Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 86


__ADS_3

"Eghh... eh maaf tuan." Melati bersendawa setelah menghabiskan semua makanan.


Rey hanya geleng kepala sambil tersenyum melihatnya, Rey hanya menghabiskan separuh saja karena jujur makanan itu tidak masuk dilidahnya tapi karen dia sangat menghargai makanan jadi dia memakannya tapi tidak menghabiskannya.


"Tuan kau sudah selesai makannya?". tanya Melati melihat nasi dan lauk dipiring Rey masih ada.


"Iya sudah." jawab Rey singkat.


"Itu masih ada." kata Melati sambil menunjuk.


"Aku sudah kenyang." balas Rey tanpa melihat.


"Sayang sekali biar aku habiskan." kata Melati sambil mengambil piring itu.


"Hey..." Rey ingin mencegah Melati yang ingin menghabiskan sisa makanannya.


"Kenapa tuan? ini sayang jangan dibuang tuan juga makannya rapi jadi tidak jorok."


"Tapi bukannya kau sudah kenyang." Alibi Rey hanya alasan kenapa Melati mau makan sisa makanan nya.


"Hehehe tidak apa-apa! demi tuan aku rela makan lagi siapa tau setelah ini kita beneran jodoh." Melati malah terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


Rey kembali tersenyum ada saja kata dan tingkah Melati yang membuatnya tak habis pikir.


"Kau ingin sekali aku berjodoh denganmu." kata Rey tersenyum tipis.


"Memangnya kenapa tidak boleh? ada batasan kah untuk si kaya dan si miskin kalaupun ada, kalau sudah jodoh mau gimana lagi?" ucap Melati begitu yakin sambil benar memakan makanan separuh milik Rey.


Rey tertegun melihatnya, apa maksud Melati sampai dia benar-benar memakan sisa makanannya, dia belum pernah menjumpai gadis seperti ini dalam hidupnya.


Karena para gadis yang sering dia jumpai kebanyakan mereka enggan memakan sisa apalagi bekas orang lain.


"Apa kau benar ingin menikah denganku?".


pertanyaan dari Rey membuat Melati terkejut sampai-sampai dia berhenti mengunyah membuat pipinya mengembung menandakan makanan belum tertelan masih didalam mulutnya dan itu sangat menggemaskan bagi Rey karena ekspresinya yang seperti bayi.


"Aku becanda, kau tidak perlu terkejut begitu." ucap Rey kemudian sambil tersenyum.


"Tidak tuan, aku yang serius aku mau menikah denganmu. Sumpah." kata Melati setelah menelan sambil mengacungkan dua jarinya dua bola mata indahnya menatap serius Rey.


Kini Rey yang kembali tertegun jantungnya mendadak berdetak melihat tatapan mata berbinar dari Melati juga bibir yang tipis namun merekah membuat naluri kelelakian Rey bangkit.


"Jika kau mau menikah denganku lalu kenapa kau mau dijodohkan dengan orang lain?." ucap Rey sambil memalingkan wajahnya karena tidak tahan dengan bibir itu, rasanya dia ingin meraih Melati dan menciumnya namun itu tidak mungkin.

__ADS_1


"Dijodohkan, siapa? kapan?." Melati menggaruk kepalanya bingung, sejak kapan dirinya dijodohkan.


Rey menahan senyum tipis melihat ekpresi wajah Melati yang kebingungan, Rey sudah tau jika itu tidak benar.


"Kau, dengan pria kaya yang tampan dikampung halamanmu." Rey malah memancing Melati.


"Pria kaya dan tampan dikampung halamanku." ulang Melati sambil berfikir kemudian tersenyum.


"Em... kalau tampan dan kaya aku mau jika dia juga mau denganku, orang tuaku memang hebat jadi rindu dengan mereka." Melati tersenyum lebar menanggapi ucapan Rey dengan serius.


Rey jadi gelagapan mendengar jawaban Melati, "Hey kenapa kau mau?, kau melupakan aku." sampai Rey keceplosan dibuatnya membuat Melati melebarkan matanya.


Kemudian Melati tertawa, "Hahaha... tuan ada-ada saja tuan mau menipuku yah!".


"Ti..dak untuk apa?" baru ini seorang Rey bicara dengan gelagapan.


"Asal tuan tau jika aku mau dijodohkan, akulah orang yang pertama tau karena aku dan ibuku seperti sohib pasti akan ada cerita, sekarang saja aku sudah tidak sabar ingin cerita. Jadi tuan tidak bisa menipuku." ungkap Melati sambil tertawa merasa lucu dengan kata-kata Rey.


Rey menjadi malu sendiri karena terjebak dengan katanya sendiri, niat ingin mengerjai malah dirinya yang dikerjai.


"Tapi... kalau emang beneran aku dijodohin tidak apa-apa jadi..."


"Tidak boleh." Rey dengan reflek menghentikan ucapan Melati sambil menatap kedalaman dua bola mata indahnya.


"Ingat, kau tidak boleh dijodohkan dengan siapapun kecuali... denganku aku pastikan orang tuamu tidak akan melakukan itu." ucap Rey datar penuh keseriusan.


Melati hanya mengangguk.


Kemudian Rey memalingkan wajahnya tidak percaya bahwa dirinya akan berkata seperti itu.


"Sudahlah ayo kita pulang ini sudah malam kita sudah terlalu lama disini." ucap Rey akhirnya mengakhiri semuanya.


"Baiklah ayo." dengan semangat Melati mengiyakan.


Rey tersenyum kemudian membayar makanan nya. Kemudian mereka pun pergi menaiki mobil dan mobilpun melaju membelah jalanan yang mulai sepi karena keadaan sudah malam.


*****


"Terimakasih tuan sudah mengantarku kembali kesini." ucap Melati saat mereka sampai dirumah besar Elang.


Rey hanya mengangguk.


"Tapi tuan pulang atau menginap disini." tanya Melati sebelum Rey melangkah.

__ADS_1


"Menurutmu aku harus menginap atau pulang." Rey malah bertanya balik.


"Em.. menurutku tuan menginap saja disini, ini sudah malam juga." saran Melati ada benarnya juga.


"Baiklah seperti katamu aku akan menginap disini." tukas Rey tersenyum tipis.


"Sekarang masuklah, ganti pakaianmu dan istirahatlah." kata Rey memerintah dengan tulus.


"Oke, siap suamiku upps maaf." setelah berkata seperti itu Melati berlari kecil karena tak ingin dihajar oleh Rey.


"Kau..." Rey hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum, kemudian Rey melangkah menuju kamarnya.


*****


Didalam kamar Rey membuka jas serta dasi yang masih melekat ditubuhnya dia juga membuka kemejanya terlihatlah tubuh sispek milik Rey.


Rey hendak mandi lalu tiba-tiba ponselnya berdering, Rey jadi menunda ke kamar mandi dia beralih melihat siapa malam begini yang mengganggunya.


"Hah sial." ucap Rey setelah melihat siapa yang menelfon.


"Rey, ibu kau sedang dekat dengan seorang gadis. Kenapa tidak kau kenalkan pada ibu siapa namanya berapa usianya apa statusnya dan..."


"Cukup Bu berhenti." ternyata ibu Rey yang menelfon dan Rey yang pusing dengan banyak pertanyaan ibunya langsung memotong sebelum selesai membuat ibunya yang diseberang sana cemberut.


"Ibu menelfonku malam-malam begini hanya untuk menanyakan itu." Rey tak habis pikir, ibunya ini sangat aneh sudah lama tidak berkomunikasi bukannya tanya kabar anaknya malah bertanya yang lain.


"Memangnya ibu mau tanya apa? ibu sudah tau apa yang terjadi dengan sahabatmu dan ibu tidak ingin mencampurinya tapi... untuk urusan anak ibu, ibu harus mencampurinya." jawab ibu Rey yang bernama Mala dengan riangnya.


Sahabat yang dimaksud adalah Elang dan Mala tidak mencampuri bukan berarti tidak peduli dan Rey sangat tau sifat ibunya.


"Memangnya aku kenapa? ibu harus ikut campur." Rey mengernyit dibalik telfon mendengar ibunya berkata seperti itu.


Mala memutar bola mata malas jika Rey disampingnya sudah pasti terkena pukulan maut dari ibunya karena kesal.


"Sebenarnya ibu malas berbicara denganmu, lihat saja calon menantuku akan ibu jemput tidak lama lagi."


tuut.


Telfon mati sepihak, Mala yang mematikan dan Rey yang menjadi panik.


"Halo Bu apa maksud ibu calon menantu. Hah sial." Rey merasa frustasi tapi kemudian dia tertawa.


"Melati, kau berhasil masuk dalam keluargaku." ucap Rey tersenyum tipis

__ADS_1


__ADS_2