Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 47


__ADS_3

Mendengar jawaban dari penjaga itu membuat Rahma dan Sesil berkali-kali terus menganga. Apa maksudnya? Hafsa menjadi istri dari tuannya yang berarti majikannya.


Seketika pikiran mereka menjadi negatif apakah Hafsa menjadi sugar baby dan menjadi orang kaya mendadak mangkanya dia tidak pulang-pulang.


"Apa pak? nona Hafsa, dia itu kakak saya yang bekerja disini sebagai pengasuh, mana mungkin jadi istri." kata Sesil tidak percaya.


"Oh.. dia memang dulunya pengasuh tuan tapi sekarang sudah menjadi istrinya. Kalau boleh saya tau kalian ini siapa yah?" tanya penjaga itu karena dari tadi heran perihal status mereka.


"Perkenalkan namaku Rahma ibu sambungnya Hafsa dan ini saudari sambungnya Hafsa." jawab Rahma antusias sambil menunjuk Sesil dengan tangannya.


Tentu saja dia merasa antusias karena dia seperti mendapat durian runtuh. Jika memang Hafsa menjadi istri dari orang kaya ini itu akan sangat menguntungkan untuknya dia jadi bisa memanfaatkan hal ini.


"Ibu sambungnya, lalu kenapa waktu pernikahan mereka saya tidak melihat anda." kata penjaga yang membuat Rahma menjadi kebingungan menjawabnya.


"Itu.. karena saya sedang ada urusan yang penting jadi tidak bisa menghadiri pernikahannya dan sekarang saya datang ingin bertemu dengannya dan mengucapkan selamat juga sangat rindu dengannya." elak Rahma dengan wajah dibuat semelas mungkin.


Sedangkan Sesil mengangguk mengiyakan.


Penjaga itu menelisik Rahma dan Sesil dari atas ke bawah masih merasa tidak percaya dengan penuturan mereka.


Sedangkan Rahma dan Sesil menunggu harap-harap cemas dengan jawaban penjaga itu mereka hanya berdoa dalam hati semoga penjaga itu percaya kepada mereka.


Disisi lain Hafsa dan Melati keluar dari rumah utama itu menuju taman tapi pandangan Melati teralihkan pada orang-orang yang berada disudut pagar, dia menghentikan jalan dan mengamati lebih detail siapakah mereka karena sekilas dia mengenali sosok orang-orang itu.


Hal itupun membuat Hafsa berhenti dan pandangannya mengikuti arah pandang Melati.


"Sa, bukannya mereka itu ibu tiri dan saudari tiri kamu yah!". tunjuk Melati setelah mengenalinya.


"Iya benar, tapi kenapa mereka bisa ada disini?". Hafsa bingung, apakah mereka mengikutinya sampai bisa kesini? tapi tidak mungkin waktu itu kan dia dan Melati sudah mengecoh mereka.


"Aku juga tidak tau, kenapa mereka bisa sampai sini." Melati kebingungan sendiri.


"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini sebelum mereka melihat kita." lanjut Melati menarik paksa tangan Hafsa untuk mengikutinya dan gadis itu hanya menurut.


Tapi terlambat baru juga beberapa langkah mata Sesil sudah memergoki mereka.


"Nah! itu mereka..." teriak Sesil menunjuk kedalam tertuju pada Hafsa dan Melati.


Teriakan itu sontak membuat kedua gadis itu berhenti sebentar tapi tak menoleh, karena tidak ingin ketahuan mereka melanjutkan langkahnya kembali.

__ADS_1


"Hey, tunggu...!" Sesil berteriak lebih kencang sambil merangsek maju diikuti Rahma.


Penjaga yang ingin mencegah tak berkutik karena dua tenaga wanita itu kuat juga.


"Hafsaa...!" panggil Rahma ketika mereka hampir dekat.


Karena panggilan itu Hafsa terpaksa berhenti dan menoleh karena dia termasuk orang yang tidak tegaan.


Melihat reaksi Hafsa, Melati hanya bisa menghela nafas pelan dan mengikutinya.


"Eh! kalian..." Hafsa berpura-pura kebingungan supaya mereka tidak curiga.


"Ternyata kau disini, kami sudah mencarimu kemana-mana." kata Rahma dengan suara pelan dibuat seperti orang yang kelelahan.


"Maaf nona, saya tidak bisa mencegah mereka masuk!" penjaga itu datang tergopoh-gopoh.


Rahma dan Sesil kembali membulatkan matanya mendengar Hafsa dipanggil Nona, berarti benar Hafsa sudah menjadi bagian dari orang kaya, mereka tersenyum dalam hati merasa ada kesempatan untuk menjadi orang kaya.


"Tidak apa-apa pak! silahkan bapak kembali ke pos saja." ucap Hafsa ramah.


"Lalu, bagaimana dengan wanita-wanita ini." tunjuk penjaga merasa tidak enak.


Meski masih ragu tapi penjaga itu tetap mematuhi perintah dari majikannya dia pun mengangguk pelan dengan perasaan yang belum tenang dan pergi meninggalkan nona nya dengan terpaksa.


Setelah penjaga pergi Rahma langsung memeluk Hafsa membuat Hafsa terkejut begitu juga Melati dan Sesil.


"Hafsa.. akhirnya ibu menemukanmu nak!" ucap Rahma dibalik punggung Hafsa.


Melati memalingkan wajahnya dan berekspresi ingin muntah dan Sesil lebih parah dia malah tidak menyangka jika ibunya melakukan hal itu.


Hafsa berusaha melepaskan pelukan Rahma dari tubuhnya, dia juga merasa risih atas tindakan ibu tiri nya itu.


Eh tapi dia kan sudah bercerai dengan ayahnya masih bisakah dibilang ibu tiri.


"Kalian sampai juga kesini.!" kata Hafsa canggung.


"Jelaslah, kami cari tau. Karena kau dan temanmu ini telah membohongi kami." ungkap Sesil bersungut-sungut sambil matanya menatap sengit Melati.


"Huss.. Sesil jangan begitu." Rahma membuat Sesil geleng-geleng kepala, ibunya ini niat sekali.

__ADS_1


Melati terkekeh melihat Rahma malah memarahi Sesil membuat Sesil mendengus kesal.


"Tidak apa-apa Hafsa, ibu tau mungkin waktu itu pikiran kalian sedang tidak fokus sehingga membuat alamat yang salah, tapi untungnya kami menemukan alamat yang benar." ucap Rahma dengan senyuman yang menurut Melati palsu.


"Lalu dari mana kalian tau alamat ini?" tanya Melati tidak tahan juga ingin bersuara.


"Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Rahardian, mereka menunjukkan alamatnya kepada kami dan akhirnya kami sampai disini." terang Rahma berbohong.


Melati dan Hafsa saling pandang sambil bermain mata mengisyaratkan pernyataan mereka benar atau tidak.


Tak berselang waktu lama detik itu juga suara gerbang berbunyi menandakan gerbang itu akan dibuka. Saat gerbang dibuka oleh penjaga tampaklah sebuah mobil mewah keluaran terbaru dengan warna hitam mengkilap memasuki pelataran halaman luas itu.


Seketika pandangan ke empat wanita itu teralihkan pada mobil yang lewat itu, penasaran siapakah gerangan yang ada didalam mobil itu.


Mobil berhenti tepat didepan ke empat wanita itu dan membuat mereka heran sekaligus penasaran.


Salah satu ajudan membuka pintu belakang kemudi dan tampaklah sepasang kaki turun dengan anggunnya, menampakkan kulit halus dan bersih.


Mereka berempat memandangi dengan seksama bagaimana sketsa wajah pemilik kaki itu.


"Nyonya Sinta...!" ucap Hafsa dan Melati bersamaan, ternyata sketsa wajah itu adalah nyonya Sinta ibu dari tuan muda Elang Rahardian yang sudah kembali dari urusannya.


Sedangkan Rahma hanya terbengong saja karena mereka tidak kenal hanya saja mereka kagum pada wanita paruh baya itu karena meski usianya sudah kepala empat tapi wajahnya masih cantik terawat dan tidak terlihat tua.


Rahma sendiri jadi insecure pada dirinya sendiri yang kusam dan tak terawat padahal sepertinya mereka seumuran.


"Hafsa... sayang!" Nyonya Sinta bergerak mendekati menantu pilihannya itu kemudian memeluknya.


"Mamah rindu sekali denganmu nak!" kata nyonya Sinta.


"Aku juga rindu nyo- eh mah!" Hafsa hampir keceplosan ingin memanggil nyonya.


"Kau ini hampir keceplosan." nyonya Sinta melepas pelukannya dan menyentil hidung mancung Hafsa.


"Maaf mah! habis mamah lama sekali perginya." ucap Hafsa tak enak hati.


"Ya karena urusan mamah disana sangat rumit jadi sedikit lama. Tapi sekarang mamah sudah pulang, kau senang kan." lanjut nyonya Sinta.


"Tentu saja mah!".

__ADS_1


__ADS_2