
Nyonya Sinta mengajak Sesil dan Rahma kerumah belakang dan mendapati ada bi Rum disana.
Melihat kedatangan nyonya besarnya bi Rum terkejut dan langsung menundukkan kepala hormat.
"Nyonya. Maafkan saya, saya tidak menyambut nyonya maafkan saya nyonya." bi Rum menunduk merasa bersalah karena kedatangan nyonya nya saja dia tidak tau.
"Tidak apa-apa bi Rum, jangan salahkan dirimu aku memang sengaja tidak memberitahukan kalian semua." kata nyonya Sinta tersenyum.
"Oh iya bi Rum kenalkan ini Rahma ibu tiri Hafsa dan ini Sesil adik tirinya Hafsa." lanjut nyonya memperkenalkan ibu dan anak itu.
"Dan kalian," sambil beralih ke dua wanita beda usia itu. "Ini bi Rum kepala pelayan dirumah ini semua tugas kalian dia yang akan memberitahukannya. Kalau ada apa-apa tanyakan pada bi Rum, kalian mengerti?". sambung nyonya dengan senyum simpul.
"Iya Nyonya kami mengerti, sudah seperti ini saja kami sangat berterima kasih." kata Rahma.
"Bi Rum tolong bawa mereka ke kamarnya dan berikan tugas untuk mereka."
"Baik nyonya."
"Kalau begitu saya permisi."
"Iya nyonya sekali lagi terimakasih."
Setelah itu nyonya Sinta melenggang pergi dan bi Rum mengantarkan mereka ke kamarnya.
"Mari saya tunjukkan kamar kalian."
"Iya."
Rahma dan Sesil mengikuti bi Rum ke rumah belakang yang jaraknya lumayan jauh dan disepanjang jalan mereka tidak berhenti menatap kagum pada setiap bangunan interior dan aksesoris rumah itu yang begitu mewah dan sudah pasti mahal.
"Ini kamar kalian, karena kamarnya tinggal satu jadi kalian tidur berdua." ucap Bi rum dengan wajah datar karena bi Rum merasa tidak suka dengan kehadiran mereka berdua.
"Terimakasih." ucap Rahma.
"Eh... kalau boleh tau kamarnya kakakku dimana yah!" tanya Sesil penasaran diangguki oleh Rahma.
"Maksud kalian nona Hafsa."
"Iya nona Hafsa."
"Sudah pasti nona berada dikamar tuan muda bukan disini. Ada apa kalian menanyakannya?" kata bi Rum dingin.
"Tidak apa-apa hanya bertanya saja." Sesil ciut juga saat jawaban tak terduga dari Bi Rum.
"Hari ini kalian istirahatlah, aku akan kembali dan memberikan tugas untuk kalian." setelah berkata seperti itu bi Rum langsung pergi tanpa mendengar jawabannya.
Rahma dan Sesil menatap sinis pada Bi Rum yang berlalu.
"Dingin sekali kepala pelayan itu mentang-mentang kepala huh...!" Sesil bersungut-sungut pada bi Rum.
"Sudah biarkan saja itu tidak penting yang penting kita sudah memasuki rumah ini." kata Rahma.
__ADS_1
"Kenapa kamar ini kecil sekali? malah kita harus tidur berdua disini." kesal Sesil karena ternyata kamar itu memang kecil dari kamar yang ditempati Melati.
Entah sengaja atau memang sudah habis hanya bi Rum yang tau.
"Sudahlah Sesil jangan mengeluh terus, ingat tujuan kita di sini dan jangan sampai ada yang tau maka semua akan berantakan." Rahma mengingatkan Sesil kenapa mereka bisa sampai disini.
"Iya iya. Tapi mah aku penasaran dengan tuan muda dirumah ini aku yakin dia pasti sangat tampan." kata Sesil masih saja penasaran.
Rahma memutar bola mata malas mendengar anaknya yang begitu penasaran dengan tuan muda Elang itu.
"Sudah, ayo bantu mamah bereskan ini." Rahma menyentak Sesil yang masih berhalu.
"Iya, mamah mengganggu saja." gerutu Sesil sambil melangkah membantu Rahma.
*****
Elang masih berada diruang kerjanya sedangkan Rey sudah pergi ke perusahaan sejak tadi untuk memantau kinerja para karyawannya sekaligus menjadi pengganti untuk tuan mudanya.
"Sepertinya tuan muda masih berada didalam." ucap Hafsa, karena tadi dia sudah ke kamar dan mendapati suaminya tidak ada.
tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk
"Tuan, apa kau didalam?"
Mendengar suara Hafsa Elang langsung menyahut, "Masuk."
Karena sudah mendapat jawaban Hafsa membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
Meski ekpresi Elang sangat datar dan dingin namun itu tidak mengurangi ketampanannya,
Bahkan Hafsa sampai terpesona dengan keindahan ciptaan Sang Maha Kuasa.
"Jangan memandangiku terlalu lama, kau bisa jatuh cinta." celetuk Elang membuat Hafsa terkejut.
'Hah aku lupa bahwa dia punya mata batin, kenapa juga aku terus memandanginya?' ucap Hafsa dalam hati sambil menepuk samping kepalanya.
"Ada apa? apa kau rindu padaku?"
Hahh
Hafsa melongo bisa-bisa nya Elang berkata yang membuatnya salah tingkah.
"Ti.. dak." jawab Hafsa gugup.
Elang langsung menutup laptopnya mendengar jawaban Hafsa, sungguh baru kali ini ada seorang gadis yang tidak merespon rayuannya meski itu hanya becanda bahkan wanita itu sendiri yang memulai menggoda duluan.
"Mendekatlah." perintah Elang tegas.
Hafsa bukannya segera mendekat dia malah jadi tambah gugup mengingat insiden ditaman itu.
__ADS_1
"Kau tuli."
"Eh.. tidak."
"Maka cepatlah."
Dengan perlahan Hafsa mendekat tiba-tiba Elang langsung menariknya sehingga Hafsa jadi duduk di pangkuannya dengan posisi miring dan Elang langsung memeluk nya erat.
"Kau tidak rindu padaku, setelah apa yang terjadi dengan kita." bisik Elang tepat ditelinga Hafsa.
Hafsa menjauh karena merasa geli tapi Elang langsung menarik wajahnya hingga kini wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Elang.
Saat dekat seperti itu jantung Hafsa menjadi bergetar hebat dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Elang mengangkat tangan kekarnya bersiap untuk menyusuri wajah Hafsa membuat jantung Hafsa semakin berdetak tak karuan, Hafsa pun menutup matanya bersiap jika ciuman itu akan terulang lagi.
Tapi apa yang terjadi? ternyata Elang hanya menyeka keringat yang diberada didahi dan pelipis Hafsa membuat Hafsa jadi bernafas lega.
"Apa kau pikir aku akan menciummu lagi?" kata Elang membuat Hafsa malu.
"Ti dak."
'Kau membuat jantungan saja tuan.' batin Hafsa meronta ingin lepas dari dekapannya.
Elang tersenyum miring saat mendengar jantung Hafsa yang berdetak kencang. Elang jadi ingin menggodanya lagi.
Elang memajukan wajahnya begitu dekat dan hampir menyentuh bibir mungil Hafsa dan kali ini Hafsa benar-benar gemetaran sampai dia mencengkeram jas Elang.
Tiba-tiba...
"Nak... upss...!" suara Nyonya Sinta berhasil mengagetkan dua insan itu.
Hafsa langsung berdiri tegak karena malu telah terciduk oleh mertuanya sedang Elang hanya mendengus dan sedikit terkejut.
"Mamah, sejak kapan Mamah datang " tanya Elang.
"Apakah istrimu belum memberitahukanmu?" kata nyonya Sinta tersenyum.
"Atau belum sempat." lanjut nya semakin tersenyum penuh arti.
"Mah, aku tadi kesini ingin memberitahu tapi..." belum sempat selesai nyonya Sinta sudah memotong.
"Tidak apa-apa mamah mengerti. Jadi bagaimana? apa sudah ada kabar baik?". kata nyonya Sinta.
"Kabar baik apa mah?" tanya Hafsa tidak mengerti.
"Ah ya ampun menantuku ternyata polos sekali, Elang apa kau sudah berusaha?."
Elang menjadi kikuk mendengar pertanyaan dari ibunya, dia bingung mau jawab apa karena bagaimana mau mendapat kabar berciuman saja baru kemarin itu pun karena tidak sengaja.
Melihat gelagat anaknya nyonya Sinta dapat menyimpulkan, "Jangan bilang kau belum menyentuhnya Elang." kata Ibunya tak percaya .
__ADS_1
Mendengar kata sentuh sepertinya Hafsa sedikit mengerti mungkin yang dimaksud mertuanya adalah kabar baik tentang kehamilan.
Hafsa hanya menghela nafas jika begitu bagaimana mau jadi memang menyentuh saja tidak.