperawanan nya sudah diambilnya.
Tanpa ba-bi-bu Elang dengan instingnya lalu menarik tangan Hafsa sehingga Hafsa jatuh kepangkuan Elang dan sesuatu yang intimpun seperti dua gunung kembarnya ikut menyatu dengan dada bidang Elang hal itu tentu saja membuat Hafsa terkejut begitu juga dengan Elang, ada sesuatu yang berdiri dibawah sana saat benda kenyal itu menempel dengan dadanya sendiri.
"Kau.." tunjuk Hafsa pada Elang.
__ADS_1