
Diruangan Rey, Melati sedang menunggu Hafsa yang tak kunjung keluar dia mondar mandir di depan Rey membuat Rey pusing melihatnya.
"Melati, duduklah kau membuatku pusing." ucap Rey menyentuh dahi nya.
Melati kemudian berjalan mendekati Rey dan berdiri di sampingnya.
"Tuan Rey."
"Tuan Rey." Rey mengernyit mendengar Melati masih memanggilnya tuan.
"Eh, kak Rey kenapa Hafsa dan suaminya belum juga keluar lama sekali, mereka lagi apa sih? aku bosan menunggu." kata Melati dengan wajah ditekuk.
"Untuk apa kau tunggu? kalau sudah lama begini tidak usah menunggu mereka." timpal Rey santai mengerti dengan keadaan Elang di dalam.
"Memangnya mereka lagi apa?." Melati malah bertanya sesuatu yang tidak perlu di tanyakan.
"Jika sudah suami istri memangnya apa yang mereka lakukan." jawab Rey biasa saja.
"Aku tidak tau lah, masa kau tanya aku kau saja lihat mereka." jawab Melati kesal tidak paham yang di maksud Rey.
Rey menyentuh kepalanya sambil menggeleng, apakah calon istrinya itu benar-benar tidak mengerti.
Lalu detik kemudian Rey menarik pinggang Melati sehingga membuat Melati jatuh tepat di pangkuannya.
"Kak Rey." Melati terkejut karena Rey tiba-tiba menariknya.
"Kau ingin tau apa yang di lakukan mereka?." tanya Rey tersenyum tipis.
Melati hanya mengangguk, jantungnya berdegup saat matanya berhadapan dengan mata Rey yang tajam.
Kemudian Rey mendekatkan wajahnya tangannya sudah menyangga kepala bagian belakang Melati.
Melati menutup matanya dan Rey tersenyum bersiap untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan namun sebelum itu terjadi ponsel Melati berdering keras sehingga membuat keduanya kaget dan aksi itu pun gagal.
Melati langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfon dan ternyata dari orang tuanya.
"Ayahku menelfon." kata Melati memberi tahu Rey dan beranjak dari pangkuan Rey dan Rey hanya menghela nafas nya karena lagi-lagi dia gagal melakukannya.
"Assalamualaikum nak!". sapa ayah Melati dari kejauhan dan ibu nya terus menyenggol bahu suaminya supaya bergantian padahal baru diangkat.
"Waalaikum salam ayah, apa kabar ayah? ayah sehat kan." tanya Melati senang bisa berbicara dengan ayahnya.
"Ayah sehat nak, kau sendiri bagaimana?." jawab ayah dan bertanya balik.
"Aku juga sehat yah, sangat sehat lalu ibu bagaimana?." Melati juga ingin mendengar kabar ibu nya.
Ibu nya langsung merebut ponsel dari suaminya untuk menjawab langsung pertanyaan anaknya.
"Ibu sehat nak, bahkan sehat sekali dan ibu juga sangat senang karena kau sebentar lagi akan menikah ibu tidak sabar melihat mu jadi pengantin." ucap ibu nya heboh.
Melati menatap Rey dan Rey hanya bersikap cuek ternyata benar orang tuanya sudah mengetahui hal ini itu artinya ibu nya Rey sudah datang menemui mereka.
"Ibu, dari mana ibu tau?." tanya Melati untuk memastikan.
"Mertuamu, tiga hari yang lalu datang kesini dengan membawa banyak oleh-oleh ayah dan ibu sangat terkejut saat dia bilang ingin melamarnya untuk anaknya dan menceritakan semuanya." cerita ibu nya dengan antusias.
"Oh.. begitu." Melati hanya ber oh ria saja.
"Dan ibu sudah tau siapa calon mu, dia sudah pernah datang kesini menanyakan mu aku tidak menyangka bahwa dia adalah menantu.
"Apa? Kak Rey sudah pernah ke sana." ucap Melati tak menyangka jika Rey sudah pernah ke sana mau apa?.
__ADS_1
"Iya nak, jadi kalian kapan kesini.". tanya ibu Melati berharap Melati datang bersama Rey.
Melati menatap Rey seolah meminta jawaban melalui tatapan matanya, Rey langsung mengerti dan meminta ponselnya.
"Berikan padaku." pinta Rey mengulurkan tangannya.
"Mau apa?." Melati malah bertanya.
"Berikan saja." Melati pun memberikan nya.
"Halo ibu apa kabar? aku Rey." sapa Rey tersenyum seperti berbicara secara langsung.
"Hai... menantuku ibu sehat, kau sendiri." jawab ibu Melati heboh mendengar suara Rey, ayah Melati ingin berbicara juga namun terus di halangi istrinya.
"Aku sehat ibu,!" jawab Rey.
"Kalian sedang bersama kah? dimana? jangan berduaan saja belum halal itu berbahaya jangan sampai terjadi sesuatu yang diinginkan sebelum pernikahan." oceh ibu nya khawatir jika anaknya melakukan sesuatu.
Rey mengernyit namun tetap tenang dalam hati padahal dia ingin mencium bibirnya sekali saja yang membuatnya penasaran namun selalu saja gagal.
"Ibu tenang saja, anakmu sama sekali belum aku sentuh tetapi tidak tau jika sudah menikah." balas Rey menatap Melati dan Melati tersipu malu mendengarnya.
"Baguslah kalau begitu, oh ya jangan lupa kalian kesini jemput ibu dan ayah, yah!."
"Iya ibu, kalau begitu aku tutup telfonnya aku dan Melati ingin makan siang." kata Rey mengakhiri dengan sopan.
"Oh iya iya terimakasih nak Rey."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." telfon pun berakhir.
"Mereka mau makan siang kasian. Nih!" jawab ibu memberikan ponselnya pada suaminya dan melenggang pergi dengan santai sang ayah pun hanya bisa pasrah.
"Sudah, ayo kita makan siang!." kata Rey memberikan ponselnya pada Melati.
"Berdua saja, Hafsa dan tuan Elang bagaimana?." tanya Melati karena tadi bilangnya bersama kenapa jadi hanya berdua.
"Tidak apa-apa kita duluan saja. Ayo!." kata Rey kemudian menarik tangan Melati.
Akhirnya mereka pun pergi berdua saja tanpa Elang dan Hafsa. Rey mengajak Melati makan siang di restoran dekat kantor mereka.
Tempatnya cukup luas dan nyaman dan restoran itu sudah menjadi langganan tempat makan siang dari perusahaan Elang karena makanannya yang enak dan harganya yang terjangkau.
Rey dan Melati duduk di salah satu meja kosong dekat jendela, kemudian pelayan pun datang memberikan menu.
"Kau ingin makan apa?." tanya Rey pada Melati.
"Aku mau makan nasi, aku lapar dengan lauk ayam goreng jangan lupa sambalnya yang pedas." jawab Melati tanpa melihat menu.
Pelayan itu menahan senyum dengan jawaban polos Melati di kira warteg apa.
Rey juga hanya tersenyum gemas kemudian menyodorkan menu itu ke pelayan.
"Kami pesan dua nasi dan dua ayam penyet, minumnya jus jeruk saja sudah cukup."
"Baiklah, mohon tunggu sebentar." kata pelayan itu kemudian pergi.
Tak lama kemudian Meliana sendiri ke restoran itu untuk makan siang karena Dian dan Cici sedang ada urusan berdua.
Ketika masuk mata Meliana tertuju pada sekretaris Rey yang sedang duduk bersama Melati namun berhadapan tidak bersebelahan karena kursinya terdapat empat buah.
__ADS_1
Terbersit niat untuk mendekatinya karena Meliana pikir Melati bukan pasangannya.
Meliana sengaja memesan di kasir dan membawa makanannya ke meja Rey yang pesanannya sudah sampai.
Saat ingin menyuap Meliana sengaja menjegal kakinya sendiri sehingga makanan nya jatuh ke meja Rey.
"Ah..." Meliana pura-pura terkejut sedang Melati dan Rey yang benar-benar terkejut.
"Maaf tuan, aku tadi hampir jatuh." kata Meliana merasa bersalah.
"Lalu kau mau apa masih ada di sini?." dengan datar Rey bertanya.
"Eh... aku tidak kebagian tempat duduk, boleh aku duduk disini tuan." jawab Meliana yang melihat sekitar.
Melati ikut melihat sekitar, memang benar tempatnya penuh kebetulan sekali dia.
"Ya sudah duduk saja disini, disini masih kosong kok." Melati yang mengijinkan karena kasihan dengan menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Terimakasih kau baik sekali." ucap Meliana, namun Meliana malah duduk di samping Rey pura-pura tidak melihat yang di tunjuk Melati.
Melati hanya menggaruk kepalanya, kenapa malah duduk di samping Rey apa dia mau cari perhatian. Pikir Melati dan Melati hanya tersenyum.
"Tuan, maaf sudah mengganggu kalian makan." ucap Meliana pura-pura tidak enak.
"Tidak apa-apa santai saja." Melati yang menjawab sedang Rey hanya diam saja.
"Kalau begitu silahkan makan." lanjut Melati makan dengan nikmat tak mempedulikan siapa itu wanita di depannya.
Rey pun ikut makan namun dengan malas karena kehadiran Meliana yang tak di undang.
Meliana menatap Rey dengan curi-curi pandang dan berusaha mencari perhatian.
"Tuan ini tisu makan mu berantakan sekali." ucap Meliana ingin memberikan tisu dan ingin mengelapnya namun Rey langsung mengambilnya.
"Terimakasih, tapi aku tidak perlu tisu." jawab Rey cuek.
Segala macam cara bentuk perhatian telah Meliana lakukan tapi tanggapan Rey selalu cuek, hal itu tentu saja membuat Melati sangat heran.
Melati pun mengerti sepertinya wanita ini sengaja mencari perhatian Rey.
Melati pun mempunyai ide dia menyuapkan makanan pada Rey.
"Kak Rey ini makan." ucap Melati.
Rey pun menerima suapan dari Melati hal itu membuat Meliana bertanya-tanya.
"Maaf, kalian adik kakak so sweet sekali yah."
"Adik kakak kami ini sebentar lagi mau menikah tau." jawab Melati, rasanya wanita ini sangat tidak sopan sekali.
"Ah.. kalian akan menikah maaf aku tidak tau." jawab Meliana pura-pura bersalah.
"Ya tidak apa, lain kali jangan cari perhatian ya mbak cantik. Sekarang mbak cantik bisa pindah dari sini tuh disana ada kursi kosong." ucap Melati dengan tersenyum ramah menunjuk kursi memang ada yang kosong.
Meliana melihat nya kemudian tersenyum paksa, "Oh iya kalau begitu aku pindah, sekali lagi aku minta maaf."
"Ya ya ya." dengan malas Melati menjawab, Meliana pun pergi dari situ dengan perasaan gondok.
Sedang Rey dari tadi hanya diam saja membiarkan Melati mengusir wanita tidak diundang itu.
"Huh dasar tidak tau malu, Melati di lawan." ucap Melati kemudian dan Rey hanya tersenyum tipis.
__ADS_1