
Hafsa sudah mencium pipi Elang dia sampai tersenyum malu, dirasa tidak ada pergerakan lagi membuat Elang membuka matanya.
"Apa kau sudah menciumku.?" tanya Elang, alisnya mengernyit bingung.
Hafsa tambah heran, " sudahlah, memangnya yang tadi itu apa?".
"Yang aku rasa tadi kau hanya mengelus pipiku."
"Kak Elang kau ini becanda terus."
"Aku benar kau seperti mengelus pipiku."
"Aku tidak mau tau cara mencium yang benar." Hafsa memalingkan wajah seperti tau niat Elang.
"Kau memang tidak perlu tau, tapi kau cukup menikmatinya saja." Elang menjawabnya dengan tersenyum smirk.
Mendengar itu Hafsa curiga dia segera beranjak namun terlambat Elang sudah tau langsung saja Elang menarik pinggangnya dan membopongnya seperti karung beras.
"Hey, apa yang kau lakukan? turunkan aku." Hafsa terkejut dia berteriak sambil memukul punggung Elang dengan pelan.
"Diamlah aku akan mengeksekusi mu." jawab Elang asal.
"Eh! memangnya aku ini apa an dieksekusi."
"Kau milikku, wanitaku sudahlah kau diam saja aku akan membuat sesuatu yang hadir didalam rahimmu." setelah itu Elang membawa Hafsa kedalam kamar dan melakukan yang Elang sebut tadi yang awalnya Hafsa tidak mengerti.
*****
Rey mengantar Melati pulang kembali ke rumah besar Elang karena Elang bersama Hafsa dan Sinta.
Melati sangat senang karena dia diantar oleh Rey "Tuan Rey, terimakasih sudah menolongku." ucap Melati saat mereka sedang berada didalam mobil.
"Aku tidak menyangka tuan Rey datang disaat yang tepat, kalau tidak... aku tidak tau apa yang akan terjadi denganku mungkin... aku sudah..."
"Tidak akan terjadi apa-apa denganmu." Rey langsung memotong ucapan Melati entah kenapa hatinya tidak rela jika pria itu menyentuh Melati.
"Iya, itu karena tuan datang menolongku." kata Melati membenarkan namun rupanya Melati tidak mengerti yang dimaksud Rey membuat Rey menghela nafas sejenak.
"Stoppp..." secara tiba-tiba Melati menghentikan laju mobil yang dikendarai Rey.
Tentu saja Rey berhenti mendadak, membuatnya terkejut untung saja didepan tidak ada kendaraan atau yang lain kalau ada sudah pasti terjadi sesuatu yang buruk.
"Kau... bisa tidak."
__ADS_1
"Maaf aku tidak bermaksud aku hanya mau itu." Melati memotong ucapan Rey sambil menunjuk di depannya.
Rey melihat arah yang ditunjuk Melati dan ternyata di sana ada warung pecel ayam.
"Boleh aku makan dulu aku lapar sekali aku tidak diberi makan disana." ucap Melati sambil memelas membuat Rey tak tega melihatnya.
"Cepat keluar." meski datar Rey tetap menurutinya.
'Hah apa-apa ini hanya kau gadis yang mampu menghentikan aku saat mengemudi.' ucap Rey dalam hati merasa heran sendiri.
"Terimakasih." Melati langsung keluar tanpa menunggu Rey.
"Hey, tunggu. Dasar apa dia tidak tau kalau dirinya sangat berantakan." Rey hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Melati.
Melati langsung masuk ke warung tenda dan duduk membuat orang-orang disekitar heran melihatnya.
Yang membuat heran adalah penampilan Melati yang berantakan dan kotor.
"Aku pesan dua eh tiga pecel ayam pake ati sekarang." ucap Melati dengan mengacungkan jarinya.
Pedagang itu bingung harus dilayani atau tidak dia malah memandangi Melati terus. Mungkin yang dipikirannya Melati adalah gelandangan kelaparan yang tidak punya uang.
"Kenapa diam saja cepat aku lapar." kata Melati melihat pedagang itu malah diam saja.
"Hey, aku ini baru saja menghadapi sesuatu yang sulit dan sekarang aku lapar cepat layani aku."
"Aku bersama dia cepat layani." suara Rey mampu membuat pedagang itu bergerak melayani Melati karena penampilan Rey yang mampu merubah pikiran mereka dari yang mengira Melati adalah gelandangan menjadi istri dari seorang Rey.
"Baik tuan maaf, aku tidak tau kalau itu istri anda." kata pedagang itu tersenyum malu.
Melati ikut tersenyum karena dibilang istri Rey sedang Rey bingung.
"Hey, dia bukan..."
"Kau ini selalu begitu awas saja malam ini kau tidur diluar." Melati langsung memotong ucapan Rey supaya tidak keceplosan sambil terkikik geli.
Rey hanya bisa pasrah melihat dirinya diintimidasi oleh Melati.
Saat makanan sedang dibuat, Rey teringat sesuatu untuk ditanyakan pada Melati.
"Melati." panggil Rey pelan.
"Ya." jawab Melati menengok.
__ADS_1
"Dari mana kau dapat nomorku?" pertanyaan Rey membuat Melati menelan ludah susah payah pasalnya dia mendapat nomor itu dengan cara sembunyi-sembunyi.
"Em.. janji yah tidak marah jika aku jujur." kata Melati sambil meringis.
"Ya aku janji."
"Em.. aku... dapat nomormu dari ruang kerjamu tapi aku tidak sengaja saat itu aku sedang membersihkan ruang kerjamu lalu aku lihat di meja mu ada kartu namamu yang terjatuh ya aku ambil saja lalu aku bawa dan simpan dan sekarang juga masih ada, begitu." ungkap Melati sambil tersenyum.
Rey terdiam mungkin dirinya lupa dan asal menaruh kartu nama ya sudah tidak apa-apa hanya kartu nama tapi tunggu semudah itu dirinya membiarkan orang lain mengambil barang pribadinya ada apa ini apakah Melati bukan orang lain.
"Maaf yah tuan aku tidak bermaksud lancang tapi ada hikmahnya juga aku ambil nomormu jadinya kan aku bisa memberitahumu saat aku dan Hafsa diculik." jelas Melati lagi.
"Ya kau memang benar. Tidak apa-apa simpan saja nomorku."
"Benarkah." Melati sudah senang tapi kemudian dia kembali terdiam.
"Kenapa kau diam?" Rey heran melihat Melati yang diam.
"Ponselku kan tidak ada dibanting saat aku diculik jadi aku tidak punya ponsel." Melati sedih baru teringat kalau ponselnya tidak ada.
"Aku akan membelikan untukmu." ucap Rey membuat Melati tertegun.
"Hah yang benar tuan, mau membelikan ponsel untukku." Melati mengulang takut salah dengar.
Hah Rey bereaksi baru tersadar dirinya mengucapkan itu dan sudah terlanjur.
"Iya, sebagai bonus untukmu."
"Ah.. terimakasih tuan." Melati senang bukan main karena akan mendapat hadiah dari Rey.
Rey juga senang melihat Melati yang senang seperti itu dia jadi tersenyum tipis senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.
Lalu makanan pun sudah jadi.
"Silahkan tuan, nona ini makanannya." pedagang itu memberikan makanan itu pada Melati dan Rey.
"Wah.. enak sekali." ucap Melati sambil menghirup makanan yang baru tersaji.
"Makanlah." kata Rey.
"Tidak perlu disuruh aku akan makan." kata Melati lalu langsung menyantap pecel ayam yang menggugah selera itu.
Rey tersenyum tulus melihat Melati yang lahap sekali dalam memakannya dan akhir-akhir ini Rey selalu tersenyum kala melihat Melati dan dia sadar akan hal itu.
__ADS_1