
"Eh ngomong-ngomong aku senang kau akan menikah, kenapa kau mendahuluiku?" ledek Satria tapi Elang menanggapinya dengan datar.
"Dan juga calonmu cantik juga, kau menemukannya dimana?" tanya nya lagi sambil menopang dagu.
Elang tidak mau menjawab karena memang dirinya sedikit gengsi jika menikah dengan seorang pengasuh tapi nasi sudah menjadi bubur dan itu tidak bisa dirubah.
"Hei, kenapa kau diam saja? apa kau tidak ingin menikah dengannya." Satria dapat melihat dari raut wajah datar Elang kalau pernikahan ini pasti bukan keinginannya.
"Baiklah, Elang boleh aku tebak? sepertinya ini bukan keinginanmu. Kalau begitu aku siap untuk menggantikanmu." ucap Satria lagi yang terus bicara.
Elang langsung bereaksi saat Satria mengucapkan 'aku siap untuk menggantikanmu' dengan menatapnya tajam.
"Kau banyak bicara ya Satria. Itu urusanku bukan urusanmu. Dan kau tidak perlu menggantikannya. Mengerti." ucap Elang dengan penekanan membuat Satria menggedikkan bahunya.
"Ayo Rey, bawa aku kedalam."
"Baik tuan muda." Rey langsung memutar kursi roda Elang untuk masuk kedalam rumah.
Bagi Rey pemandangan seperti ini sudah biasa karena menurutnya Satria bukanlah ancaman untuk Elang maka dari itu dia diam saja hanya jadi pendengar meskipun jawaban Elang selalu ketus dan wajahnya yang tidak menampakan senyum tapi itu tidak berpengaruh pada Satria karena Satria sudah tau sifat Elang sejak kecil.
Satria menggedikkan bahu acuh kemudian tanpa dipersilahkan Satria mengikuti Elang dan Rey kedalam.
****
"Hafsa... kau dari mana saja?" tanya Melati heboh sambil merentangkan tangannya.
'
"Melati, kau ini kenapa? heboh sekali.!" Hafsa menurunkan tangan Melati yang menghadangnya lalu berjalan pelan.
Melati mengikutinya, "Hafsa, apa benar kau akan menikah dengan tuan Elang secepatnya?."
Hafsa mendengus, "Dari kemarin kan juga aku sudah bilang kalau aku akan menikah, kenapa? kau baru percaya."
"Dan kau tau aku baru saja mencoba gaun yang membuatku ribet dan lelah." lanjut Hafsa.
"Hah... benarkah." Melati membuka mulutnya lebar-lebar saking tak percayanya.
"Mulutmu itu tutup, nanti kemasukan lalat baru tau rasa." Melati langsung menutup mulutnya saat Hafsa berkata begitu.
"Ah kau ini, tapi serius aku benar-benar tidak menyangka kau akan menikah dengan tuan muda Elang, meski dia buta dan lumpuh tapi dia tampan dan kaya, kau pasti senang." ucap Melati. Mereka sambil terus berjalan hingga kedapur.
__ADS_1
Hafsa berhenti dimeja makan para pelayan dan duduk diikuti Melati yang juga ikut duduk disampingnya dengan sangat antusias.
"Melati dengar yah! tampan dan kaya tidak mempengaruhi seseorang bisa hidup bahagia dan aku tidak terlalu banyak berharap dengan pernikahan ini." jawaban Hafsa membuat Melati menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Loh, memangnya kau tidak senang menikah dengan pria kaya dan tampan."
"Bukannya tidak senang," Hafsa kemudian menghela nafas sejenak. "Sudahlah aku juga bingung menjelaskannya. Aku ke kamar dulu, aku ingin istirahat." kata Hafsa kemudian meninggalkan Melati yang masih terbengong.
membuat Melati menggedikkan bahu nya.
****
"Kurang ajar, aku tidak akan membiarkan mereka menikah, Elang hanya milikku.!" ucap Diana didalam kamarnya.
Lalu masuklah seorang pria dengan memeluk Diana dari belakang dan mengecup lehernya dengan mesra.
"Ada apa sayang? kenapa kau marah-marah." ucap pria itu berbisik ketelinga Diana membuat Diana kegelian.
"Itu sayang, Elang akan menikah." jawab Diana dengan membalikkan tubuhnya.
"Kalau dia mau menikah, kenapa memangnya?" tanya pria itu, kini bibirnya beralih mengecup pipi Diana.
"Marcel kau ini, kalau dia menikah aku bagaimana kita tidak bisa menghasilkan uang lagi." jawab Diana kegelian.
Diana pindah duduk diranjangnya, "Itulah yang sekarang buat aku kehilangan harga diri, dia ingin menikah dengan seorang pengasuh kau tau dia merendahkanku. Aku tidak terima." oceh Diana dengan marah.
"Menikah dengan pengasuh. "Marcel mengernyit. Kemudian ikut duduk disamping Diana sambil memeluk pinggangnya "Apa seleranya sudah berubah sekarang?. Atau wanita itu sangat cantik."
Diana mendelik kesal, "Meskipun dia cantik tapi dia beda kelas denganku. Dia orang miskin dan sama sekali tidak ada apa-apa nya dibanding denganku. Tapi... kenapa Elang malah memilihnya?" oceh Diana panjang lebar.
Marcel tersenyum menggoda, "Sudahlah tak perlu ribut seperti itu, aku akan membantumu untuk menggagalkan pernikahan itu."
"Benarkah!" pupil mata Diana bersinar kala mendengar itu.
"Benar, tapi malam ini kau harus melayaniku dulu." ucap Marcel dengan suara serak, sejak tadi dia menahan gairahnya karena Diana memakai pakaian yang seksi membuatnya ingin melakukan sesuatu yang memabukkan.
"Apapun untukmu sayang." jawab Diana ikut terhanyut dengan rayuan Marcel.
Mereka pun melakukan kegiatan panas itu dengan penuh nafsu dan semangat.
****
__ADS_1
Hafsa membawa makan malam untuk tuan muda Elang kekamarnya karena Elang tidak mau makan dibawah.
Hafsa masuk dengan sudah dipersilahkan dirinya melihat Elang sedang menatap luar jendela, Hafsa mendekatinya perlahan kini ada rasa canggung yang menyelimuti hatinya saat dirinya akan menikah dengan Elang.
"Tuan, ini makan malam nya." ucap Hafsa dengan pelan.
Elang belum menjawab membuat Hafsa mengulang lagi.
"Tuan makan dulu yah, aku sudah siapkan makan malam untuk tuan."
Karena Elang masih tidak menjawab Hafsa pun berbalik ingin pergi saja meninggalkannya sendiri, tapi bel dia melangkah Elang sudah memanggilnya.
"Aku ingin membuat kesepakatan denganmu?" ucapnya tetap memandang jendela.
Hafsa berbalik, "Kesepakatan apa tuan?"
"Baca ini.!" Elang menyerahkan map pada Hafsa dan Hafsa menerimanya.
Kemudian Hafsa membuka map itu yang ternyata sebuah kertas yang banyak tulisannya, dirinya mengernyit saat membaca isi keseluruhan surat itu.
"Eh... tuan ini maksudnya apa yah?" tanya Hafsa tak mengerti.
"Kau bisa membaca bukan, kenapa masih bertanya? bodoh sekali kau." jawab Elang dengan ketus.
Hafsa mendelik kesal, saat Elang mengatakan dia bodoh tapi dia tetap tersenyum.
"Karena aku bodoh makanya aku bertanya tuan?"
"Heh... bagaimana mungkin aku mempunyai istri macam dirimu, kau tau aku sebenarnya tidak ingin menikah denganmu. Tapi ibuku yang memaksaku jadi aku memutuskan untuk menikah kontrak selama 1 tahun, setelah itu aku akan menceraikanmu. Kau mengerti." ucap Elang datar dan dingin.
Hafsa hanya melongo mendengarnya dia tidak sedih tidak juga senang hanya saja dia heran apa bisa pernikahan macam itu dia baru mendengarnya atau itu hanya keinginan Elang saja.
Tanpa berbasa basi Hafsa mengiyakan keinginan tuannya karena dirinya tidak mempunyai hak sama sekali, tapi dirinya ingat satu hal.
"Baik tuan tidak apa-apa! tapi apa aku boleh meminta syarat." ucap Hafsa membuat Elang bereaksi.
"Apa itu?"
"Em... selama satu tahun itu aku minta kita tidak bersentuhan secara fisik yah." jawabnya pelan-pelan takut menyinggung perasaan Elang.
"Heh hanya itu, itu tidak masalah bagiku karena aku pun tidak ingin menyentuhmu." jawab Elang setuju sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku setuju." Mereka pun berjabat tangan tanda setuju.
Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahan mereka? tapi yang dipikirkan Hafsa sekarang adalah hanya untuk melakukan tugasnya.