
"Baiklah tunjukkan padaku!." kata Elang akhirnya.
"Ikut aku!" kata Diana segera berbalik dan tersenyum miring.
Kini mereka berjalan cepat untuk sampai di tempat tujuan.
Sampailah mereka dimana Hafsa berada dikamar itu bersama seorang pria.
"Di sini kamarnya!" ucap Diana menunjuk dengan dagunya.
"Kau yakin." tanya Elang memastikan.
"Aku yakin sekali." jawab Diana mantap.
Lalu di bukanya kenop pintu tapi ternyata di kunci.
"Dobrak saja Lang." perintah Diana.
Tanpa pikir panjang Elang langsung menendang pintu itu dan seketika pintu itu langsung terbuka.
Mereka berdua pun langsung masuk, Diana yang sangat antusias sekali ingin melihat kemarahan dari wajah Elang.
Setelah masuk, seketika pemandangan di depannya membuat terkejut bukan main karena memang Hafsa sedang tertidur di pelukan seorang pria dengan hanya memakai selimut berdua pria itu tidak lagi memakai topi dan masker jadi terlihatlah wajah pria itu.
Namun kini bukan Elang yang terkejut karena pemandangan itu dia malah tersenyum tipis.
__ADS_1
Sedang Diana tak mampu berkata-kata matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka karena dia begitu terkejut dengan yang ia lihat.
Dia pun melirik di sampingnya, wajah Elang yang tersenyum miring padanya.
"Ke-kenapa ada dua Elang?." ucapnya dengan terbata.
Karena ternyata pria yang bersama Hafsa juga adalah Elang namun yang mana yang asli tentu saja yang bersama Hafsa karena Elang tidak mungkin membiarkan pria lain menyentuhnya.
Lalu siapa pria yang di sebelah Diana?
Dua Elang itu tersenyum miring, kemudian Elang yang di samping Diana mengangkat kedua tangannya ke kepala, hal mengejutkan pun terjadi karena ternyata orang itu memakai topeng yang menyerupai wajah Elang dan di balik topeng itu adalah Galang pengawal pribadi Hafsa.
"Bagaimana? apa kau terkejut?." ucap Elang dengan senyum miring.
Diana tak mampu berkata-kata dengan kenyataan yang ada.
Ya sebenarnya Elang sudah menebak pikiran Diana yang ingin merusak rumah tangganya bersama Hafsa tapi dia mengikuti saja permainan Diana.
Elang juga yang telah menyuruh pria sewaan Diana untuk pergi dan mengambil uangnya, rupanya meski Meliana sempat bingung tapi untungnya dia tidak teliti jadi penyamaran nya tidak terbongkar.
Dan waktu dia menemui relasi nya dia juga mengawasi Hafsa, Elang juga tau bahwa Diana lah yang memberikan obat tidur, segera saja dia bertukar peran dengan Galang yang sudah menyamar menjadi dirinya.
Alhasil Diana terjebak dengan permainan nya sendiri.
Diana tertunduk takut, sudah di pastikan Elang tidak akan membuatnya lolos begitu saja.
__ADS_1
"Maafkan aku Elang, aku terpaksa melakukan ini. Aku.. aku.. masih mencintaimu dan aku sangat iri dengan wanita itu yang mendapatkan kasih sayang yang lebih darimu juga telah mengandung anakmu."
"Elang berikan aku kesempatan meski aku harus menjadi yang kedua tidak apa-apa asalkan aku bisa hidup bahagia denganmu dan aku juga bisa mengandung anak untukmu. Tolong Elang maafkan aku, aku menyesal telah meninggalkanmu." ucap Diana panjang lebar sambil bersimpuh di kedua kaki Elang.
"Aku yakin kau juga masih menaruh rasa padaku kan, ingat Elang kebersamaan kita dulu adalah momen yang sangat indah, jangan lupakan itu." Diana terus saja berucap dengan begitu yakin jika Elang akan berpihak padanya.
Padahal kebenaran nya Elang merasa muak mendengar ocehan Diana yang tak berguna itu dia sudah menahan rasa sabar, di kiranya di diamkan nya Diana dia akan merasa bersalah dan terus meminta tetapi dugaan nya salah Diana malah semakin menjadi.
Galang yang mendengarnya pun merasa malas ingin sekali di tendangnya Diana dari sini jika tidak ada Elang, dia juga sebenarnya sudah menahan diri agar tidak menghakimi Diana yang tak tau malu itu.
"Elang... aku juga...!"
"Cukup Diana...!" bentak Elang langsung menghentikan ucapan Diana.
Diana begitu terkejut hingga bahunya berjingkat mendengar bentakan Elang sedang Hafsa sama sekali tak terganggu karena dia masih dalam pengaruh obat tidur.
"Sudah cukup aku mendengar semua ocehan mu yang tidak berguna itu, satu hal yang harus kau ingat. Kau... adalah masa laluku yang ingin sekali aku punah kan dan aku sangat menyesal telah mengenalmu dan menyukaimu dan aku juga sangat tidak sudi untuk melihat wajahmu lagi." Elang berhenti sejenak lalu kembali berucap.
"Galang." panggilnya pada Galang.
"Saya tuan." dengan sigap Galang menjawab.
"Bawa wanita ini dan temannya ke dalam hutan dan tinggalkan mereka." titah Elang dingin.
Diana tentu saja terbeliak kaget, Elang benar-benar marah padanya dan tidak ada rasa simpatik sama sekali bahkan menatapnya pun tidak.
__ADS_1
"Elang, aku mohon jangan tolong maafkan aku." Diana kembali bersimpuh namun Elang langsung menghindari nya.
Galang pun dengan sigap mengangkat Diana yang tidak mau bangun, di paksa nya Diana yang terus memberontak dan memohon pada Elang.