Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 58


__ADS_3

"Tuan muda." ucap Rey pelan melihat tuan mudanya berjalan memakai tangga tidak memakai kursi roda dan menggunakan lift.


Sinta berbalik dan berdiri menatap sendu dan bahagia pada pasangan suami istri itu.


"Ibu, lihat...!"


Saat sudah mencapai ujung tangga Hafsa dan Elang berhenti mereka berdua tersenyum seakan ingin memberikan kejutan pada orang yang disayanginya.


"Ibu, aku punya kejutan untukmu." ucap Elang tersenyum senang.


Sinta dan Rey mendekat bahkan para pelayan termasuk Melati, Sesil dan Rahma disana ikut berhenti melakukan aktifitasnya demi melihat kejutan apa yang ingin diberikan Elang tapi hal yang pertama yang mereka kagetkan adalah Elang yang bisa berjalan tanpa kursi roda lagi.


"Apa nak?" tanya sang ibu.


Elang tersenyum, kemudian dengan sengaja memberikan tongkat itu pada Hafsa lalu dia berjalan perlahan menuju ibunya yang dia rasa tidak terlalu jauh.


Sinta menangis terharu melihatnya saat Elang sudah dekat dia langsung memeluk anak tunggalnya dan menangis di pelukannya.


Hafsa, Rey dan pelayan lain ikut menitikkan air mata melihat pemandangan ini kecuali Rahma dan Sesil yang biasa saja.


"Nak, kau bisa berjalan Elang." Sinta menangkup pipi Elang menatap bahagia pada anaknya.


"Iya Bu, aku bisa berjalan." Elang juga ikut senang bahkan hampir menitikkan air mata.


Sinta memeluk Elang kembali sambil terus menangis.


"Terimakasih tuhan, kau telah menyembuhkan anakku."


"Bu, sudah jangan menangis terus." kini ganti Elang yang menangkup pipi ibunya sambil menyeka air matanya.


"Ibu senang nak."


"Aku tau, setelah ini aku berjanji akan menjaga ibu dengan baik." ucap Elang.


"Iya sayang, terimakasih."


Mereka kembali berpelukan mengabaikan para manusia lainnya.


Melati mendekati Hafsa, "Sa, tuan muda bisa berjalan." ucap Melati menatap kagum Elang.


"Iya Mel, tuan muda sudah sembuh kini tinggal matanya saja yang belum." jawab Hafsa ikut menatap kagum Elang.

__ADS_1


"Iya aku doakan semoga setelah ini tuan muda bisa melihat lagi supaya dia bisa tau bahwa istrinya ini sangat cantik." ujar Melati tersenyum.


"Melati kalau bicara suka benar." Hafsa ikut tersenyum malu mendengar doa Melati.


"Ye... kenapa kau jadi GeEr." Melati meledek Hafsa yang malu.


"Aku tidak GeEr cuma malu."


Sedangkan disisi lain Rahma dan Sesil pun tak ketinggalan bercerita.


"Mah, tuan muda sudah bisa jalan tambah tampan ya mah!" ucap Sesil, kini kekagumannya semakin bertambah.


"Iya sil, kau harus bisa mendekatinya." usul Rahma.


"Pasti mah kesempatan emas ini tidak akan aku sia-siakan. Tapi mah bagaimana dengan Nina bukankah dia juga menginginkan tuan muda." Sesaat Sesil jadi teringat dengan Nina yang juga menginginkan tuan muda Elang.


"Persetan dengannya, biarkan saja dia. Lagi pula dia sangat bodoh memberikan sebongkah berlian kepada kita." Rahma berucap dengan nada sinis.


Sesil menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman sinis, "Mamah pintar sekali, aku tidak menyangka aku kira mamah akan menurutinya."


"Hey, untuk apa mamah menurutinya kenal juga tidak, kalau mamah menurutinya itu sama saja mamah juga bodoh." terangnya menjelaskan yang ada dipikirannya.


Ya memang Nina sangat bodoh mempercayai saja ucapan orang yang baru saja mereka kenal padahal Rahma hanya memanfaatkannya saja agar dapat kerumah ini.


Kembali kepada Elang dan Sinta mereka melepaskan pelukannya, kini Sinta mendekati Hafsa yang bersama Melati.


"Hafsa, terimakasih ya sayang atas kesabaranmu dalam merawat anakku." ucap Sinta memegangi kedua tangan Hafsa.


"Ibu, ibu tidak perlu berterimakasih. Ini juga karena Elang yang ingin sembuh dan aku hanya membantu."


"Tapi tetap saja jika tidak ada dirimu, ibu tidak tau harus menunggu berapa lama lagi agar Elang bisa seperti ini." ungkap Sinta lalu memeluk Hafsa.


Hafsa balas memeluk.


"Terimakasih nak!". ucap Sinta tulus.


"Sama-sama Bu."


"Bu, lebih baik kita sarapan dulu." Elang berucap demi mengakhiri adegan ini.


Sinta menghapus air matanya dan kembali ke mode elegan dan tenang.

__ADS_1


"Iya, ayo kita sarapan dulu sayang."


"Ayo."


Mereka kini berjalan ke arah meja makan demi menyantap sarapan yang mungkin sudah dingin.


*****


"Tuan, aku senang sekali tuan sekarang sudah bisa berjalan." ucap Hafsa tersenyum tulus.


"Ya aku juga senang." jawab Elang menatap lurus.


Kini mereka sedang berada ditaman sedang menikmati secangkir kopi dan susu coklat, sehabis sarapan tadi Elang meminta ingin ditemani pergi ke taman untuk mengasah kemampuan berjalannya yang ternyata dia memang sudah bisa berjalan.


Kini mereka sedang beristirahat dan sepertinya mereka melupakan kejadian yang semalam.


"Tapi sepertinya aku mengingat sesuatu." ucap Elang kepalanya menengok ke samping dimana istrinya ada disana.


"Apa tuan?" tanya Hafsa penasaran juga.


"Kau lupa, kau bilang jika aku bisa berjalan dengan cepat maka kau akan mentraktirku." Elang mengingat janji Hafsa yang dulu pernah terucap.


Hafsa berfikir untuk mengingat hal itu, setelah ingat dia jadi meringis sendiri.


"Tuan masih ingat, aku saja lupa jika tidak di ingatkan." Hafsa nyengir saat sudah mengingat janjinya.


"Heh... kau lupa bahwa suamimu ini sangat jenius dan sekarang aku menagih janjimu." kata Elang serius.


"Iya tuan, aku ingat aku akan mentraktir kok tenang saja. Tapi ada syaratnya." Hafsa menaik turunkan alisnya saat mengucap kata syarat.


"Apa syaratnya?" tanya Elang.


"Syaratnya tempat dan menu makan nya aku yang pilih bukan tuan." kata Hafsa dengan mimik wajah serius.


Elang berfikir sejenak, "Baiklah tidak masalah aku akan mencoba menu kampungan yang akan kau rekomendasikan itu."


"Menu kampungan, kenapa tuan bicara begitu."


"Kenapa? apa aku salah kau tidak akan mengajakku ke restoran mahal bukan." tebak Elang yang ternyata benar.


Hafsa nyengir karena tebakan Elang ini tidak salah.

__ADS_1


"Tuan, kau memang pintar dalam hal menebak." Hafsa mengacungkan dua jempolnya ke arah Elang.


"Elang...!" sedang asik berbincang tiba-tiba ada yang memanggil Elang.


__ADS_2