
"Permisi... selamat pagi!" suara kencang seorang wanita paruh baya ditemani dengan gadis remaja sedang memanggil penghuni rumah sederhana dikawasan perumahan.
"Permisi...!" wanita itu terus memanggil sang penghuni yang belum kunjung keluar.
"Mah tidak ada orangnya mungkin." ujar gadis remaja itu sambil melirik ibunya.
"Ada Sesil, setidaknya pelayannya ada.!" jawab ibunya yang ternyata ibunya Sesil, Rahma.
Mereka mendatangi rumah yang dikira tempat Hafsa bekerja, Rahma begitu yakin jika Hafsa tinggal dan bekerja disini.
Tak berapa lama seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dari penampilannya bisa ditebak bahwa wanita itu adalah pelayan dirumah itu.
Wanita itu mendekati Rahma dan Sesil dengan wajah datar tak ada senyum diwajahnya sedangkan Rahma dan Sesil sudah memasang senyum saat pintu dibukakan.
"Ada apa?" tanya wanita itu tanpa membukakkan pintu gerbangnya.
"Eh... perkenalkan nama saya Rahma dan ini anak saya Sesil."
"Saya tanya ada apa? bukan tanya nama kalian." Wanita itu langsung memotong ucapan Rahma yang belum selesai dengan nada ketus dan sedikit tinggi membuat Rahma dan Sesil terkejut.
"Eh.. tapi boleh tidak gerbangnya dibuka dulu." ucap Rahma karena dirinya menganggap seperti orang yang minta sumbangan pada setiap rumah.
"Tidak perlu, saya tidak membukakkan pintu untuk orang asing." jawabnya langsung dengan ketus.
__ADS_1
Dalam hati Rahma mencibir, 'Sombong sekali baru jadi babu saja belagu.'
"Cepat saya tidak punya banyak waktu." sentak wanita itu dengan kasar.
"Iya.. iya saya kesini untuk mencari anak saya yang bekerja disini namanya Hafsa, boleh tolong panggilkan dia." dengan entengnya Rahma berbicara meyakini bahwa Hafsa ada disana.
Wanita itu mengerutkan keningnya membuat wajahnya tampak semakin galak.
"Yang bekerja disini hanya ada dua saya dan suami saya tidak ada pekerja lain." jawab wanita itu ketus.
Memang tidak ada ramah-ramah nya wanita itu dari wajah saja sudah terlihat judes dan galak.
"Benarkah, apa anda yakin?" tanya Rahma lagi kurang puas.
"Lebih baik kalian pergi sebelum saya teriaki maling." ucap wanita itu lagi dengan tajam.
Rahma dan Sesil tentu saja takut diancam begitu dengan berlari kencang mereka menjauhi rumah itu.
*****
"Sialan anak itu membohongi kita." ucap Rahma dengan amarah.
"Apa aku bilang mah, aku tidak yakin kalau itu tempat kerja si Hafsa." jawab Sesil disamping ibunya.
__ADS_1
Kini mereka ada di rumah makan kecil masakan Padang beristirahat demi melepas lelah karena berlari tadi.
Lalu seorang pelayan menghampiri mereka, yang ternyata adalah Nina pekerja yang dipecat secara tidak hormat dikeluarga Rahardian tempat Hafsa bekerja.
"Mau pesan apa?" tanya nya dengan malas.
"Air putih pakai es dua cepat!" jawab Rahma tanpa menoleh.
"Air putih saja miskin sekali." ujar Nina sinis langsung melenggang pergi.
Mendengar itu Rahma dan Sesil mendongak menatap pelayan tidak sopan itu.
"Hey, suka suka ku lah aku mau pesan apa!" jawabnya dengan nada tinggi tapi Nina tidak peduli.
"Mah udah, malu diliatin orang." Sesil menenangkan Rahma yang hendak bangkit karena mereka kini menjadi pusat perhatian.
Rahma kembali duduk dan mengatur nafasnya.
"Ini semua gara-gara si Hafsa kalau saja dia tidak mengerjai kita, kita pasti sudah ada dirumah mewah itu dan menyantap makanan yang enak." ucap Rahma menggebu.
Nina yang datang dengan membawa minuman dingin itu berhenti tatkala nama Hafsa disebut.
"Ini minuman kalian." Nina langsung menyodorkan minuman itu dengan kasar kehadapan Rahma dan Sesil serta langsung pergi tanpa peduli.
__ADS_1
Rahma kini kembali dongkol tapi langsung ditenangi oleh anaknya.