Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 44


__ADS_3

"Iya, dia berbeda dia... ternyata tidak kaku seperti yang aku kira." ucap Melati tersenyum sendiri.


Hafsa mengernyit, "Tidak kaku, ya iya lah tidak kaku kan dia manusia bukan robot."


Melati mencebik kesal, "Hafsa bukan maksudku kaku seperti robot tapi... kau tau kan dari pertama kita menginjakkan kaki disini pernah tidak kita melihat dia tersenyum atau ekpresi apalah. Tidak kan." Melati menjelaskan dengan detail.


Hafsa menggaruk kepalanya sambil mengingat pertama kali mereka datang Rey memang kaku seperti robot dan ekspresinya sangat datar dan dingin melebihi tuannya Elang.


"Oh iya yah dia memang kaku sih!" kata Hafsa mengiyakan.


"Tuhkan, tapi sekarang aku lihat dia tersenyum senyumnya itu maniiisss sekali seperti gula." ujar Melati tersenyum membayangkan wajah Rey.


Hafsa ikut tersenyum, "Wah ada kemajuan dong dia biar tidak kaku terus ya kan."


"Iya dong, entah kenapa aku yakin jika Rey adalah jodohku." ucap Melati asal tapi serius.


"Bagaimana kalau tidak?" tanya Hafsa menggoda Melati.


Melati menatap Hafsa serius, "Kalau tidak, aku cari lelaki yang 99 persen mirip sekali dengan Rey."


"Ah kau ini ada-ada saja! tidak mungkin ada yang mirip dengan Rey." kata Hafsa menampik ucapan Melati.

__ADS_1


"Hei! kau tidak percaya bahwa didunia ini kita itu punya tujuh kembaran yang terpisah yang suatu saat pasti ada yang menyadari." kata Melati karena memang didunia ini kita mempunyai 7 kembaran yang mirip dengan kita.


"Ya mungkin wajah akan mirip tapi apa sifat dan tingkahnya akan mirip juga." kata Hafsa.


Benar juga pikir Melati, ah sudahlah Melatipun menggeleng kan kepalanya tidak mau memikirkan hal itu.


Disaat mereka tengah menikmati kebersamaan mereka tiba-tiba Satria datang menghampiri.


"Boleh aku bergabung wahai gadis-gadis: cantik." ucapnya yang langsung duduk disamping Hafsa membuat Hafsa risih lalu menggeser duduknya merapat kearah Melati.


"Kau, masih disini aku kira sudah pulang." kata Hafsa melihat Satria yang malah duduk didekatnya padahal di seberangnya masih ada bangku.


"Eh! bu-bukan begitu, soalnya aku tidak melihatmu lagi." ucap Hafsa gugup dan merasa tidak enak hati.


"Aku masih disini karena aku masih ada urusan disini dan kita baru bertemu, tentu saja karena kau pasti sedang bersenang-senang dengan Elang setelah adegan cumbu kalian kupergoki. Iya kan!" tutur Satria menebak.


"Eh! tidak tidak kau bicara asal saja!" Hafsa merasa malu sedangkan Melati terhenyak karena ternyata ada yang melihat temannya sedang berciuman.


Melati pun menyenggol lengan Hafsa dan berbisik, "Sa, dia tau!".


"Dia bukan hanya tau tapi juga menghentikan." jawab Hafsa berbisik juga.

__ADS_1


"Kenapa kalian berbisik? aku tampan yah! tentu saja aku ini idaman para kaum wanita termasuk kalian." dengan bangganya Satria berucap sehingga membuat kedua gadis itu memutar bola mata malas.


"Maaf yah tuan kita berdua tidak termasuk!" tukas Melati cepat.


"Kenapa kalian tidak termasuk? kalian kan wanita." katanya tersenyum simpul.


"Karena dia sudah mempunyai suami dan aku sudah mempunyai kekasih jadi maaf jangan ganggu kami." tutur Melati lagi pada Satria yang malah terkekeh.


"Oh iya aku lupa bahwa gadis ini sudah mempunyai suami." ucap Satria menatap Hafsa.


"Tapi... hanya istri diatas kertas." lanjutnya membuat kedua gadis itu terkejut.


"Kenapa kau begitu terkejut? apa tebakanku benar?"


Ditanya seperti itu Hafsa menjadi gugup, memang benar dia hanya istri diatas kertas selama 1 tahun tapi pertanyaannya dari mana Satria tau.


Melihat Hafsa yang gugup dan diam saja membuat Satria merasa yakin jika mereka memang menikah kontrak saja dan itu kesempatan untuknya menjadikan Hafsa menjadi miliknya.


"Tenanglah, aku hanya becanda Elang bukan tipe orang yang mempermainkan soal pernikahan dia pasti akan menjadikanmu ratu dihatinya." tutur Satria asal tetapi didalam hatinya dia ingin mereka berdua berpisah.


"Eh.. iya kau benar aku juga bukan tipe orang yang mempermainkan pernikahan meskipun Elang begitu tapi aku yakin Elang sangat perhatian." kata Hafsa dengan tersenyum paksa.

__ADS_1


__ADS_2