
"Tuan.. awas ada kecoa." teriak Hafsa seketika yang mana membuat Elang langsung beranjak duduk dan kesempatan itu diambil oleh Hafsa untuk kabur dari kungkungannya.
"Kecoa.?" Elang mengerutkan alis ketika sadar dirinya dibohongi karena mana mungkin dikamarnya ada binatang menggelikan itu.
"Dasar kau, beraninya menipuku?" kata Elang marah, hasratnya kini terpendam tapi dirinya merasakan pada tubuhnya yang terasa ringan dari hari ke hari tidak berat seperti kemarin-kemarin.
"Maaf tuan, aku tidak tau tuan becanda atau serius tapi yang pasti kita tidak boleh melewati batas karena kita hanya menikah diatas kertas dan aku tidak mau melakukan itu walaupun kita sah suami istri." ujar Hafsa menundukkan kepala lirih takut melihat kemarahan Elang.
"Siapa juga yang ingin menyentuhmu? aku tadi hanya bermain-main jangan terlalu percaya diri aku ingin melakukannya." elak Elang tak mau mengakui padahal dia sendiri bingung kenapa tadi dia begitu ada hasrat ingin menyentuh gadis itu.
"Baguslah kalau tuan berfikiran seperti itu, jadi kalau kita sudah selesai aku masih perawan tapi berstatus janda." kata Hafsa terkikik sendiri dengan perkataannya sendiri.
'Tidak akan kubiarkan kau menjadi perawan berstatus janda.' ucapnya dalam hati tanpa sadar.
"Sudah, cepat siapkan mandi untukku." ucap Elang menyudahi.
__ADS_1
"Baik tuan, oh iya seperti biasa ya tuan, tuan akan melakukan terapi karena semakin sering maka tuan akan semakin sembuh dan dua hari lagi dokter akan kesini untuk memeriksa tuan." setelah berkata seperti itu, Hafsa bergegas menyiapkan mandi untuk suaminya.
Sedangkan Elang bergumam sendiri setelah kepergian Hafsa.
"Apa yang terjadi denganku? kenapa juniorku bisa menegang, sudah lama dia tertidur. Apakah sebentar lagi aku akan sembuh? Baguslah aku sudah lelah sekali duduk dengan kursi roda."
****
Sedangkan ditempat lain Melati dan Rey yang tidur satu sofa bersama dengan Rey yang berada di bawah dan memangku Melati diatasnya.
Rey mengerjapkan matanya perlahan karena merasa berat pada beban tubuhnya dan tangannya terasa kaku, setelah sadar sepenuhnya dia terkejut siapa yang telah menindihnya karena reflek dia langsung bangun dan berdiri sehingga membuat Melati ikut bangun juga.
"Aduh kepalaku.!" kata Melati yang terpaksa bangun.
"Hey, bangun ini sudah siang, mau sampai kapan kau tidur disini." suara Rey menyadarkan Melati yang langsung duduk.
__ADS_1
Melati mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ternyata dirinya masih berada diruang kerja Rey hingga pagi menjelang.
"Mati aku, apa aku ketiduran disini." gumamnya pelan.
"Tuan, kenapa tidak membangunkan ku?" tanya nya pelan.
"Kau begitu pulas tertidur sehingga aku pun ikut tertidur disini." Rey langsung diam menyadari perkataannya.
"Apa...? tuan juga tidur disini.!" ucap Melati tak percaya.
"Kata siapa? aku salah bicara yang benar aku tidak mau membangunkanmu jadi aku meninggalkanmu disini." elaknya memalingkan badan dan wajahnya.
Mata Melati menyipit melihat keadaan Rey yang berantakan seperti bangun tidur dan dirinya melihat jas yang teronggok dilantai karena ikut terjatuh tadi.
"Lalu ini jas siapa? dan tuan juga tidak rapih, terus kenapa tuan pagi sekali kesininya?." pertanyaan beruntun yang diberikan Melati kepada Rey membuatnya kelabakan dan gugup.
__ADS_1
Sungguh baru kali ini Rey bersikap tidak tenang dan gugup seperti itu hanya terhadap gadis ini. Padahal dalam sesuatu segenting apapun Rey tetap bisa menguasainya dan tetap tenang.
"Itu jasku yang tertinggal dan aku terburu-buru datang kesini karena ada suatu hal yang penting dan aku baru bangun tidur langsung kesini dan ternyata kau masih tidur." jawabnya berusaha tenang namun tetap saja terlihat kegugupan diwajahnya.