Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 71


__ADS_3

Hafsa bersungut-sungut didalam kamar mandi karena dirinya gagal menggoda Elang.


"Sialan, kenapa susah sekali menggodanya? padahal sudah semua hal aku lakukan." tambahnya terus bersungut tiada henti sambil memandang cermin.


Ya Elang malam itu memang tidak menyentuh Hafsa sama sekali karena dia merasa tidak nyaman dengan Hafsa sekarang apalagi jika perempuan itu yang mulai duluan, entah mengapa Elang merasa ilfil belum lagi aroma tubuh yang berbeda darinya.


Jangan salah meski Elang buta tapi dia bisa membedakan sifat seseorang melalu aroma tubuh dan cara bicaranya jadi sebelum Elang memastikan sesuatu dia tidak ingin menyentuh Hafsa.


Jadi dia beralasan lelah malam ini dan memilih lebih cepat tidur, alhasil Hafsa sangat kesal malam itu.


"Kau ini, aku kira kau sudah menaklukan pria tampan yang buta ini tapi ternyata kau tetap tidak berguna. cihh mukamu saja jelek begini mana bisa kau menaklukannya. Hem.. kenapa juga aku harus memakai wajahmu yang jelek ini." sambil membuka topeng wajah dengan berusaha.


"Hah lega rasanya, topeng menyebalkan." ternyata wajah di balik topeng itu adalah Sesil adik tiri Hafsa sendiri.


Karena mereka telah menjalin kerja sama bersama Satria tempo dulu dan Satria menyuruh Sesil untuk menjadi Hafsa dengan memakai topeng wajah yang sangat persis dengan Hafsa dan topeng itu telah dibuat khusus oleh Satria jauh-jauh hari.


"Kalau bukan karena bayaran yang tinggi dan bisa dekat dengan Elang, aku tidak mau seperti ini melelahkan." ucapnya mengumpat kesal.


"Ahh lebih baik aku berendam sepertinya enak." Sesil kemudian menyalakan air di bathup dan menanggalkan semua pakaiannya lalu berendam.


*****


"Sayang kau sudah siap!" Sinta merangkul lengan Hafsa saat mereka sudah siap semua.


"Siap Bu." jawab Hafsa tersenyum biasa.


"Ayo Elang, Rey." Sinta juga memanggil Elang dan Rey yang dibelakangnya untuk mengikuti langkah mereka.


Karena hari ini mereka ingin mengunjungi makam ibunya Hafsa, untung Sesil tau tempatnya karena sudah dua kali dia pergi ke tempat itu meski dengan terpaksa menuruti kemauan ibunya yang sedang cari muka dengan ayah Hafsa.


Mereka pun memasuki mobil dengan di dampingi bi Rum, bi Rum juga membantu membukakan pintu untuk nyonya Sinta.


"Terimakasih bi Rum, jaga rumah baik-baik." kata Sinta sebelum pamit dan sudah masuk mobil.


"Sama-sama nyonya dengan senang hati nyonya rumah nyonya aman bersama saya." jawab Bi Rum menundukkan kepala.


Sinta hanya tersenyum membalasnya kemudian mereka berempat pun pergi.


Dibalik dinding Rahma melihat kepergian mereka dengan tersenyum senang.

__ADS_1


"Akhirnya kau bisa mendekati Elang nak, mamah yakin suatu hari nanti kau juga pasti bisa merebut semua ini." ucapnya yakin dengan tersenyum smirk.


"Beruntung juga mengenal pria itu." lanjutnya.


Lalu saat hendak berbalik dirinya terkejut bukan main karena dibelakangnya sudah ada bi Rum dengan tatapan datarnya.


"Astaga bi Rum, bikin kaget saja." ucap Rahma spontan sambil memegang dada.


"Sedang apa kau disini?" tanya bi Rum.


Rahma gelagapan dia pun menjawab asal, " Aku sedang mencari marmut, tadi lari kearah sini tapi tidak ketemu."


"Marmut, kau punya peliharaan." tanya lagi bi rum dengan ekpresi dingin.


"Iya aku punya." dengan terpaksa Rahma menjawab iya padahal dirinya membenci peliharaan apapun itu.


"Kalau begitu perlihatkan padaku."


Rahma tambah terkejut karena ternyata Bi Rum malah meladeni alasannya dalam hati sudah bikin kaget kepo pula.


"Kan aku sudah bilang dia hilang dan sekarang sedang aku cari." jawab Rahma kesal.


"Hah ya ampun dasar orang tua kepo, sekarang apa yang harus aku lakukan? hah harus beli kan jadinya ini." Rahma menyesal karena alasan ambigu nya itu tapi harus dia lakukan karena kalau tidak dirinya akan ketahuan.


Sekarang Rahma jadi terburu-buru karena dia hanya diberi waktu selama satu jam. Padahal bi Rum tau jika Rahma tidak punya peliharaan dan dia hanya ingin mengerjainya saja.


*****


Merekapun sampai ditempat tujuan, Sesil agak linglung karena tempatnya sudah berbeda, lebih rapi dan terawat berbeda waktu dia berkunjung 10 tahun yang lalu yang masih berantakan dan tidak tersusun rapi dan sekarang dia jadi bingung sendiri dimana makam ibunya Hafsa.


"Dimana tempatnya nak!" tanya Sinta melihat Hafsa yang terdiam.


"Ahh dimana yah! aku bingung." jawab Sesil dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa kau tidak pernah mengunjungi makam ibumu." tanya Sinta heran.


"Bukan, setauku makamnya bukan seperti ini ini lebih terawat dan rapi." jawab Sesil.


"Memangnya terakhir kau datang kesini kapan?". tanya Sinta.

__ADS_1


"Sudah se.. ah setahun yang lalu." hampir saja Sesil hendak menjawab sepuluh tahun.


"Jadi mungkin ini sudah dirombak." tambahnya lagi.


"Oh ya sudah nama ibum siapa? biar kita cari."


Pertanyaan itu membuat otak Sesil bekerja keras pasalnya dia tidak terlalu mengingat nama ibu Hafsa itu tapi dia sudah diberi tahu oleh Rahma.


"Namanya Riyanti Bu." jawab Sesil setelah ingat.


"Binti."


"Binti Hartono."


"Oh oke Elang, Rey kita cari nama Riyanti binti Hartono yah!".


"Baik nyonya." jawab Rey namun Elang diam saja.


Merekapun berjalan mencari makam itu, entah mengapa Elang malas sekali berjalan kali ini tapi karena dia juga ingin bertemu dengan mertuanya jadi dia harus melakukannya dan yang anehnya dipikiran Elang adalah meski pemakaman ini sudah direnovasi setidaknya dia ingat dimana tempat dimakamkan ibunya sendiri.


Setelah lama mencari alkhirnya mereka menemukan kuburannya dan diatas kuburan ada sebuah taburan bunga yang terlihat masih segar.


"Nak, siapa sudah kesini? sepertinya bunganya masih segar seperti baru kemarin atau dua hari yang lalu." ucap Sinta sambil menyentuh dan mencium bunganya.


Sesil kembali gugup ada saja yang membuatnya terus berfikir keras.


"Mungkin itu bapak Bu, karena dia sering sekali mengunjungi makam ibu." jawab Sesil ingat Anton ayah tirinya.


"Oh... yasudah Elang, Rey ayo kita mulai."


Tanpa berbasa basi lagi mereka melakukan doa dengan dipimpin oleh Elang.


Mereka juga menaburi bunga dan air mawar untuk makam itu.


Elang dan Sinta juga sedikit berkata-kata untuk perkenalan dan Sesil pun begitu dia terbata saat berucap dimakam ibu saudari tirinya.


Dia merasa gugup dan takut sendiri karena saat ini dirinya adalah Sesil bukan Hafsa.


Setelah semua selesai mereka berempat memutuskan pulang sebelum menyiapkan semua prosedur operasi untuk Elang yang akan dilakukan hari ini juga karena Elang yang memintanya dia ingin secepatnya dan tidak ingin menunda lagi.

__ADS_1


Rey mengantar Hafsa dan Sinta terlebih dahulu namun Elang tidak dia lebih memilih mengikuti Rey untuk persiapannya.


__ADS_2