Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 11


__ADS_3

"Sudah cukup istirahatnya, kau Hafsa dipanggil oleh tuan muda." kata Bi Rum pada Hafsa.


"Baik bi, Melati sudah dulu yah!" pamit Hafsa pada Melati, Melati hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Dan kau kembali kepekerjaanmu." lanjut Bu Rum pada melati.


Melati langsung sigap dan tersenyum, "Baik kepala pelayan."


Melati berjalan menyusuri lantai demi lantai karena dia tak melihat hingga dia tidak sadar bahwa didepannya ada asisten Rey yang berjalan dengan datar alhasil Melati jadi menabrak dada bidang Rey.


"Aduh... sakit sekali! apa aku menabrak tembok?" ocehnya tak melihat Rey yang menatap datar.


Melati kemudian melihat ada kaki dibawahnya yang dibalut sepatu pantofel mewah, dia melirik dari bawah hingga keatas dan berhenti tepat diwajah Rey yang menatap lurus.


Melati tertegun melihat paras dari Rey dia melotot dan membuka mulutnya saking terpesonanya.


'Wah tampan sekali, aku seperti melihat pangeran dari kerajaan'


ucap Melati dalam hati tangannya menangkup kedua pipinya sendiri dan bibirnya tersenyum merekah.


"Apa kau tidak ada pekerjaan selain memandangiku." ucap Rey datar seketika membuyarkan lamunan Melati.


"Ahh... tuan Rey kenapa kau tampan sekali ternyata? jika dilihat dari dekat." ucap Melati tanpa sadar.


"Kau..!" menunjuk kening Melati.


"Bekerjalah dengan baik, atau kau akan kembali ke kampung halamanmu". tegasnya pada Melati yang langsung pias wajahnya.


"Ah baik, aku akan bekerja dengan baik. Selamat siang." Melati langsung menundukkan kepala hormat kemudian bergegas pergi dengan hati riang dan bibir yang selalu tersenyum.


****


Dilantai atas tepatnya diruang kerja tuan Muda Elang, Hafsa sedang mengerjakan perintah tuan muda yaitu merapikan rak buku yang lumayan banyak.

__ADS_1


Dia terus diawasi oleh tuan muda melalui gerak dan suaranya.


"Ingat 1 jam harus sudah selesai, kau harus membersihkannya dan jangan sampai ada debu sedikitpun." ucap Elang dingin.


Elang sedang memegang ponselnya membuat Hafsa heran karena apa yang bisa dia lihat dari ponsel itu bukankah Elang tidak bisa melihat bagaimana dia menggunakan ponsel.


Tapi dia tidak ingin bertanya dia terus membersihkan rak demi rak dan menyusun buku sesuai abjad dengan cepat hingga debu pun tidak terlihat.


Satu jam kemudian


"Tuan, pekerjaanku sudah seledai! apa aku boleh istirahat sebentar aku lelah sekali." kata Hafsa dengan beraninya.


Elang berhenti melihat ponselnya kemudian menatap tajam Hafsa membuat Hafsa menciut.


"Apa kau pikir digaji untuk beristirahat? apa aku membayarmu hanya untuk berleha-leha.?"


"Tidak tuan, maafkan saya!" dengan cepat gadis itu meminta maaf karena tidak ingin kehilangan pekerjaan itu.


"Karena kau telah seenaknya maka kau harus mendapat hukumanmu, kembalikan susunan buku seperti semula." titahnya tak terbantah.


"Kenapa kau tidak mau? apa kau mau aku tambahkan hukumanmu?" kata Elang tersenyum smirk.


"Ah tidak tidak baik, akan kukerjakan sekarang juga." dengan gesit Hafsa memulai kembali pekerjaannya yang seperti dikerjai.


"Aku pikir dia baik dengan tidak memecatku langsung waktu itu, tapi ternyata dia ingin menyiksaku".


gerutu Hafsa pelan tapi karena pendengaran Elang yang tajam dia dapat mendengarnya.


"Apa kau mengumpat ku?"


"Ah tidak tuan aku sedang bernyanyi iya bernyanyi." jawab Hafsa gugup.


"Cihh.. kalau kau berani mengumpat ku lagi lihat saja kau akan segera kutendang dari mansion ini." dengar kejam dan kasar Elang berucap membuat Hafsa ciut.

__ADS_1


"Iya tuan justru aku sedang memuji tuan, karena pendengaran tuan sangat tajam sekali." ujar Hafsa tersenyum paksa.


"Hei perlu kau ingat, bukan hanya pendengaran ku saja yang tajam tetapi instingku juga sangat tajam dan aku sangat jenius." ucap Elang membanggakan dirinya sendiri tapi itu memang benar.


****


"Hah capek sekali!" ucap Hafsa merebahkan tubuhnya di ranjang Melati.


"Capek habis ngapain!" tanya Melati yang sedang mengoles body lotion pada kulitnya karena dia habis mandi.


"Itu aku dikerjai oleh tuan muda. Aku disuruh bersihkan rak bukunya yang berjejer-jejer itu dan menyusunnya sesuai abjad setelah itu aku hanya minta istirahat sebentar eh dia malah menyuruhku untuk kembali menyusun rak buku seperti semula lagi yang benar saja. Sekarang aku lelah." gerutu Hafsa panjang lebar menceritakan keluhannya pada Melati.


Melati tidak menjawab dia malah asik sendiri membayangkan wajah Rey yang tampan.


Hafsa mendongak untuk melihat apa yang dilakukan Melati sehingga tidak kunjung menjawab keluhannya dan ternyata Melati sedang senyum-senyum sendiri tapi tangannya masih mengoles lotion itu.


"Hey, kau tidak mendengarku yah!" Hafsa menyenggol lengan Melati sehingga Melati tersadar.


"Hafsa, kau ini mengganggu saja!" kata Melati mengerucutkan bibirnya.


"Habisnya aku dari tadi bicara denganmu tapi kau malah asyik sendiri." gerutu Hafsa tambah kesal.


Melati terkekeh, "Maafkan aku, kau tau ternyata tuan Rey itu tampan sekali yah! sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya." ungkap Melati masih tersenyum sendiri.


Hafsa mengerutkan alisnya, "Memangnya, kau baru melihat wajahnya? sehingga kau bicara seperti itu." ucap Hafsa heran.


"Emm... dia memang tampan sih dari awal juga cuma kau tau..." Melati berbicara dengan menggebu seperti baru melihat lelaki tampan saja.


"Tadi aku tak sengaja bertabrakan dengannya dan aku melihat Rey dari jarak dekat. Dia tampan sekali." kata Melati dengan tersenyum.


"Lalu dia marah padamu tidak?" tanya Hafsa dengan tersenyum mengejek.


"Ah dia tidak marah tapi tidak diam juga, pokoknya aku jatuh cinta padanya." ucap Melati dengan terus tersenyum.

__ADS_1


Hafsa mendelik sepertinya percuma berbicara dengan Melati diapun memutuskan pergi dari kamar Melati menuju kamarnya sendiri.


__ADS_2