Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 45


__ADS_3

"Baiklah, aku rasa sudah cukup mengobrolnya. Aku harus pergi untuk menyelesaikan urusanku." ucap Satria beranjak dari duduknya.


"Iya tuan, silahkan! saya tidak apa-apa kok!" Melati yang menjawab.


Satria hanya terkekeh mendengar jawaban dari Melati yang bermaksud mengusirnya dengan cara halus.


"Ya sudah aku pergi dulu." lalu tiba-tiba Satria mendekatkan wajahnya kearah Hafsa yang sontak membuat wajah Hafsa mundur.


"Jika kau membutuhkan teman seorang pria, aku siap menjadi temanmu." lanjutnya dengan senyum khasnya.


"Tidak, terimakasih." jawab Hafsa cepat tanpa menatap wajah Satria.


Melati hanya terkekeh melihat penolakan jelas dari Hafsa untuk Satria, tapi Satria mencoba tersenyum meski dalam hati sangat kesal.


"Baiklah aku pergi dulu." setelah itu Satria pun pergi dengan jalan yang dibuat cool.


"Eh! Sa si Satria itu suka sama kamu yah!" tanya Melati.


"Tidak tau." jawab Hafsa acuh.


"Tapi sebaiknya kau jauhi dia, aku rasa dia bukan pria yang baik." insting Melati.


"Tau darimana kau kalau dia bukan pria yang baik." tanya Hafsa karena kalau Melati asal jeplak saja bisa menimbulkan fitnah.


"Instingku berkata begitu Sa dan instingku itu selalu benar kita lihat saja bagaimana nantinya." papar Melati karena memang dia pernah membuktikannya pada temannya waktu didesa.

__ADS_1


"Aku juga merasa seperti itu sih! tapi entahlah kita tidak boleh su'udzon sama orang." kata Hafsa bijak.


"Ya sudah lebih baik, kita kembali bekerja ayo!." Hafsa beranjak terlebih dahulu tapi Melati menahannya.


"Ada apa?" Hafsa yang heran bertanya.


"Hafsa kau ini kan istri dari tuan Elang seharusnya kau tidak usah bekerja." benar juga kata Melati.


"Tapi aku tidak merasa istrinya tuan Elang aku masih sama seperti dulu hanya pengasuhnya." ungkap Hafsa


Melati beranjak dan menepuk bahu sahabatnya, "Tetap saja kau ini istri sahnya meski kau sudah menanda tangani kontrak itu."


"Lalu aku harus apa?".


"Ya urusin suamimu lah." ucap Melati yang kesal karena Hafsa tidak mengerti.


"Tidak usah dipikirkan, aku masih muda Melati dia juga sudah dewasa yang tidak selalu harus aku awasi. Lebih baik kau ajari aku membuat kue yuk."


"Oke ayu..!" tentu saja Melati senang karena itu adalah hobinya.


*****


Elang sekarang berada di ruangan kerjanya yang bersebelahan dengan kamarnya melalui pintu dibalik dinding kamarnya supaya dia tidak harus keluar untuk keruang kerjanya.


Meski Elang tidak pernah ke perusahaannya tapi dia selalu memantau perusahaannya itu dari sini seperti sekarang dia sedang memeriksa semua laporan yang dibawa oleh sekretarisnya Rey.

__ADS_1


Ngomongin Rey dia jadi teringat dengan pengawal, sekretaris sekaligus sahabatnya itu dia pun mengambil ponsel dan mendial nomornya.


tuut tuut bunyi suara ponsel berlangsung.


(Halo)


terdengar suara Rey diseberang sana.


"Rey datanglah keruanganku." ucap Elang to the point.


(Baiklah aku segera datang)


jawab Rey kemudian menutup telfonnya.


Tak selang berapa lama Rey sudah tiba tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk karena hanya Elang, Rey dan nyonya Sinta yang tau kata sandinya.


"Tuan, selamat pagi!" sapa Rey hormat dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Elang sedikit terkejut mendengar kedatangan Rey yang cepat sekali padahal dia baru beberapa menit menelfonnya tapi Rey sudah sampai secepat itu.


"Kau menginap disini Rey!" kata Elang telak tanpa bertanya sudah tau jawabannya.


Rey menjadi gugup tapi tetap tenang.


"Iya tuan, semalam aku sangat lelah jadi memutuskan untuk tidur disini." jawab Rey dengan mode datar seperti biasa.

__ADS_1


Elang hanya diam saja tak ingin bertanya lebih karena dia tidak begitu peduli pun dengan Rey dia juga tidak mau membahasnya.


__ADS_2