
'Ya Allah tolonglah aku malam ini, kenapa perasaanku mendadak menjadi tidak enak.' batin Hafsa bergejolak karena sejak tadi jantungnya selalu berdebar.
"Kenapa kau malah berdiri saja? cepat bantu aku lepaskan ini." perintah Elang karena tidak mendengar pergerakan istrinya.
'Kenapa dia tambah manja sekarang? membuat kesal saja.' lagi-lagi Hafsa menggerutu dalam hati.
"Iya tuan." mau tak mau Hafsa harus menuruti perintah dari suaminya.
Dia mendekat kemudian melepas kancing kemeja satu persatu.
"Tuan, bukannya ini mudah tuan bisa melepasnya sendiri kan." cicit Hafsa tak menatap Elang.
Elang tersenyum kecil kemudian mengangakat dagu Hafsa untuk menghadapnya.
"Memangnya kenapa jika aku menyuruh istriku sendiri yang melakukannya." ucap Elang tiba-tiba nafasnya terdengar memburu.
Dia kemudian menyentuh bibir tipis Hafsa dengan sentuhan yang lembut dan hal itu tentu saja membuat darah keduanya berdesir.
Mereka baru menyadari kenapa tiba-tiba terasa panas dan tubuh mereka seperti ingin mengeluarkan hasrat tapi mereka masih menahannya.
'Ada apa ini, kenapa rasanya tubuhku sangat panas.' batin Elang dengan wajah memerah dan nafas yang turun naik.
'Ya ampun kenapa dadaku makin berdetak seperti ada sesuatu yang ingin tersalurkan tapi apa ya? aku tidak tau.'Hafsa juga merasakannya tapi dia tidak mengerti perasaan ini tertuju kemana.
'Sial, siapa yang telah melakukan ini? jangan harap dia bisa selamat.' ucap Elang lagi menahan emosi dan hasrat.
"Tuan, sepertinya aku sakit badanku mendadak panas dan gemetaran." ucap Hafsa menunjukkan ketidak nyamanan nya.
__ADS_1
"Badanmu panas." ulang Elang.
"Iya, tapi aku bingung ini seperti minta sesuatu dikeluarkan." ungkap Hafsa polos.
Elang tersenyum tipis, ternyata bukan hanya dirinya yang kena istri kecilnya juga menjadi tujuan, jadi dia bisa menyimpulkan siapa yang melakukan ini.
"Aku tau obatnya." kata Elang kembali dengan nafas berat.
"Apa tuan?"
"Mendekatlah."
Hafsa mendekat lagi namun Elang mendudukkannya langsung dipangkuannya, kemeja yang belum selesai dilepas hanya bagian atasnya saja sudah menampakkan dada bidang Elang yang seksi dan Hafsa melihat tiba-tiba saja dia mendadak menjadi ingin menyentuhnya.
Tangannya tanpa perintah menyentuh lembut dada Elang yang terekspos sehingga membuat Elang semakin berhasrat, dia memejamkan matanya merasakan sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan istrinya.
"Lanjutkan saja." bisik Elang sensual ditelinga Hafsa.
Mendengar itu otaknya ingin menolak namun nalurinya tetap memaksa jadi akhirnya dia meraba kembali dada bidang itu dengan lembut bahkan dia merabanya sampai bawah membuat Elang semakin tidak tahan.
Elang mengangkat kepala Hafsa sehingga wajahnya saling berhadapan kini nafas keduanya memburu dengan mata yang berkilat menunjukkan hasrat yang ingin tersalurkan.
Elang kembali menyentuh bibir tipis Hafsa dan meraba pipinya, sudah cukup tanpa aba-aba Elang langsung mencium bibir itu dan memagutnya dengan lembut hingga menimbulkan sensasi yang sangat nikmat.
Elang juga mengulum bibir atas dan bawah secara bergantian, dengan nafas yang memburu Elang terus menikmati bibir itu mengulum dengan lembut dan menuntun lidahnya untuk bertemu lidah Hafsa, meski terkejut dan tidak pernah namun Hafsa berusaha mengimbangi Elang jadi dia membuka mulutnya lalu terjadilah adu lidah.
Elang kemudian menghentikan ciumannya dan keduanya mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Elang kemudian berusaha berdiri dibantu dengan Hafsa menuju ranjang dan mereka kembali memulai kegiatannya dengan aktifitas yang lebih panas.
*****
Didalam kamar nyonya besar yaitu nyonya Sinta sedang berbincang dengan bi Rum.
"Semoga saja setelah ini, aku mendengar kabar baik dari mereka." ucap Sinta tersenyum.
"Semoga saja nyonya, tapi aku yakin mereka pasti sedang melakukannya." jawab Bi Rum tersenyum kecil.
"Ya mereka pasti sedang melakukan, aku melihat sendiri mereka meminum minuman itu, ada untungnya juga aku banyak mengundang orang." terang Sinta menerawang kejadian yang sudah berlalu.
flasback on
"Bi rum berikan minuman ini kepada Hafsa dan Elang dan pastikan mereka meminum ini." perintah Sinta memberikan sebotol ramuan pada bi rum yang ternyata ramuan itu adalah ramuan perangsang.
"Baik nyonya, akan aku pastikan mereka meminumnya." jawab Bi rum tegas.
"Terimakasih bi Rum, kau memang selalu bisa diandalkan." tukas Sinta tersenyum sambil menepuk pundak bi Rum.
"Sama-sama nyonya!" jawab Bi Rum tersenyum juga dan ketahuilah bi Rum hanya tersenyum kepada nyonya Sinta saja.
"Kalau tidak begini, sampai kapanpun aku tidak akan bisa mempunyai cucu." gumam Sinta pada dirinya sendiri.
Ya Sinta sengaja memesan obat perangsang untuk mereka dipikir jika hanya satu yang di beri maka akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan maka dari itu dua-duanya saja yang diminumkan.
Tentang makan malam, mengundang Dewi dan Satria kepulangannya ini semua idenya karena dia mendapat semua kabar dari Bi Rum, tentang Elang, Hafsa bahkan Satria.
__ADS_1
Flasback of