Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 26


__ADS_3

Hafsa meminta ijin pada Elang untuk keluar sebentar menemani Melati yang ingin berbelanja kebutuhan dapur.


Elang mengijinkan dengan cuek, tanpa basa basi dan Kini Hafsa dan Melati sedang berada dipasar tradisional, pasar yang biasa mereka kunjungi.


Saat mereka berdua tengah asyik berbelanja dengan memakai baju pribadi dan riasan tipis sudah mampu membuat para lelaki terpukau karena kecantikan alami mereka.


Lalu tak sengaja disisi lain ada seseorang yang melihat mereka sedang berbelanja, orang itu menepuk pundak ibunya yang sedang berbelanja juga.


"Mah, mah bukannya itu Hafsa ya mah!" kata seorang gadis menepuk pundak ibunya.


Ibunya langsung menoleh penasaran, "Mana mana?"


"Itu mah ditempat ikan." tunjuk anaknya pada Hafsa yang berada dibagian ikan.


Ya mereka adalah Rahma dan Sesil yang sedang kehabisan bahan pokok dapur dan berbelanja dipasar tradisional juga dengan mengandalkan uang dari kompensasi yang tinggal sedikit itu.


Rahma melihatnya dari kejauhan dan yang dapat dia tangkap adalah penampilan Hafsa sekarang berubah terlihat dari kulit dan rambutnya yang lebih putih dan rambut yang tergerai indah, lalu dia tersenyum menyeringai setelah mendapat ide.


"Sesil, cepat kau samperin dia dan usahakan kau bisa bekerja ditempatnya juga." ucap Rahma membuat Sesil melebarkan matanya.


"Apa mah? maksud mamah aku harus minta kerjaan sama dia buat jadi pelayan gitu." Sesil bahkan tak habis pikir dengan pikiran ibunya yang menyuruhnya dengan sangat konyol.


"Tidak, aku tidak mau." tentu saja Sesil menolak dia kan ingin jadi model atau artis kenapa malah jadi pelayan.


"Sesil dengarkan mamah dulu!" sela Rahma cepat.


Sesil kemudian diam, tapi tidak ada waktu untuk Rahma menjelaskan pada anaknya karena melihat Hafsa dan Melati akan segera pergi dari tempat itu.


"Sesil, nanti saja mamah jelaskan yah! yang terpenting kita harus susul Hafsa dulu, kalau tidak kita akan kehilangan kesempatan emas kita." ucapnya panik menarik tangan Sesil dan meninggalkan belanjaan yang belum dibayar membuat pedangan itu ngoceh-ngoceh tidak jelas.


"Untung sayurannya ga diambil." ucap pedagang itu kesal.


Sedangkan Sesil memasang tampang cemberut karena ibunya tiba-tiba menariknya dengan paksa tanpa menjelaskan.

__ADS_1


"Aduh mamah jangan ditarik-tarik dong!" kata Sesil kesal.


"Diam, nanti dia hilang." ujar Rahma namun matanya tetap fokus pada Hafsa yang sudah berjalan bersama Melati.


"Hafsa, tunggu..." panggil Rahma keras sehingga sang pemilik nama berhenti dan menoleh.


"Ibu.. Sesil." ujar Hafsa sedikit terkejut melihat ibu dan adik tirinya berada didepannya.


"Hafsa...!" panggil Rahma lagi dengan pelan, karena sudah sampai pada gadis yang sedang termenung itu.


"Apa kabar kau nak?" tanya Rahma dengan senyum palsunya mencoba berbasa-basi sedangkan Sesil hanya diam saja.


"Ibu Rahma." jawab Hafsa pelan.


"Iya ini ibu, apa kabar kau nak!" tanya nya lagi sambil menyentuh tangan Hafsa yang ternyata lembut dan halus.


"Baik Bu!" jawab Hafsa singkat, tak tau ingin berekasi seperti apa karena ibu tirinya sudah bercerai dengan ayahnya.


"Hafsa, sekarang kau semakin cantik yah, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang sepertinya kau merasa nyaman yah!" kata Rahma berbasa-basi dengan menampilkan senyumannya.


"Sa, mereka ibu dan saudari tirimu bukan?". tanya Melati sambil berbisik.


"Iya Mel." Melati hanya mengangguk ria.


"Oh iya Bu, ini kenalkan teman ditempat kerjaku namanya Melati." Hafsa memperkenalkan Melati pada ibu tirinya.


"Oh saya Rahma ibu tirinya Hafsa dan ini... " menyeret Sesil kedepan, yang diseret tersenyum paksa dalam hati merasa dongkol terhadap ibunya. "Ini Sesil saudari tirinya Hafsa."


"Salam kenal aku Melati." sapanya ramah.


"Salam kenal juga Sesil." jawab Sesil dengan wajah menahan kesal, karena harus dipaksa berkenalan dengan yang bukan levelnya.


"Kalian mau kemana? sudah belanjanya?" tanya Bu Rahma.

__ADS_1


"Sudah, Bu sekarang kita mau pulang." jawab Hafsa, memang mereka telah selesai berbelanja kini hendak pulang.


"Eh, Hafsa sebenarnya ada yang mau ibu bicarakan padamu." kata Rahma dengan menampilkan wajah tidak enak.


"Bicara apa Bu? bicara saja!"


"Tapi jangan disini, disini tidak enak ngobrolnya." ucap Rahma dengan melirik sana sini mencari tempat duduk.


"Ah disana saja, ayu nak!" sambungnya lagi dengan ramah membuat Hafsa kebingungan dengan sikap ibu tirinya yang jadi lembut padanya.


Yang ada dipikiran Hafsa mungkin, ibunya sadar setelah bercerai dengan ayahnya dan sekarang kebetulan bertemu ingin bersikap baik padanya.


Mereka berempat pun duduk di bangku yang kebetulan kosong, sedari tadi pandangan Melati selalu menatap curiga pada ibu dan anak itu, karena yang dia dengar ceritanya dari sahabatnya bahwa ibu dan saudari tirinya itu begitu kejam padanya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba mereka jadi bersikap lembut pasti ada maunya.


"Begini nak, sebelumnya ibu mau minta maaf, karena sudah bercerai dengan ayahmu dan ibu juga selalu bersikap buruk padamu, tidak adil selalu marah-marah dan selalu meminta-minta apapun padamu. Sekarang setelah ibu keluar dari rumah ayahmu ibu sadar bahwa apa yang selama ini ibu lakukan salah sangat salah." ucap Rahma dengan tertunduk mulai mengeluarkan air mata palsunya.


Sesil sampai terperangah melihat sikap ibunya yang tiba-tiba berubah tapi sedetik kemudian dirinya mengerti setelah kakinya disenggol oleh ibunya bahwa dia harus berpura-pura.


"Iya kak Hafsa, maafin aku yah aku udah banyak salah sama kakak." tambah Sesil dengan ikut menangis.


"Iya nak, sekarang kami telah mendapat balasan dari tuhan, kami sekarang tidak punya apa-apa bahkan kami juga sudah menunggak uang kontrakan dan kami tidak bekerja." ujar Rahma, air mata sudah menganak sungai demi memperlancar aktingnya diikuti Sesil.


Lalu bagaimana tanggapan Hafsa mendengarnya. Sudah jelas kalau Melati memutar bola mata malas mendengar cerita yang seperti dibuat-buat lalu dia berbisik pada Hafsa.


"Mereka seperti pura-pura, hati-hati jangan terpengaruh."


Hafsa menjadi bingung, dalam hati kecilnya merasa kasihan tapi dia juga tidak mungkin langsung percaya begitu saja dengan kata-kata mereka.


"Nak, kami boleh minta tolong padamu?" Melati tersenyum seolah apa yang dia duga benar, ternyata ada udang dibalik batu.


"Minta tolong apa Bu?" kata Hafsa merasa bingung.


"Tolong, berikan pekerjaan untuk kami ditempatmu dan bisa tinggal disana. Ibu mohon." Rahma mengatupkan tangan didada begitu juga Sesil dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


Hafsa terdiam saling pandang dengan Melati bingung ingin memberikan jawaban seperti apa?.


__ADS_2