Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 60


__ADS_3

"Elang, selamat kau sudah sembuh total dan bisa berjalan seperti pada umumnya karena tulangmu kini sehat dan kuat, kau hebat Elang." papar Ziyan menjelaskan pemeriksaannya.


Elang hanya diam dia hanya kembali duduk karena merasa tidak nyaman dengan kakinya karena kursi yang kurang panjang.


Padahal dirinya yang ketinggian.


"Wah selamat tuan akhirnya kau sembuh juga." dengan antusias Hafsa bertepuk tangan.


Elang sudah pasti senang mendengarnya tapi dia tetap tenang.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Ziyan.


"Tidak ada." jawabnya singkat membuat Ziyan hanya memutar bola mata malas.


Karena sebenarnya banyak sekali yang ingin Elang lakukan terutama mencari pelaku atas penyebab kecelakaannya dan kematian ayahnya.


Padahal Rey sudah menawarkan diri untuk mencari pelakunya namun Elang menolak dia ingin mencari sendiri kebenarannya.


Setelah berbincang-bincang, Ziyan memutuskan pulang karena urusannya sudah selesai ada pasien darurat yang membutuhkan pertolongannya.


Kini kembali tinggal Hafsa dan Elang suasana menjadi hening kembali.


"Tuan, sudah yuk masuk kita sudah lama disini." ucap Hafsa mengawali pembicaraan.


"Tidak, aku ingin menagih janjimu." jawab Elang masih ingat dengan yang tadi.


"Baiklah, ayo tuan kita pergi sekarang." dengan semangat Hafsa berdiri mengajak Elang untuk berjalan-jalan.


*****


Kini mereka tiba ditempat yang Hafsa inginkan yaitu di tempat alun-alun kota yang menyediakan berbagai kuliner jajanan khas masa kini juga berbagai barang yang dijual dengan harga terjangkau.


Tak lupa pula berbagai jenis permainan untuk para orang tua yang membawa anak kecil demi untuk menyenangkan mereka.


Ya suasana di alun-alun kota sangat ramai apalagi hari weekend dan masih pagi.


Banyak pula para remaja yang sedang melatih talenta nya di lapangan alun-alun itu dengan mencoba bermain basket, skateboard dan yang lainnya tak lupa pula yang berselfi juga ada.


"Apakah ini di alun-alun kota?". tanya Elang dengan insting tajamnya.


"Wah... tuan hebat sekali dalam menebak." puji Hafsa mengacungkan dua jempolnya.

__ADS_1


Elang tersenyum tipis, "Asal kau tau disini tempatku bermain sebelum aku tiba bisa melihat."


"Oh begitu, kau masih ingat juga ya tuan."


"Tentu saja aku ingat, memangnya aku amnesia." kesal Elang dengan jawaban polos istrinya.


"Tapi.. kau tau dari mana tempat ini?" tanya Elang karena setaunya Hafsa tidak pernah meminta izin untuk berlibur, hanya pergi dengan Melati saja itu pun hanya ke pasar.


"Kau ini tuan aku juga termasuk orang sini jadi aku tau tempat ini." reflek Hafsa memukul lengan Elang membuat Elang kesal namun tidak bisa marah.


"Kau berani sekali memukulku." kata Elang memegang lengannya.


"Ah maaf memangnya sakit, tidak kan." Hafsa menyentuh lengan Elang untuk memeriksa.


"Sudah, lebih baik cepat kau ingin mentraktirku apa." Elang mengelak dengan mengajak Hafsa pada hal lain.


Hafsa tersenyum kemudian menggaet tangan Elang.


"Ayo tuan ikuti aku!" dengan riang Hafsa mengajak Elang untuk memilih jajana yang disukainya.


Hafsa dan Elang berjalan menyusuri kuliner yang khas ada lokal ada gorengan, seblak, batagor, siomay, tahu gejrot, dan masih banyak yang lain.


Hafsa memilih cemilan cimol, tahu gejrot gorengan juga stik kentang juga yang lain.


"Tuan sudah.. ayo kita makan." Hafsa menarik tangan Elang untuk mencari tempat duduk.


Hafsa menyusuri tempat itu untuk mencari tempat duduk dan ketemulah ada bangku kosong dekat tempat bermain anak-anak kecil ya sudahlah tidak apa-apa dari pada tidak kebagian duduk.


"Ayo tuan kita eksekusi." dengan membuka bungkusan itu dan menatanya satu persatu.


"Silahkan dimakan."


"Kau membeli apa?" Elang bertanya karena tidak dapat menebak sebab dia belum pernah mencium aroma makanan itu.


"Dari mimik wajahnya sepertinya tuan belum pernah makan makanan ini yah." kata Hafsa meledek.


"Memangnya itu makanan apa? pasti tidak sehat." masih bertanya karena belum dijawab.


Hafsa memutar bola mata malas mendengarnya "Nih coba saja dulu." Hafsa menyuapi cimol yang dibaluri bumbu balado.


Meski aneh tapi Elang tetap mengunyah.

__ADS_1


"Gimana enak kan, ini namanya cimol."


"Lumayan." hanya itu jawaban Elang membuat Hafsa mendelik sebal.


"Coba yang ini." kemudian Hafsa pun menyuapi jajanan yang lain.


Elang mengunyah kembali dan jawaban yang sama yang diberikan.


Meski Elang menjawab lumayan namun semua makanan itu sudah habis setengah dan Hafsa belum memakannya dari tadi hanya menyuapi Elang saja.


"Hah... tinggal setengah kau sudah habis banyak tuan, sekarang aku yang makan." ucap Hafsa kesal.


saat Hafsa ingin memakan Elang malah merebutnya, "Kau beli lagi ini untukku semua."


"Hah tidak bisa ini milikku." Hafsa merebut kembali makanan itu.


"Kau beli saja."


"Tidak mau."


Maka terjadilah tarik menarik sehingga mereka jadi tontonan para anak kecil dan para ibu disana yang tentu saja menertawai mereka.


Hahaha.


"Mereka kayak anak kecil, kayak kita yah." celoteh anak kecil yang menertawai mereka.


Sadar karena mereka jadi pusat perhatian segera saja mereka menghentikan acara rebutan itu.


"Tidak kok ade manis, kami bukan lagi rebutan tapi lagi... ( sambil berfikir bingung) mau suap-suapan iya suap-suapan." Hafsa malah jadi menyengir dengan jawaban ngawurnya sedangkan Elang hanya mengerutkan alisnya.


"Kalian ini pengantin baru yah!" tebak ibu yang duduk tak jauh dari mereka.


"Benar, kenapa anda bisa tau?" Elang yang menjawab.


"Karena kalian seperti aku dan suamiku saat masih pengantin baru seperti kalian." ibu itu tersipu malu saat memberi tahu.


Elang dan Hafsa juga ikut tersenyum, kemudian terjadilah canda gurau antara para ibu dan Hafsa.


Elang hanya jadi pendengar dia ikut tersenyum mendengar suara tawa yang keluar dari bibir istrinya.


Sungguh senyuman yang sangat menawan bahkan ada yang tidak berkedip dalam memandangi Elang.

__ADS_1


Dalam hati dia berkata, 'Jika aku sudah bisa melihat maka orang pertama yang ingin aku lihat senyumannya adalah istriku, Hafsa.'


Karena sebenarnya Elang pun penasaran dengan wajah istri kecilnya yang berhasil membuatnya tertarik.


__ADS_2