Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 98


__ADS_3

Akhirnya hari ini mereka kembali ke negara asal di Indonesia, saat turun dari bandara mereka langsung di jemput oleh para pengawal Elang mereka dijemput dua mobil untuk tuan nya dan sekretaris Rey.


"Mari nona, silahkan masuk!" pengawal itu meminta dengan sopan.


Hafsa mengangguk merasa tersanjung diperlakukan seperti itu padahal dulunya dia adalah seorang pelayan seperti mereka.


Memang takdir seseorang itu tidak ada yang tau yang hanya harus kita lakukan adalah tetap bersyukur dan berbuat baik.


Hafsa pun masuk mobil diikuti Elang di sampingnya begitu juga dengan Rey dan Melati.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman rumah besar nyonya Sinta.


*****


Karena hari ini kepulangan liburan anak dan menantunya Sinta sang ibu sudah mempersiapkan penyambutan untuk mereka, Sinta juga sudah mempersiapkan makan siang istimewa untuk mereka dan Sinta berharap dari liburan ini dia mendapat kabar baik dari anaknya.


Pintu gerbang terbuka lebar dan masuklah dua mobil mewah ke pekarangan luas di kediaman rumah nyonya Sinta yang nanti di wariskan kepada Elang.


Sinta bersama kepala pelayan juga pelayan lain yang berbaris di belakang sudah siap menyambut tuan muda dan nona muda.


Mobil berhenti, pintu mobil terbuka keluarlah Elang bersama Hafsa juga Rey dan Melati, Sinta tersenyum bahagia melihatnya.


"Ibu...!" panggil Hafsa.


Sinta berjalan mendekat dan meraihnya serta memeluknya penuh kasih sayang.


"Sayang bagaimana liburanmu?" tanya Sinta lembut.


Hafsa melepas pelukan dan menatap Sinta penuh kegembiraan, "Aku senang ibu, sangat senang."


"Sesenang itu kah."


"Iya, karena ini pertama kalinya aku berlibur ke luar negri dan aku bisa melihat salju." ungkap Hafsa antusias.


"Wah.. senangnya! sayangnya ibu tidak ikut."


"Kalian berdua, apakah kalian mau membiarkan kami berdiri saja disini sambil menunggu kalian bercerita." ucap Elang yang menyindir ibu dan istrinya.


"Kau ini mengganggu saja, Elang. Ya sudah nak kita masuk yuk! ibu sudah menyiapkan makan siang untuk kita semua." kata Sinta akhirnya mengalah.


"Iya ibu, kebetulan aku lapar sekali."


"Oh ya ampun ayo masuk. Melati kau juga ikut makan bersama kami." kata Sinta saat melihat Melati.


"Eh.. iya nyonya." masih dengan sungkan Melati mengiyakan.

__ADS_1


Kini mereka semua berjalan menuju meja makan, semua barang-barang mereka berikut oleh-oleh sudah di bawa masuk oleh pengawal.


"Wah... banyak sekali makanan nya Bu." ucap Hafsa sangat tergiur dengan makanan di depannya.


"Ibu sengaja memasak banyak untuk kalian semua." jawab Sinta.


"Ayo duduk.!"


Semua pun duduk dan Hafsa sudah tidak sabar ingin memakannya.


"Sebelum kita mulai makan, ibu senang sekali kalian sudah kembali dan ibu juga sangat berharap ibu mendapat kabar baik darimu Elang." ucap Sinta menatap Elang.


"Bu, ibu tidak usah khawatir aku dan Hafsa sedang berusaha dan aku yakin sebentar lagi mungkin ada kabar baik darinya. Ya kan istriku." kata Elang menatap ibunya kemudian menatap istrinya.


"Ah.. iya." Hafsa yang di tatap malah fokus dengan makanan yang di saji.


Sinta tersenyum melihatnya. "Baiklah kita berdoa dulu."


Kemudian semua pun berdoa dan Hafsa adalah orang pertama yang menyendok kan nasi di piringnya lalu mengambil daging dan ayam crispy serta tak lupa sayurannya.


"Mari makan." Hafsa pun makan dengan lahap.


Yang lain hanya geleng kepala melihat makan Hafsa yang terbilang tidak biasanya.


Tak mau berfikir lebih mereka pun makan dengan lahap pula.


"Sayang, makan mu banyak juga hari ini." ujar Elang melihat Hafsa yang sudah menghabiskan nasi dan lauknya.


Perhatian semua orang jadi tertuju padanya ingin tau juga jawabannya.


"Eh... aku lapar saja dan sayang juga kalau makanannya tidak habis, kenapa tidak boleh yah!" jawab Hafsa tiba-tiba merasa sedih.


Elang merasa bersalah segera mengusap pundaknya. "Tidak, boleh kok.".


"Kau takut aku gendut yah! lalu jadi jelek dan tidak menyukaiku tapi memang kau tidak menyukaiku."


Setelah berbicara seperti itu Hafsa langsung beranjak pergi meninggalkan mereka dengan air mata yang tiba-tiba menetes.


Elang terkejut begitu juga Rey dan Melati namun Sinta malah tersenyum.


"Hafsa, apa aku salah bicara? kenapa dia malah menangis dan pergi." kata Elang bingung.


"Susul lah nak dan bujuk dia beri dia perhatian." kata Sinta menasehati Elang.


"Baik Bu.!" jawab Elang tanpa tau maksud dari ibu nya.

__ADS_1


Elang pun pergi menyusul Hafsa. Lalu Sinta menatap Rey dan Melati yang saling diam.


"Melati, bagaimana dengan liburanmu?" kini giliran Melati yang di tanya.


"Ah.. aku juga senang nyonya dan aku sangat berterimakasih sekali karena aku diajak juga." jawab Melati sungkan.


"Kau tidak perlu sungkan begitu Melati, karena cepat atau lambat kau juga akan jadi bagian dari keluarga kami." papar Sinta membuat Melati bingung.


"Maksudnya nyonya." tanya Melati dengan wajah bingungnya yang membuat Rey gemas namun tetap tenang.


"Nanti juga kau akan tau." hanya itu jawaban Sinta yang membuat Melati masih bingung.


*****


Elang memasuki kamarnya yang sangat maskulin lalu melihat istrinya yang terbaring di ranjangnya menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepalanya.


Elang tersenyum istri kecilnya sedang merajuk padanya sungguh menggemaskan, dia melepas jas nya dan menaruhnya di sofa lalu membuka kancing kemeja bagian atasnya hingga tengah sehingga memperlihatkan dada bidangnya yang seksi.


Kemudian mendekati istrinya, sepatu pun dilepas sebelum naik ke atas ranjang.


Elang masuk kedalam selimut lalu memeluk istrinya kemudian menyibakkan rambut yang ada dileher Hafsa, Elang menempelkan hidungnya dileher istrinya lalu mengendus-endus nya seperti anak kucing.


"Sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu!".


Hafsa hanya menahan geli tidak menjawab perkataan suaminya.


"Aku tidak akan membuatmu gendut walau kau banyak makan dan aku tidak akan membuatmu jelek walau kau tidak bersolek. Aku akan selalu membuatmu bahagia." ucapnya lagi membuat Hafsa tersenyum geli di baliknya.


"Sayang lihat aku!" Elang membalikkan punggung Hafsa sehingga wajah Hafsa terlihat olehnya.


Mereka malah jadi saling tatap mencoba memahami isi hati masing-masing sampai membuat jantung Hafsa berdetak.


"Setelah aku tatap, ternyata istriku cantik juga." ucap Elang tersenyum.


"Kau baru menyadarinya kah." ujar Hafsa sedih.


"Em.. mungkin karena aku tidak memperhatikanmu dulu."


"Ya, dulu kau memang tidak peduli padaku kau kejam kau dingin kau galak kau..."


"Stop." Elang menghentikan ucapan Hafsa dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Hafsa membuat Hafsa langsung terdiam.


"Sekarang kau adalah istriku, aku akan membuatmu bahagia dan kita mengukir masa depan bersama-sama. Kau mau?".


Hafsa hanya bisa mengangguk tak kuat dengan pesona Elang yang begitu rupawan.

__ADS_1


Melihat istrinya yang mengangguk, Elang tersenyum kemudian meraih Hafsa dalam pelukannya.


__ADS_2