
Setelah makan siang pasangan itu berpisah, Rey pergi mengantar Melati pulang sedang Elang dan Hafsa kembali ke kantor.
Sebenarnya Hafsa ingin pulang duluan namun Elang yang melarangnya karena Elang ingin pulang bersama.
"Kau ingin kuliah jurusan apa?." tanya Elang saat mereka duduk berdua di sofa.
Tapi pandangan nya fokus pada laptop didepannya.
"Aku ingin kuliah jurusan seni begitu juga Melati, kami memang punya impian untuk kuliah bersama dengan gaji kami. Tapi... kenyataannya kami malah menikah dulu." ungkap Hafsa menerawang masa lalu.
"Kau saja yang menikah duluan, Melati belum."
"Hem.. dia juga kan mau menikah." kata Hafsa memanyunkan bibirnya.
"Oke, baiklah tapi kau juga harus belajar bahasa supaya kau tidak seperti orang linglung saat aku ajak ke luar negri." tukas Elang menyentil dahi Hafsa.
"Kau ini mengejekku kah." ketus Hafsa sambil menyentuh dahi nya.
"Tentu saja tidak, hanya memberitahu."
"Hem..."
"Tapi aku punya syarat untukmu!." ucap Elang serius menatap Hafsa.
"Apa?."
"Kau tidak boleh berkenalan ataupun menerima siapapun lelaki yang mengajakmu berkenalan. Mengerti." ucap Elang tegas dengan sorot mata nya yang tajam.
"Belum juga masuk." jawab Hafsa manyun.
"Terserah aku."
"Hem.."
Sedang asyik-asyiknya berdua di dalam ruangannya tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.
"Kak Elang ada tamu." ucap Hafsa membenarkan posisi nya.
"Masuk saja." sahut Elang sedikit keras.
Kemudian pintu terbuka masuklah seorang wanita cantik dan seksi, berjalan begitu anggun dan elegant.
Hafsa hanya melongo melihat wanita di depannya, seperti pernah melihat tapi dimana yah?.
Sedang Elang masih fokus dengan laptopnya tanpa penasaran siapa yang datang.
"Elang." panggil suara itu dengan lembut.
Elang tiba-tiba menghentikan aktifitasnya saat mendengar suara itu, seperti tidak asing dia pun mendongak dan sangat terkejut.
"Diana." ucapnya kemudian.
"Ya Elang ini aku, Diana." ucap Diana tersenyum manis.
Terbesit rasa cemburu di dalam hati Hafsa karena dia baru saja mengingat siapa Diana?, saat Elang menyebutnya.
"Kenapa kau datang lagi?." tanya Elang menahan emosinya.
"Maafkan aku Elang." Diana berjalan pelan ingin menghampiri Elang, namun tiba-tiba..
__ADS_1
"Berhenti disitu, dan lanjutkan bicaramu." tegas Elang dengan suara dingin.
Diana berhenti dan menatap Elang, kemudian tersenyum.
"Elang, aku sudah mendengar kabar bahwa kau sudah bisa melihat dan berjalan. Aku senang sekali mendengarnya." tutur Diana.
"Lalu kau mau apa?." tanya Elang dingin dan datar seolah tak suka dengan kehadiran Diana yang tiba-tiba.
Di tanya seperti itu detik kemudian Diana langsung bersimpuh di bawah kaki Hafsa sehingga membuat Hafsa reflek terkejut memalingkan kakinya.
Elang juga terkejut melihat nya.
"Hafsa, aku mohon maafkan aku. Aku sangat merasa bersalah padamu." ucap Diana memohon.
Hafsa merasa bingung kemudian bertanya, "Kau punya salah apa padaku?, kenapa harus minta maaf?."
Aku yang dulu memerintah seseorang untuk menculik mu waktu kau akan menikah dengan Elang dulu. Karena suruhan ku telah di penjara dan aku kabur dan selama itu pula aku selalu di bayang-bayangi rasa bersalah padamu. Dan aku baru sempat untuk menemui mu. Maafkan aku." ungkap Diana, air mata keluar dari pelupuk matanya.
Hafsa yang melihatnya sangat kasihan dia menatap Elang yang diam saja malah kembali fokus ke pekerjaannya.
"Aku maafkan, dan aku juga mohon jangan mengganggu kami, kami sudah bahagia carilah lelaki lain yang pantas untukmu yang pasti belum memiliki pasangan. Kau mengerti." ujar Hafsa dengan penuh kelembutan memaafkan kesalahan Diana padanya.
"Sekarang bangunlah, aku sangat merasa tidak enak." Hafsa kemudian menyentuh bahu Diana agar bangun.
"Terimakasih kau ternyata sangat baik." ucap Diana.
"Boleh aku memeluk mu." Hafsa mengangguk tersenyum.
"Terimakasih." kemudian Diana memeluknya.
"Elang, kau beruntung mendapatkan istri seperti Hafsa. Sudah cantik baik pula aku menyesal telah meninggalkanmu dulu. Coba saja aku seperti Hafsa mungkin kita sudah bahagia bersama anak-anak kita." ucap Diana sengaja mengenang masa lalunya dengan Elang.
Diana melihatnya dengan pilu, "Maafkan aku Elang, aku tidak bisa melupakan masa lalu ku denganmu begitu saja."
"Jika keperluan mu kesini untuk meminta maaf sudah selesai, lebih baik kau pergi karena aku dan istriku tidak ingin di ganggu. Silahkan pintu keluar di sebelah sana." ucap Elang menunjuk pintu didepannya.
Diana menghela nafas kemudian berdiri, "Baiklah yang penting aku sudah lega sekarang, aku sudah mendapat maaf sekarang aku pergi." ujar Diana pamit lalu berjalan ke pintu keluar.
"Kak Elang, kenapa kau begitu dingin padanya?." tanya Hafsa saat Diana benar-benar pergi.
"Lalu, apakah aku harus bersikap manis padanya." jawab Elang membuat Hafsa kikuk.
"Ya tidak begitu juga lah. Kau ini ingin membuatku cemburu." ucap Hafsa kesal.
"Lihat, baru saja ku bilang kau sudah cemburu." kata Elang tersenyum melihat istrinya yang kesal.
"Ingat istriku perjalanan masih panjang, akan ada banyak wanita yang menggoda suamimu ini karena apa? karena aku tampan dan kaya." ucap Elang membanggakan dirinya sendiri.
"Jadi kau sangat beruntung mendapatkan ku." lanjutnya terus memuji.
"Iya aku sangat beruntung, beruntung sekali." balas Hafsa gemas pada suaminya yang terlalu pede, tapi tidak apa memang kenyataannya begitu.
"Kak, aku lelah aku ingin tiduran." ujar Hafsa tiba-tiba mengantuk.
"Kau lelah. Ayo ikut aku!." Elang beranjak diikuti Hafsa namun Elang malah menggotongnya.
"Kak, aku bisa jalan sendiri." kata Hafsa terkejut reflek mengalungkan tangannya di leher Elang.
"Sudah kau diam saja." kemudian Elang membawa Hafsa ke ruangan rahasia yang di tutup oleh lemari buku.
__ADS_1
Elang menekan tuas di dalam lemari yang paling ujung yang bentuknya menyerupai buku jadi orang lain yang tidak tau tidak akan menduganya jika itu adalah tuas.
Setelah di tekan lemari itu bergerak sendiri membelah dua di tengahnya dan terdapat pintu yang belum terbuka kemudian Elang memasukan kata sandi berupa sidik jarinya barulah pintu itu terbuka.
Hafsa berkali-kali takjub matanya tak juga berkedip begitu juga mulutnya yang terbuka.
Dia tak menyangka suaminya mempunyai ruangan rahasia di kantornya.
"Waw... ini benar-benar keren, kau punya ruangan rahasia disini." ucap Hafsa dengan mata berbinar takjub.
Elang hanya tersenyum bangga.
Didalam ruangan itu terdapat ranjang king size, kursi, meja kamar mandi berukuran kecil, juga lemari yang hanya Elang yang tau isinya.
Juga terdapat beberapa layar komputer besar yang mungkin berisi tentang kerahasiaan data-data perusahaan nya.
Jadi sebelum mengenal Hafsa, Elang sering sekali menginap di sini sambil mengawasi perusahaannya.
Hafsa turun dari gendongan Elang, lalu dirinya mengelilingi ruangan itu dengan wajah yang tak kuasa menahan kekagumannya.
"Ini apa kak Elang?." tunjuk Hafsa melihat sekitarnya.
"Ini ruangan rahasia dari semenjak perusahaan ini di bangun oleh ayahku kemudian dilanjutkan olehku setelah beliau meninggal." ceritanya dengan mengenang almarhum ayahnya yang gagah.
Jangan lupa di dinding juga terdapat foto keluarga Elang yang hanya bertiga jadi Elang merupakan anak tunggal juga foto ayahnya yang sendiri.
"Ini pasti ayahmu." tebak Hafsa yang memang benar.
"Iya, dia ayahku."
"Wajahmu mirip dengan ayahmu sama-sama berkharisma, sangat datar dan dingin." cetus Hafsa menatap wajah ayah Elang.
Elang tersenyum kemudian memeluk istrinya dari belakang.
"Dan kau adalah wanita satu-satunya yang mengetahui tempat ini selain ayahku, ibuku juga Rey." kata Elang menancapkan dagunya ke bahu Hafsa.
"Benarkah." Hafsa seakan tidak percaya.
"Benar, kau tidak percaya."
"Ya ya aku percaya. Tapi... apa kau percaya padaku?." tanya balik Hafsa.
"Aku sangat mempercayai dirimu untuk itu aku menikahimu."
"Kau lupa kita menikah kan karena ibu." Hafsa mengingatkan awal mula mereka menikah.
"Hey, memangnya kau pikir aku mau sembarang menikah asal kau tau aku bisa saja menolak usulan ibuku. Tapi karena aku juga percaya ibuku jadi aku menerimanya karena pilihan ibuku akan selalu tepat." tuturnya panjang lebar.
Lalu Elang mengelus perut rata istrinya yang belum buncit, "Dan kelak anak inilah yang akan mewarisi semuanya dan aku ingin punya banyak anak darimu." ucapnya sambil menciumi leher jenjang Hafsa.
"Terimakasih karena kau telah mempercayaiku, aku berjanji akan menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan anak-anak kita." balas Hafsa membalikkan badannya karena geli.
Tapi itu malah membuat kesempatan untuk Elang, dia menarik pinggul Hafsa sehingga dada mereka pun saling menempel.
"Jadi sekarang, perbuatlah banyak anak." ucapnya tersenyum smirk.
"Kak Elang, aku sedang hamil kau sudah mendapatkannya."
"Lalu, aku ingin menengoknya." tanpa aba-aba lagi Elang langsung mencium Hafsa dengan lembut dan membawanya ke ranjang.
__ADS_1
Setelah itu terjadilah Elang untuk menengok anaknya yang masih di dalam perut.