
Melati masih memunguti sampah itu sampai benar-benar bersih dan hal itu terus diperhatikan oleh pria dewasa didepannya.
Melati yang pakaiannya sudah basah kuyup sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terbilang bagus dan menampakkan kedua gunung kembarnya yang sepertinya pas ditangannya.
Dan tiba-tiba membuat darah Rey berdesir seketika dia pun memalingkan wajahnya kearah lain tidak mengerti kenapa bisa begini padahal dia sudah sering melihat wanita seksi yang memakai baju kekurangan bahan tapi sama sekali tak bereaksi apapun padanya.
Tapi dengan gadis pelayan ini mampu membuatnya salah tingkah. Tak ingin berlama-lama dengan rasa tidak nyaman ini Rey memilih pergi dan mengerjakan yang lain.
"Hey kau jika sudah selesai maka bersihkan tubuhmu dan bersihkan ruangan kerjaku." Ya Rey memang memiliki ruang kerjanya sendiri disini bahkan dia juga memiliki kamar sendiri khusus untuknya menginap disini jika dia terlambat pulang.
Dan keluarga Rahardian sudah menganggap Rey bagian dari keluarganya.
"Baik tuan, eh tuan mau kemana?" tanya Melati karena melihat Rey hendak pergi.
Rey menghentikan langkahnya tanpa berbalik, "Aku ada pekerjaan lain yang lebih penting dari pada terus mengawasimu." katanya berusaha bersikap biasa membuat Melati memanyunkan bibirnya.
*****
Sedangkan ditempat lain Hafsa yang sudah mulai terbiasa dengan kegiatan rutinnya memandikan bayi besar dan menyiapkan segala keperluannya itu sudah tidak merasa canggung selama Elang tidak menyentuhnya dan tidak berbuat melewati batas maka Hafsa masih bisa bersabar.
__ADS_1
Seperti saat ini hukuman yang diberikan Elang tidak membuatnya membenci suaminya bahkan dia dengan suka rela akan menurutinya sebagai tanda bakti padanya.
"Tuan kukumu panjang sekali biar aku potong yah!" tawar Hafsa saat tak sengaja melihat kuku Elang yang memang panjang tapi bersih entah sengaja dipelihara atau belum dipotong.
"Tidak perlu, kau jangan coba menyentuhku yah!" tolak Elang ketus.
"Tapi tuan, bukannya nanti malam juga tuan ingin saya memijat tuan hingga tertidur itu artinya aku harus bersentuhan dengan kulit tuan, lalu apa bedanya dengan yang ini." ucap Hafsa merasa bingung dengan pikiran Elang.
Elang berdehem sedikit, benar juga kenapa dia jadi terlihat bodoh seperti itu.
"Sudahlah tidak usah dibahas, jika kau ingin memotongnya potong saja." kata Elang menghilangkan rasa gugup.
Setelah ketemu dia pun bersiap memotong kuku suaminya yang panjang.
"Setelah ini tuan makan yah!" ujar Hafsa seakan Elang adalah anak kecil.
"Hemm.." hanya itu jawabannya. Meski kesal tapi jika sudah berdua begini entah kenapa Elang tidak bisa kesal.
Saat tangan gadis itu menyentuh tangannya ada desiran aneh yang lewat begitu saja pada Elang dan pandangannya menjadi lurus kedepan untuk menikmati desiran itu tanpa kata.
__ADS_1
"Sudah selesai." kata Hafsa dengan senangnya.
"Sekarang suapi aku."
"Baik tuan aku cuci tangan dulu." Hafsa berjalan kearah wastafel untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan mengelapnya dengan tisu yang sudah tersedia.
"Oke tuan, kita makan." celoteh Hafsa riang padahal malam nanti dia akan lembur.
"Kita... aku saja yang makan kau tidak." kata Elang berkilah.
"Maaf tuan aku lupa!"
Lalu Hafsa pun menyuapi dengan telaten bayi besar itu dan Elang makan dengan sangat lahap hingga makanan itu tak bersisa.
"Baiklah sudah selesai, aku senang akhir-akhir ini tuan makan sangat banyak dan ini akan membuat tubuh tuan semakin sehat dan kuat dan akan mempercepat proses penyembuhan tuan." Hafsa berbicara sambil membersihkan piring kotor dan sisa makanan.
Sedangkan Elang hanya mendengarkan tanpa menjawab karena dirinya juga menyadari perubahan dari tubuhnya yang semakin kuat dan sehat.
"Ini tuan diminum dulu obat dan vitaminnya." Hafsa memberikan air dan obat untuk diminum Elang.
__ADS_1
Elang menerimanya dengan dibantu Hafsa.