
"Hafsa." panggil mamah Sinta pada menantunya yang sedang berjalan hendak kembali ke kamarnya.
"Mamah, iya mah ada apa?" sambil menoleh Hafsa menjawab.
"Kamu ikut mamah kekamar yuk!" ajak mamah Sinta.
"Mau apa mah?"
"Sudah jangan banyak tanya ikut saja." tanpa menunggu jawaban menantunya mamah Sinta menggaet tangan Hafsa menuju kamarnya.
Tak berapa lama mamah Sinta membuka pintu yang berukiran emas murni dan terbentanglah ruangan cantik, megah dan elegant khas Nyonya Sinta.
Dan baru kali ini Hafsa memasuki kamar mamah mertuanya karena tidak ada satu orangpun yang boleh memasuki kamar sang nyonya selain asisten pribadinya dan pelayan pribadi bahkan anaknya pun tidak pernah memasuki kamar ibunya dari semenjak dia menginjak remaja.
"Wah... kamar mamah bagus sekali, aku kira hanya kamar Elang yang bagus tapi ini lebih bagus." Hafsa tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada kamar mertuanya. Matanya terus saja berbinar menampakkan keindahannya.
"Ayo nak, ikut mamah!". mamah Sinta hanya tersenyum melihat tingkah menantunya dan mengajaknya ke ruang pakaian.
Kini lagi-lagi Hafsa dibuat ternganga dengan isi didalam ruangan itu beberapa pakaian, tas, sepatu aksesoris dan banyak yang lain nya berjejer rapi seperti toko pakaian dan semua barangnya barang yang bermerk dan ternama sudah dipastikan harganya mahal.
"Wahh.. mamah punya toko pakaian juga didalam kamar." celetuk Hafsa polos.
Mamah Sinta tertawa mendengarnya, "Toko pakaian, memangnya ini terlihat seperti toko pakaian." kata mamah Sinta mencoba menilai.
"Ya.. ini memang toko pakaian kan, karena semuanya ada dan bagus-bagus lagi."Kata Hafsa masih belum sadar.
"Sayang, ini bukan toko pakaian ini semua milik mamah." kata mamah Sinta sambil tertawa kecil.
"Hah.. jadi maksudnya ini ruangan pakaian mamah." Hafsa membeo saat sudah mencerna.
"Iya memang begitu." jawab mamah Sinta lalu pergi kearah tempat yang di tujunya.
Mamah Sinta membuka lemari dan mengambil bungkusan kotak yang masih rapi.
__ADS_1
"Sayang, coba buka ini." perintah mamah Sinta sambil menyerahkan bungkusan kotak itu.
"Iya mah!". Hafsa menurut dia mengambil lalu membukanya dengan mudah karena bungkusan itu tidak diikat hanya ditutup saja.
"Wah... ini baju mah!" sambungnya.
"Coba kau lihat, sini kotaknya." mamah Sinta mengambil bungkusan itu supaya Hafsa bisa mengambil isinya.
Hafsa pun mengambil baju itu yang ternyata gaun yang sangat indah, mewah serta sangat sesuai dengan usianya.
"Mah ini gaun." kata Hafsa dengan mata berbinar.
"Iya itu untukmu, untuk kau pakai malam ini, mamah juga yang akan meriasmu ya.. meski suamimu tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan kok!". ucap mamah Sinta tersenyum tulus.
"Karena hari ini adalah kepulangan mamah jadi mamah ingin yang istimewa jadi sekarang kau harus memakai baju ini. Cepat." sambungnya dan menyuruh menantunya untuk mengganti pakaiannya.
Hafsa hanya mengangguk, dia menuju ruangan kecil untuk menggantinya sedikit sulit namun dia bisa melakukannya.
Beberapa menit kemudian.
Mamah Sinta menatap dari bawah sampai atas, sungguh dia tidak salah memilih karena sangat sesuai dengan tubuh Hafsa yang mungil hanya tinggal dipoles maka semuanya akan terlihat sempurna.
"Waw! nak belum di rias saja kau sudah cantik begini bagaimana jika sudah di rias." mamah Sinta memuji menantunya.
"Mamah bisa saja." Hafsa jadi tersipu malu.
"Ya sudah ayu, mamah jadi tidak sabar ingin meriasmu." lanjutnya mengajak menantunya pergi keruangan lain.
Di tempat lain yaitu diruang kerja Elang, Elang terlihat sendiri namun pikirannya resah dan yang terlintas di benaknya adalah istrinya itu yang dulu sebagai pengasuhnya.
Karena semenjak tadi dia tidak melihat istri kecilnya itu dia jadi tidak sabar ingin menggodanya lagi.
"Sial.. kenapa aku jadi terus memikirkannya?" Elang mengepalkan tangan serasa ada gejolak yang minta dilepaskan.
__ADS_1
"Benar benar pengasuh itu, bahkan dia belum kembali hingga saat ini." tambahnya menggerutu.
Lalu terdengarlah suara pintu diketuk, membuat Elang menjadi sumringah mengira itu adalah istri kecilnya.
"Masuk." perintahnya senang namun ekpresi wajah dibuat sedatar mungkin.
Masuklah seseorang kedalam ruangan itu dengan derap langkah yang tegap dan aroma maskulin yang sangat Elang kenal seketika membuat Elang kesal.
"Tuan, aku kesini akan membantu tuan untuk berganti pakaian." ucapnya berdiri tegap didepan tuan muda.
"Kenapa harus kau?". tanya Elang yang ternyata orang itu sekretarisnya Rey.
"Karena istri tuan sedang di make over oleh nyonya tuan dan tuan boleh melihatnya ketika sudah berada di meja makan." jawab Rey memberitahu.
"Hah di make over." Elang tersenyum miring.
"Iya tuan."
"Baiklah gantikan pakaianku sekarang." mendengar itu Elang jadi kembali bersemangat dia pun ingin segera pergi dari tempatnya.
"Baik tuan, mari." Rey pun mengajak tuannya untuk di make over juga.
*****
Semua makanan sudah ditata sedemikian rupa sangat cantik dan elegant seperti yang dimau nyonya besar mereka, kini satu persatu semuanya semuanya telah siap dekorasi tempat duduk dan dinding yang didekor sangat indah memberikan kesan sejuk dan nyaman bagi yang melihatnya.
Lalu turunlah nyonya Sinta dengan anggun dan sudah berganti gaun yang sangat indah pula sangat menyesuaikan dengan usianya yang terlihat awet muda.
"Semuanya sudah siap nyonya." datanglah bi Rum, entah dari mana sudah ada dihadapan nyonya Sinta.
"Baik, terimakasih! kerja bagus. Oh ya panggilkan gadis bernama Melati beri pakaian untuknya dan bawa dia ke kamarku untuk menjemput menantuku kesini." perintah nyonya Sinta pada bi Rum.
"Baik nyonya, saya laksanakan." jawab Bi rum bergegas menjalankan tugasnya.
__ADS_1
Nyonya Sinta berjalan perlahan sambil menyusuri setiap sudut ditempat itu untuk menilai kinerja mereka, sedang asyik tiba-tiba datanglah dua orang yang sengaja diundangnya.